“MANDIKAN AKU MAMA”

Posted: March 1, 2011 in psikologi anak

Kisah ini sungguh terjadi. Ada seorang wanita brilian, sebut saja namanya Rani. Dia sangat brilian. Ketika kuliah, dia membuktikan dirinya sebagai orang yang brilian dalam bidang akademis. Alhasil, dia mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah S-2 di luar negeri. Semua bisa dilaluinya dengan “sempurna”. Rani menjadi kebanggaan bagi keluargnya.
Akhirnya, Rani mendapatkan seorang suami yang berposisi sangat baik. Lengkaplah kebahagiaan dan “kesempurnaannya” sebagai lambang kebanggaan bagi keluarganya. Rani dan suaminya dikaruniai seorang anak yang mereka beri nama Alifiya. Sungguh nama yang indah. Alifiya tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga yang super sibuk. Mama papanya jarang sekali berada di rumah karena ada sangat banyak kegiatan dan tugas yang harus mereka lakukan. Rani, menjadi ibu yang super mobile. Sebentar di provinsi ini, sebentar lagi di luar negeri. Begitu seterusnya. Mobile. Very mobile.
Sautu ketika si kecil Alifiya meminta adik. Namun karena kesibukan Rani dan suaminya yang sangat sangta luar biasa, permintaan itu belum bisa dipenuhi. Kehidupan kembali seperti semula. Si kecil diasuh oleh kakek dan neneknya serta seorang suster. Mereka selalu menanamkan kepada si kecil untuk mencontoh ayah dan ibunya yang bisa menjadi kebanggan bagi orangtuanya. Alifiya tumbuh menjadi seorang anak yang “sangat pengertian”. Tidak pernah menuntut dan rewel. A good and super good daughter.
Suatu pagi, Alifia merajuk minta dimandikan mamanya. Karena setiap detik waktunya sangat berharga, Rani menolak memandikan anaknya dan menyerahkannya kepada suster. Seperti biasanya. Si kecil nan manis dan sangat pengertian ini merajuk sampai satu minggu. Namun selama itu pula harapannya untuk bisa dimandikan oleh mamanya hanya tinggal harapan. Gayung tak bersambut.
Suatu hari, ketika Rani berada di luar kota menjalankan tugasnya, dia menerima telepon dari bu Mien—suster yang mengabarkan bahwa si kecil berada di rumah sakit karena sedang sakit. Rani segera pulang. Apa lacur, Rani terlambat. Alifiya kecil sudah lebih dulu pulang ke Penciptanya. Terlambat. Sangat terlambat.
Ketika jenasah si kecil yang manis ini dimasukkan liang lahat dan ditimbun, Rani menangis dan mengatakan,”Ini sudah takdir. Seandainya pun aku di sini, dia akan tetap meninggal karena itu takdir. Tak ada bedanya, aku di sini atau di mana saja.” Rani meratap dengan duka sangat mendalam. Menyesal. Dan sesal itu tiada gunanya. Tak bisa lagi dia memandikan anaknya yang manis dan pengertian. Terlambat.
Kisah semacam ini bisa saja dihadapai oleh semua orang. Termasuk saya sendiri. Dengan berbagai alasan kesibukan dan prestasi serta penilaian baik dari atasan, seringkali, tanpa kita sadari, kita menuntut anak-anak kita memahami kebutuhan kita tetapi kita mengabaikan kebutuhan mereka. Seringkali, dengan mengatasnamakan demi kebahagiaan keluarga, kita menyerahkan pemenuhan kebutuhan kecil anak kita kepada “suster”. Berapa kali pula kita menganggap permintaan anak kita sebagai hal yang sepele yang tidak harus kita penuhi karena sudah ada “suster”. Memandikan dan menemani anak bermain seringkali kita kalahkan dengan upaya untuk meraih prestasi kerja dan mendapatkan penilaian baik dari atasan kita. Anak kita yang harus mengerti kebutuhan kita. Dia harus menjadi “anak yang manis” karena orangtuanya bekerja banting tulang untuk membahagiakan buah hati dan keluarga.
Mungkin tak harus se-ektrim yang dialami Rani yang super berhasil dengan segala pencapaian dan kehormatan yang diraihnya dari pencapaiannya itu. Terlalu besar dan menyakitkan memang kalau harus kehilangan buah hati yang kita kasihi yang kehidupan dan kebahagiaannya kita upayakan sedemikian rupa. Satu hal yang bisa kita pelajari dari kisah nyata ini adalah bahwa tak selamanya apa yang kita kejar benar-benar bisa memenuhi kebutuhan anak kita dalam arti yang sesungguhnya. Kebutuhan lahir dan batinnya.
Ketika buah hati kecil kita terpaksa harus “pergi” dari pelukan kita, hanya sesal yang maha dalam yang akan kita temui. Mungkin, kita hanya bisa “memandikannya” sekali untuk selamanya. One for good. Memandikan yang harus kita iringi dengan derai air mata dan duka serta penyesalan yang dalam. Bahkan maha dalam. Semoga kita bisa belajar menjadi orangtua yang (boleh) sibuk atau super sibuk dan setiap detik waktu kita menghasilkan uang. Pertanyaannya adalah, apakah uang yang kita hasil dan dapatkan itu jauh lebih berharga daripada anak kita dan kebutuhan batinnya? Lalu untuk siapa sebenarnya kita berjerih lelah bekerja? Mungkin kita bisa punya sangat banyak uang sampai-sampai kita sendiri tak tahu ke mana harus menyimpan dan membuangnya. But, apakah yang kita punya itu bisa membeli kebahagiaan?
Kisah ini disadur dari buku tulisan Jarot Widjanarko “Kumpulan Ilustarsi Khotbah”. Renungan kecil ini saya tulis dengan harapan kita—Anda dan saya, bisa belajar menghargai kebahagiaan anak-anak kita. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s