Membeli Wanita

Posted: February 14, 2011 in Kritik sosial
Tags: ,

Terbiasa dengan dunia digital dan maya yang dipenuhi dengan banjir dan luapan arus informasi yang sampai-sampai membuat kita kesulitan untuk menyaring dan mencernanya untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak, membuat kita seringkali mengahadapi “culture shock” katika berada di dunia tanpa sinyal.
Sinyal yang saya maksud di sini adalah koneksi internet dan sinyal telepon seluler secara sempit, yang membuat kita tidak telat informasi. At least, informasi mengenai orang-orang dekat, pekerjaan, keluarga dan keseharian kita. Culture shock itu saya alami ketika saya tiba-tiba, karena sebuah keperluan, harus berada di dunia tanpa sinyal. Terasing rasanya. Tidak bisa menerima dan mengirim pesan singkat (SMS) dan berkomunikasi dengan “dunia luar” juga ditambah tidak adanya penjual koran atau bahan bacaan bahkan setelah berjalan lebih dari 1 KM membuat “penderitaan” semakin lengkap dan sempurna.
Untungnya, bukan aku seorang yang mengalami “penderitaan” ini. Banyak juga yang senasib sepenanggungan. Reaksinya pun bermacam-macam. Perasaan senasib sepenanggungan ini melahirkan sebuah wahana baru untuk melakukan interaksi dan komunikasi dalam arti tradisionalnya namun justru yang sangat hakiki yang kadang tak terpikirkan ketika kita berada di dunia yang dipenuhi dengan sinyal yang sangat kuat. Bercakap-cakap dengan gayeng dengan berbagai materi pembicaraan.
Dunia baru kecil kami dimulai dengan percakapan empat orang, termasuk saya, yang paling muda dan menjadi pendengar yang baik. Mendengarkan para senior sharing berbagai hal. Kisah masa muda, pekerjaan, klenik dan petualangan sampai satu yang paling seru—cinta dan asmara. Yang ini yang paling asyik. Kisah cinta dan lika-liku laki-laki zadul (zaman dulu) yang mloka-mlaku dan laku-laku.
Dalam pembicaraan tentang lika-liku laki-laki yang mloka-mlaku mriko-mriki yang membuat para senior itu bisa laku-laku muncul satu pertanyaan yang membuat saya sangat tertarik untuk mendengar dan menggalinya lebih jauh dan dalam,”Hebat mana, saya atau dia?” Sekali lagi, konteks pembicaraan kami adalah lika-liku laki-laki dan cinta asmara tetapi di dalamnya tidak ada hal yang porno ataupun tidak pantas. Hanya sebuah penegasan tentang sejauh mana uang atau materi bisa dipakai untuk “membeli cinta” dan kelanggengannya. Sekali lagi, di sini saya tidak mengatakan membeli wanita atau perempuan karena secara pribadi saya bermazhab wanita BUKAN barang dagangan dan cinta memang TIDAK BISA diperjual belikan (meskipun secara praktis hal semacam itu terjadi dengan alasannya sendiri). Hanya mempertegas dan menginformasikan bahwa pelaku percakapan ini adalah all male. Teman-teman bisa memahami esensi pembicaraan ini dengan membaca keseluruhan tulisan ini secara utuh dan tidak meloncat-loncat.
Pertanyaan di atas diikuti dengan “narasi” pendek,”Dia bisa mendapatkan yang dia mau (wanita) karena dia banyak uang. Saya bisa mendapatkannya tanpa uang”. Pertanyaan dan narasi pendek lanjutannya menggelitik hati saya. Saya bertanya,”Maksudnya bagaimana oom?” Begini,”Jawab si oom. “Kalau kita berpikir semua wanita bisa dibeli itu SALAH BESAR.” Memang ada, wanita-wanita tertentu, yang pemikirannya pendek dan sempit, menjadikan uang dan harta sebagai tujuan dan menjadikan dirinya sendiri sebagai “barang dagangan”. Tetapi TIDAK SEMUA seperti itu. Masih banyak yang tulus mencari dan memberikan cinta dan hatinya untuk laki-laki dan atau wanita yang tidak punya uang sekalipun. Karena dia dan laki-laki itu memang saling mencintai. “Sekarang coba perhatikan orang-orang berduit yang menganggap uang bisa membeli cinta wanita, itu kesalahan besar. Bukan cinta yang dia dapat, hanya nafsu dan pemenuhan hasrat seksual. Tidak lebih dari itu. Singkatnya,”Interaksi ini adalah transaksi yang motonya abang ada uang aku datang, abang tak ada uang ku tak sayang. Dipihak laki-laki berduit yang sesat pikiran dia mengatakan,”Kau datang ku bayar, setelah ku tak suka kau kubuang.” Apa itu cinta?”
Mana yang lebih hebat diantara keduanya? Apakah yang berduit dan berpikiran uang bisa membeli segalanya? Ataukah yang tak ber-uang (bukan beruang)? Yang kedua tentunya yang dipilih banyak orang. Tapi, kondisinya tentu bukan tak punya uang. Akan jauh lebih baik kalau ada uang (cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup) dan mendapatkan dan memberikan cinta dan kasih kepada pasangan dengan jujur, tulus dan ikhlas tanpa dinilai dan menilai dengan uang sebagai patokan utamanya. Cukup ada cinta, makanan, pakaian dan tempat tinggal untuk dinikmati dan dirasakan bersama. Tak benar kalau dikatakan tak punya uang adalah sumber kejahatan. Sumber kejahatannya adalah cinta uang dan mengejar “cinta” yang tidak dan bukan pada tempatnya baik secara halus maupun kasar dengan menggunakan uang.
Pelajaran dari obrolan di dunia tanpa sinyal ini adalah ketika kita mengangungkan uang dan melakukan berbagai cara (yang tidak sewajarnya) untuk mendapatkan uang dan kesenangan apalagi dengan mengatasnamakan demi kebahagiaan keluarga merupakan kesalahan dan kesesatan berpikir yang sangat dalam. Yang bisa dibeli uang hanya ranjang bukan ketenangan dan kenyamanan tidur. Money can buy a house but can not afford a home. Uang bisa membeli penjaga tapi tak berharga untuk membeli keselamatan. Uang bisa dijadikan alat untuk membeli pemuas nafsu tetapi tak laku untuk membeli cinta (kecuali cinta-cintaan).
Masih ada dua pelajaran penting dari obrolan di dunia tanpa sinyal yang menurut penilaian saya masih sangat relevan dari sisi pelajaran moralnya untuk kehidupan masa kini. Yang pertama adalah MAIN DI LUAR VS MAIN DI DALAM. Topik ini membahas pandangan tentang fenomena habit oknum bos yang banyak uang dan gemar “bermain” dengan anak buahnya. Dasar pertanyaannya adalah selingkuh mana yang indah? Yang kedua yaitu DIJILAT-MENJILAT. Yang ini topiknya sebenarnya adalah siapa yang suka menjilat dan dijilati. Apa motivasi penjilat dan yang dijilati. Juga, bagaimana cara menjilat yang seksi dan memuaskan yang dijilati (jangan ngeres yach).
Apapun namanya, ini adalah hasil obrolan di dunia tanpa sinyal dan merupakan opini pribadi. Akan jauh lebih bermanfaat kalau teman-teman mau memberikan opini mengenai topik pertama ini. Menurut teman-teman, mana yang lebih hebat diantara keduanya? Semoga ada cukup waktu untuk menulis dan share-kan topik kedua dan ketiga kepada Anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s