Archive for March, 2011

Ledakan bom di markas Jaringan Islam Liberal, yang sejatinya dikirim untuk Ulil Abshar Abdalla, pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL), tetapi meledak ketika “ditangani” oleh polisi yang mengakibatkan tiga personil baju coklat terluka, bahkan salah satunya harus kehilangan “sebagian” tangannya menyisakan pertanyaan,”Masih adakah ruang bagi perbedaan?” Perbedaan pandangan dan keyakinan dalam memahami agama, iman dan keimanan.
Agama, iman dan keimanan pada hakikatnya, harus diakui, sebagai hak mendasar setiap individu. Pada hakikatnya, semua orang berhak memiliki dan menganut paham dan pandangannya sendiri dalam menafsirkan agama dan iman. Semua bebas. Memang, tak bisa dipungkiri bahwa dalam “menafsirkan” dan “menghayati” sebuah ajaran iman, oarang tidak bisa lepas dari pedoman dan panduan—kitab suci.
Proses “menafsirkan” sebuah ajaran bukanlah proses yang bebas konflik maupun potensi konflik. Konflik itu bisa terjadi melawan diri sendiri bahkan melawan orang dan pihak lain. Ketika seseorang tidak memiliki cukup pengetahuan (?) untuk menafsirkan sebuah ajaran, dia bisa berputar-putar dalam pusaran yang bisa membuatnya semakin bingung. Parahnya, dalam kebingungan semacam ini, orang bisa memunculkan sebuah ajaran atau pemahaman baru mengenai dan dari sebuah ajaran. Potensi konflik juga sangat besar meletup menjadi konflik nyata secara fisik ketika di dalamnya ada kepentingan-kepentingan yang diusung. Kepentingan untuk menjadi yang superior di tataran sempit atau bahkan hegemoni dan dominasi terhadap kelompok lain dengan memperalat konteks mainstream sebagai single majority.
Harus diakui bahwa proses pemaknaan terhadap ajaran iman tidak bisa dilepaskan dari pengalaman walaupun harus disadari pula bahwa tidak sepenuhnya kalau kita menimbang ajaran iman berdasarkan pengalaman empiris. Ini adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa disangkali begitu saja. Orang bisa merasa Tuhan dekat ketika merasakan kebaikan langsung dari Tuhan. Tetapi sebaliknya. Pemaknaan seperti ini ada dalam semua penganut agama ataupun kepercayaan. Akan tetapi, tak selamanya dan semua umat melakukannya.
Bom Utan Kayu paling tidak, diantara sekian banyak kekerasan dengan mengatasnamakan (baca: memperalat) agama yang tidak hanya terjadi di negeri ini dan dilakukan oleh kelompok dari agama tertentu, adalah cerminan dari masih adanya ketidakarifan dalam menyikapi perbedaan. Tak bijak kalau peristiwa Utan Kayu kita jadikan sebagai dasar untuk menunjuk agama tertentu sebagai agama yang anti perbedaan dan anti toleransi. Bukan agamanya yang tidak dan anti toleransi. Bukan. Sang pelakunya. Semua agama selalu mengajarkan umatnya untuk menjadi rahmat bagi alam semesta dalam arti yang sesungguhnya yang di dalamnya juga mengakui adanya perbedaan dan toleran terhadap orang yang berpikiran dan berpandangan berbeda bahkan ketika orang atau sekelompok orang itu laksana sebuah kerikil kecil di dunia bebatuan.
Banyak sikap dan opini dinyatakan menyikapi peristiwa ini, mulai dari mengutuk dan bahkan menyalahkan pihak-pihak tertentu. Masalahnya adalah, cukupkah hanya dengan mengutuk dan menyalahkan pihak lain atas terjadinya peristiwa ini? Cukupkah kutukan, makian dan cercaan bisa menyelesaikan dan menjamin masalah ini tidak akan terulang kemudian hari? Atau, apakah kita memang sudah menjadi orang yang hanya bisa mengutuk dan menyalahkan orang atau pihak lain atas apa yang telah terjadi? Tak pernah cukup dan mencukupi hanya dengan menebar kutuk dan caci maki. Tidak!
Mungkin, akan lebih baik kalau kita tidak hanya bisa mengutuk dan menyalahkan tetapi bersimpati dan berempati sembari melakukan tindakan nyata—membina kerukunan dan toleransi bahkan menyikapi dengan arif perbedaan yang ada tanpa menggunakan kekuatan senjata. Memang, disadari sepenuhnya, tidak ada jaminan ketika kita melakukan tindakan nyata dalam bentuk simpati, empati dan toleransi, peristiwa semacam ini tidak akan terjadi lagi. Tidak ada jaminan! Paling tidak, dengan tidak mengutuk dan menyalahkan akan membantu menjaga suasana tetap bisa kondusif. Sekali lagi, tak ada jaminan bahwa peristiwa semacam ini tidak akan terjadi lagi dengan sasaran, alasan, pelaku, dan tempat yang berbeda.
Masih adakah ruang bagi perbedaan dalam hal yang sangat hakiki dan mendasar yang bisa mengakomodasi perbedaan yang ada dengan tanpa mengintimidasi dan membinasakan. Atau, apakah sudah sedemikian jauhnya kita melenceng dari jalan Tuhan ketika kita memaknai ajaran Tuhan sehingga membuat kita, dalam keangkuhan kita berani mengatakan bahwa orang atau pihak lain yang berbeda dengan kita memang harus dilenyapkan. Siapakah sebenarnya yang berhak menentukan bahwa kita adalah yang paling benar dan paling “lurus” sehingga yang tidak sepaham dengan kita adalah yang bengkok, menyimpang dan layak dilaknat?

Advertisements

“Jangan pilih yang itu. Itu tidak cocok buat kamu,” kami berkata kepada anak perempuan kami ketika mengantarkan dia membeli sepatu pada tahun ajaran baru. “Yang ini saja. Aku suka yang ini. Teman-temanku semua (?) pakai model seperti ini,”katanya menimpali saran kami. Ketika kami menunjukkan sepatu lain yang kualitasnya lebih bagus dan sesuai untuk dia serta harganya lebih mahal (kami tahu tipe apa anak kami dan ketahan sepatu yang selama ini dipakainya), dia tetap menolak. Keukeh. Akhirnya, mau tidak mau dan suka tidak suka, dengan sangat terpaksa, karena bisa memperkirakan umur sepatu semacam itu di kaki si kinestetik smart, kami memberikan uang dan memintanya membayar sendiri di kasir. Terpaksa.
Benar, tak sampai 3 bulan, sepatu itu rusak bagian “gesper”nya (sebenarnya kurang tepat kalau disebut gesper karena yang ada bukan pengait dari logam tetapi semacam kain dua sisi yang berperekat atau bahasa gampangnya kretekan. Fatal. Meskipun kondisi sol dan bagian lainnya masih bagus, tetap saja, karena pengaitnya yang rusak, sepatu itu menjadi tidak nyaman ketika dipakai. Kasihan.
Kubawa sepatu itu ke tukang sepatu di “desa” seberang. Kami minta bagian yang rusak itu diganti dengan yang baru. Diganti. Tapi, ya sama saja, umurnya tidak lebih dari 1 minggu. Rusak lagi. Tak nyaman lagi dipakai. Tak tega ketika melihat dia turun dari motor dan berjalan menuju gerbang sekolahnya dengan langkah kaki yang tak mantap seperti menahan sepatunya supaya tak terlepas. Aku tahu, bahwa dia merasa sangat tidak nyaman dengan hal itu. Aku tahu, tahu benar tentang hal itu. Kegelisahannya pun kutahu. Lagi, sekali lagi, iba melihatnya.
“ini saatnya memberi gadis kecilku pelajaran dengan menunjukkan fakta”, batinku berkata. Sepulang dia sekolah, segera kutanyakan kenapa dia tidak nyaman berjalan. Tak ada kata yang terucap. Aku tahu “ketakutannya” karena aku bapaknya dan yang membesarkannya. Segera kutunjukkan bahwa pilihannya (sepatu baru itu) baik tetapi tidak benar. Dia bisa menerima apa yang aku katakan tentang pilihannya. Aku hanya berpikir, orang dengan tipikal semacam ini harus diberi “kesempatan” untuk belajar dari pengalaman. Walaupun, kalau kita memakai logika dan hitung-hitungan matematika, tentunya rugi kalau membeli sepatu dengan harga yang tidak beda jauh dengan sepatu yang harganya sedikit lebih mahal tetapi dari sisi kualitas lebih baik dan sebenarnya cocok untuk kondisinya. Inilah yang oleh banyak orang dikatakan sebagai konsekuensi dari sebuah pilihan. Dia memilih sepatunya sendiri sesuai dengan keinginan hatinya. Salahkah? Tidak sama sekali. Tetap ada konsekuensi dari sebuah pilihan.
Akhirnya, aku mendapatkan momen yang tepat untuk mengajarkan sebuah nilai kepada gadis kecilku yang kinestetik smart itu. “Papa belikan kamu sepatu baru. Tapi kali ini papa yang memilih! Bagaimana?” Deal. Gadis kecil yang kinestetik smart itu setuju dengan kondisi yang aku ajukan. Kami mengatur waktu untuk membawa dia ke toko sepatu. Akhirnya, sepasang sepatu terbeli, tentunya sesuai dengan kondisi yang telah disepakati bersama.
Dari kasus sepatu baru ini ada beberapa hal yang saya pribadi bisa pelajari, terutama dalam kaitannya dengan menjadi diri sendiri dan menyikapi lingkungan di sekitar kita. Ketika kita harus memilih, memilih apapun juga, tentunya ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dan diperhitungkan. Ketika kita menentukan pilihan hanya karena semua orang melakukannya atau karena trend yang ada adalah seperti itu, kadang dan seringkali kita kehilangan satu sisi dari diri kita. Ketika kita menyikapi sesuatu hanya karena mengikuti “keinginan pasar” kita seringkali menjadi “salah jalan”. Mungkin, ketika mempertimbangkan untuk bertindak atas dasar “keinginan pasar”, kita sebenarnya hanya takut tidak diterima oleh “pasar”. Hanya itu. Hanya takut dianggap tidak solider, tidak CS, tidak loyal atau tidak-tidak lainnya yang orientasinya sangat sempit. Lalu apakah “keinginan pasar” tidak harus dipertimbangkan? HARUS. But, tentunya keinginan pasar tidak seharusnya membuat kita dengan sengaja membuang atau melupakan jati diri kita yang sebenarnya. “Keinginan pasar” sifatnya hanya temporer dan berubah dengan sangat cepat. “Keinginan pasar”, apalagi kalau orientasinya bukan profesionalisme tetapi individualisme dan perasaan tidak akan membuat kita menjadi manusia yang dewasa dalam arti sesungguhnya.
Mengetahui dan mencari tahu siapa sebenarnya diri kita dan apa yang kita butuhkan serta dapat kita berikan kepada lingkungan dan tempat kerja adalah hal lain yang bisa dipelajari. Pertanyaan yang bisa kita pakai untuk mengidentifikasi kebutuhan semacam itu salah satunya seperti ini,”Siapa aku sebenarnya di lingkungan ini? Betulkah aku memang membutuhkan (bukan hanya menginginkan) hal-hal seperti itu? Apa kontribusi yang harus dan bisa kuberikan untuk lingkungan ini? Apakah ukuran yang dipakai oleh komunitas di sini baik ataukah benar untuk menilai sesuatu? Pertanyaan lain yang bisa dipakai untuk membuat kita tetap bisa adaptif (bukan menjadi bunglon) adalah,”Siapa yang bisa dan layak diajak bertukar pendapat dan berdebat untuk mencari solusi atas masalah yang ada dan meningkatkan produktivitas kerja?”
Hal ketiga adalah menanamkan nilai-nilai yang benar melalui pendekatan yang tegas. Ketika mengatakan,”Papa belikan kamu sepatu baru. Tetapi kali ini papa yang memilih” sebenarnya saya sedang menanamkan sebuah nilai mengenai seringkali kita kurang menyadari adanya peluang untuk melakukan kesalahan. Ketika diingatkan pada fase-fase awal, kita cenderung menolak dengan berbagai dalih. Ada saja. Kita terpaksa harus menunggu orang-orang seperti itu “kejeduk” dulu baru kita bisa memasukkan dan menanamkan nilai-nilai lain selain nilai yang diyakininya benar. Buth pengorbanan, kesabaran, bahkan mungkin sedikit “luka”. Menunggu dan menentukan strategi adalah cara win-win untuk memenangkan “pertarungan” dengan orang-orang bertipe seperti ini. Belajar dari pengalaman, yang diperlukan.
Hal terakhir adalah, mengambil sebuah tindakan yang mungkin oleh banyak dianggap tidak populer dan otoriter. Dalam konteks-konteks tertentu, tindakan yang dikonotasikan semacam itu perlu diambil dan dilakukan. Apalagi ketika kita melihat dan mengetahui adanya potensi kerusakan yang lebih parah baik terhadap individu maupun lingkungan kerjanya. Tapi, memang seharusnya dan selayaknya, mengambil tindakan tidak harus menunggu datangnya musibah. Namun di sini konteksnya lain.
Ya, apapun namanya, ini hanya sebuah perenungan yang amat sangat sederhana dan jauh dari sempurna. Tentunya, kita memiliki nilai-nilai kita sendiri. Akan tetapi, nilai-nilai yang kita yakini dan kita anut selama ini kadang-kadang ada potensi salahnya juga. Saya pun menyadari hal itu sepenuhnya. Oleh sebab itu, akan jauh lebih indah kalau kita bisa saling bertukar nilai-nilai dan pandangan-pandangan kita yang konstruktif. Tak ada gading yang tak retak (kalau gajahnya memang masih hidup dan boleh diambil gadingnya), tak ada jalan yang tak berlubang dan berliku (tanyakan kepada DPU kenapa hal ini terjadi), tak pernah ada yang kaya seorang diri (karena monopoli bertentangan dengan undang-undang antimonopoli), dan tak ada superman (di Indonesia belum ada laki-laki yang cukup gila dengan berjalan-jalan di tempat umum sambil mengenakan CD di luar celananya), akan sangat bermanfaat kalau kita mau saling berbagi. Kita masing-masing memiliki “sepatu”. Mungkin tak perlu memberikan sepatu Anda kepada saya (takutnya kalau sepatu itu emang hanya satu-satunya), cukup ceritakan seperti apa (bentuk, ukuran dan baunya) “sepatumu” padaku supaya kutahu “rasa sepatumu”. Syukur-syukur, suatu hari kau merelakan “sepatumu” kupinjam sesaat (pasti ku kembalikan. Jangan takut!) supaya ku bisa belajar bagaimana rasanya ketika kau memakainya. Pinjam sepatunya dong. BOLEH?

Kaget juga ketika aku bertemu dengan tukang perahu yang siangnya perahunya kami pakai untuk berwisata. Berlayar di teluk pantai Perigi Tulungagung. Ternyata, dia tinggal di depan wisma tempat kami menginap. Sampai kini masih bisa kuingat jelas bentk tubuh, gaya bicara dan optimismenya. Jarang, jarang sekali ada orang yang bisa meninggalkan kesan begitu dalam bagiku. Sampai saat ini, hanya ada beberapa orang yang bisa meninggalkan kesan mendalam dalam hidupku—anak-anak, istri dan keluargaku. Ada sebab mereka begitu meninggalkan kesan mendalam dalam hidupku.
Tukang perahu, ya tukang perahu sederhana itu, yang akhirnya kuketahui lewat obrolan panjang kami di teras wisma ketika hujan mengguyur lebat bagai dicurahkan dari langit, usianya tak beda jauh dariku. Kesan dan pelajaran mendalam ditinggalkannya di dalam hati dan pikiranku sampai saat ini yang akan selalu kuingat dan kupakai dalam hidupku—tidak egois dan mementingkan diri sendiri.
“Ndak wes, luwih becik ora oleh duit tinimbang ciloko. Lek nyawaku dewe ora opo-opo. La kuwi, aku ora tegel ndelok bocah-bocah semono akehe. Lek ono opo-opo aku getun tenan. Ora wes. Bene ora duwe duwit ritek”. Sebuah ungkapan bijak dari orang sederhana. Terjemahan bebasnya sepeti ini,”Tidak, lebih baik aku tidak dapat uang daripada celaka. Kalau nyawaku sendiri (yang hilang) tidak masalah. Aku tidak tega melihat anak-anak sebanyak itu. Kalau terjadi apa-apa, aku akan sangat menyesal dan tidak bisa memaafkan diriku sendiri (karena anak-anak itu). Enggak mau. Tidak apa-apa tidak punya uang. Gak masalah”. Ungkapan itu dikatakannya ketika kami “menantangnya” untuk berlayar lagi besok. Beberapa kali kami “tantang”, bahkan dengan mengatakan dia kecil nyali (kalau orang salah memahami, ini bisa mengakibatkan pertengkaran karena dianggap menghina), jawabannya tetap sama “Ora” dan “Ben ora duwe duwit ritek”. Keukeh.
Sungguh orang yang dewasa dan tak mementingkan dirinya sendiri. penolakan ini bukan tanpa sebab. Siangnya kami sewa perahunya untuk berlayar di teluk pantai Prigi. Dan… kami terjebak badai. Angin dan gelombang menghempas perahu. Hujan mengguyur dengan lebat walau tak lama. Perahu tak bisa “diparkir” karena diseret angin sakal. Tak karam perahu dan penumpangnya sudah sangat bagus dan anugerah teramat besar.
Seandainya tukang perahu sederhana itu adalah orang yang egois dan “pandai melihat peluang”, maka dia akan menerima tawaran kami. Jumlah yang cukup lumayan bagi nelayan yang sudah lebih dari satu bulan tak bisa melaut karena hantaman cuaca ekstrim. Tak perlu berlayar sampai jauh ke tengah samudra. Hanya mengantar dan menunggu kami berenang beberapa jam. Selesai. Dapat uang pula. Tak perlu keluar biaya solar besar (saya tanyakan ke dia berapa habis solarnya untuk berlayar seukuran itu—tak lebih dari 10 liter). Seandainya dia orang tamak, dia akan memakai logika matematikanya. Ukuran kapal dan jumlah penumpang sangat berimbang. Perahu ini biasanya diawaki oleh 22 orang dewasa. Bisa memuat ikan tangkapan lebih dari 10 ton. Jumlah kami waktu itu, termasuk anak-anak, kurang lebih 30 orang. Tak lebih dari 10 ton. Apanya yang ditakutkan? Tak ada bukan? Itu kalau dia orang tamak dan terlalu ”pandai melihat dan memanfaatkan peluang”.
Ketika lebih jauh saya bertanya kepadanya, apa yang membuatnya “takut” (selain penumpangnya banyak anak kecil), angin yang dia takuti. “Nek ombak iso dihindari mas, tapi lek angin, ampun, ora ono sing iso. Iku kuasane “sing dhuwur”. “kalau ombak bisa dihindari (dia mengatakan bisa melihat ombak dan ke mana arahnya), kalau angin, tidak bisa. Itu kuasa Tuhan”. Memang, kondisinya pada waktu itu, kami diombang-ambingkan oleh angin. Beberapa kali aku mendengar derit dan gertakan suara kayu bergeseran dengan sesuatu. Sempat aku berpikir, tak mungkin dasar perahu ini menggesek batu karang karena dasar laut sangat dalam. Kami sudah ada di tengah teluk. Jawabannya adalah, derit dan gertakan ini timbul karena lambung kapal di hantam ombak. Baru aku menyadarinya. Kepikir juga, bagaimana kalau perahu ini pecah. Ngeri.
Dua kesan mendalam yang ditanamkan sang tukang perahu sederhana ini. Tidak tamak, peduli kepada keselamatan orang lain terutama anak-anak dan tahu siapa dirinya di hadapan Tuhan. Ada yang lebih besar dan maha besar yang mengatasi kemampuan manusia. Dia, Dia yang Maha Besar dan Pencipta segala sesuatu yang berkuasa dan berdaulat penuh atas ciptaanNya. Yang berhak menentukan hidup dan matinya ciptaanNya.
Pelajaran yang bisa kita ambil dari perspektif tukang perahu ini adalah, uang bukan segala-galanya. Keselamatan orang lain terutama anak-anak yang adalah penyambung generasi jauh lebih penting daripada uang, money, geld atau apapun namanya. Tidak terlalu mengandalkan rasio dan logika matematis adalah hal kedua yang bisa kita pelajari. Secermat-cermatnya logika matematika, tetap ada peluang untuk “meleset” apalagi ketika diperhadapkan dengan kekuatan alam, apalagi kekuatan Tuhan sang Maha Pencipta yang Maha Besar.
Tahu bahaya adalah hal ketiga yang bisa kita pelajari. Seringkali, ketika kita dalam kondisi dan keadaan senang, kita lupa dan tidak bisa melihat adanya potensi bahaya dalam berbagai bentuknya. Kesenangan dan kenikmatan yang sedang kita rasakan menutup mata bahkan mata batin kita sehingga kita tidak bisa bahkan (celakanya) tidak mau melihat adanya potensi bahaya bahkan di dalam kesenangan yang sedang kita nikmati. Lebih celakanya lagi, ketika ada “orang luar” yang memeringatkan kita sedang terancam bahaya, kita bersikap tidak senang kepada yang memeringatkan kita dengan mengatakan,”Kamu tahu apa. Jangan iri dong!” “Everything is ok”, “Ini duniaku sehari-hari dan akulah yang paling tahu duniaku, bukan kamu!” ya, kesenangan seringkali menutup mata batin kita untuk melihat dan mengetahui ada bahaya mengancam dari dan dalam kesenangan itu. Kita mabuk di dalamnya.
Tak selamanya, orang pinggiran dan sangat sederhana tak memiliki nilai-nilai dan kapasitas serta kapabilitas untuk memberikan pelajaran yang mengasah batin kita. Kalau yang mengasah akal, mungkin, kita yang “orang kota” jauh lebih memilikinya. Akan jauh lebih bijak kalau kita yang “orang kota” mau menerima perspektif “orang sederhana”. Tak selamanya yang sederhana tak berguna. Tak selamanya juga yang “kota” selalu berjaya dan membuat orang bisa berjaya secara batin. Kita dengan kamampuan akal kita bisa menjadi orang yang tahu, tetapi tak selamanya kita bisa menjadi orang yang mengerti. Kearifan seringkali muncul dari hati dan memberdayakan akal. Masihkan keukeh untuk berpegang tak perlu belajar dari “orang luar nan sederhana”? semoga bermanfaat.

“MANDIKAN AKU MAMA”

Posted: March 1, 2011 in psikologi anak

Kisah ini sungguh terjadi. Ada seorang wanita brilian, sebut saja namanya Rani. Dia sangat brilian. Ketika kuliah, dia membuktikan dirinya sebagai orang yang brilian dalam bidang akademis. Alhasil, dia mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah S-2 di luar negeri. Semua bisa dilaluinya dengan “sempurna”. Rani menjadi kebanggaan bagi keluargnya.
Akhirnya, Rani mendapatkan seorang suami yang berposisi sangat baik. Lengkaplah kebahagiaan dan “kesempurnaannya” sebagai lambang kebanggaan bagi keluarganya. Rani dan suaminya dikaruniai seorang anak yang mereka beri nama Alifiya. Sungguh nama yang indah. Alifiya tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga yang super sibuk. Mama papanya jarang sekali berada di rumah karena ada sangat banyak kegiatan dan tugas yang harus mereka lakukan. Rani, menjadi ibu yang super mobile. Sebentar di provinsi ini, sebentar lagi di luar negeri. Begitu seterusnya. Mobile. Very mobile.
Sautu ketika si kecil Alifiya meminta adik. Namun karena kesibukan Rani dan suaminya yang sangat sangta luar biasa, permintaan itu belum bisa dipenuhi. Kehidupan kembali seperti semula. Si kecil diasuh oleh kakek dan neneknya serta seorang suster. Mereka selalu menanamkan kepada si kecil untuk mencontoh ayah dan ibunya yang bisa menjadi kebanggan bagi orangtuanya. Alifiya tumbuh menjadi seorang anak yang “sangat pengertian”. Tidak pernah menuntut dan rewel. A good and super good daughter.
Suatu pagi, Alifia merajuk minta dimandikan mamanya. Karena setiap detik waktunya sangat berharga, Rani menolak memandikan anaknya dan menyerahkannya kepada suster. Seperti biasanya. Si kecil nan manis dan sangat pengertian ini merajuk sampai satu minggu. Namun selama itu pula harapannya untuk bisa dimandikan oleh mamanya hanya tinggal harapan. Gayung tak bersambut.
Suatu hari, ketika Rani berada di luar kota menjalankan tugasnya, dia menerima telepon dari bu Mien—suster yang mengabarkan bahwa si kecil berada di rumah sakit karena sedang sakit. Rani segera pulang. Apa lacur, Rani terlambat. Alifiya kecil sudah lebih dulu pulang ke Penciptanya. Terlambat. Sangat terlambat.
Ketika jenasah si kecil yang manis ini dimasukkan liang lahat dan ditimbun, Rani menangis dan mengatakan,”Ini sudah takdir. Seandainya pun aku di sini, dia akan tetap meninggal karena itu takdir. Tak ada bedanya, aku di sini atau di mana saja.” Rani meratap dengan duka sangat mendalam. Menyesal. Dan sesal itu tiada gunanya. Tak bisa lagi dia memandikan anaknya yang manis dan pengertian. Terlambat.
Kisah semacam ini bisa saja dihadapai oleh semua orang. Termasuk saya sendiri. Dengan berbagai alasan kesibukan dan prestasi serta penilaian baik dari atasan, seringkali, tanpa kita sadari, kita menuntut anak-anak kita memahami kebutuhan kita tetapi kita mengabaikan kebutuhan mereka. Seringkali, dengan mengatasnamakan demi kebahagiaan keluarga, kita menyerahkan pemenuhan kebutuhan kecil anak kita kepada “suster”. Berapa kali pula kita menganggap permintaan anak kita sebagai hal yang sepele yang tidak harus kita penuhi karena sudah ada “suster”. Memandikan dan menemani anak bermain seringkali kita kalahkan dengan upaya untuk meraih prestasi kerja dan mendapatkan penilaian baik dari atasan kita. Anak kita yang harus mengerti kebutuhan kita. Dia harus menjadi “anak yang manis” karena orangtuanya bekerja banting tulang untuk membahagiakan buah hati dan keluarga.
Mungkin tak harus se-ektrim yang dialami Rani yang super berhasil dengan segala pencapaian dan kehormatan yang diraihnya dari pencapaiannya itu. Terlalu besar dan menyakitkan memang kalau harus kehilangan buah hati yang kita kasihi yang kehidupan dan kebahagiaannya kita upayakan sedemikian rupa. Satu hal yang bisa kita pelajari dari kisah nyata ini adalah bahwa tak selamanya apa yang kita kejar benar-benar bisa memenuhi kebutuhan anak kita dalam arti yang sesungguhnya. Kebutuhan lahir dan batinnya.
Ketika buah hati kecil kita terpaksa harus “pergi” dari pelukan kita, hanya sesal yang maha dalam yang akan kita temui. Mungkin, kita hanya bisa “memandikannya” sekali untuk selamanya. One for good. Memandikan yang harus kita iringi dengan derai air mata dan duka serta penyesalan yang dalam. Bahkan maha dalam. Semoga kita bisa belajar menjadi orangtua yang (boleh) sibuk atau super sibuk dan setiap detik waktu kita menghasilkan uang. Pertanyaannya adalah, apakah uang yang kita hasil dan dapatkan itu jauh lebih berharga daripada anak kita dan kebutuhan batinnya? Lalu untuk siapa sebenarnya kita berjerih lelah bekerja? Mungkin kita bisa punya sangat banyak uang sampai-sampai kita sendiri tak tahu ke mana harus menyimpan dan membuangnya. But, apakah yang kita punya itu bisa membeli kebahagiaan?
Kisah ini disadur dari buku tulisan Jarot Widjanarko “Kumpulan Ilustarsi Khotbah”. Renungan kecil ini saya tulis dengan harapan kita—Anda dan saya, bisa belajar menghargai kebahagiaan anak-anak kita. Semoga bermanfaat.