Dari Tukang Perahu itu Ku Tahu….

Posted: March 3, 2011 in Kritik sosial

Kaget juga ketika aku bertemu dengan tukang perahu yang siangnya perahunya kami pakai untuk berwisata. Berlayar di teluk pantai Perigi Tulungagung. Ternyata, dia tinggal di depan wisma tempat kami menginap. Sampai kini masih bisa kuingat jelas bentk tubuh, gaya bicara dan optimismenya. Jarang, jarang sekali ada orang yang bisa meninggalkan kesan begitu dalam bagiku. Sampai saat ini, hanya ada beberapa orang yang bisa meninggalkan kesan mendalam dalam hidupku—anak-anak, istri dan keluargaku. Ada sebab mereka begitu meninggalkan kesan mendalam dalam hidupku.
Tukang perahu, ya tukang perahu sederhana itu, yang akhirnya kuketahui lewat obrolan panjang kami di teras wisma ketika hujan mengguyur lebat bagai dicurahkan dari langit, usianya tak beda jauh dariku. Kesan dan pelajaran mendalam ditinggalkannya di dalam hati dan pikiranku sampai saat ini yang akan selalu kuingat dan kupakai dalam hidupku—tidak egois dan mementingkan diri sendiri.
“Ndak wes, luwih becik ora oleh duit tinimbang ciloko. Lek nyawaku dewe ora opo-opo. La kuwi, aku ora tegel ndelok bocah-bocah semono akehe. Lek ono opo-opo aku getun tenan. Ora wes. Bene ora duwe duwit ritek”. Sebuah ungkapan bijak dari orang sederhana. Terjemahan bebasnya sepeti ini,”Tidak, lebih baik aku tidak dapat uang daripada celaka. Kalau nyawaku sendiri (yang hilang) tidak masalah. Aku tidak tega melihat anak-anak sebanyak itu. Kalau terjadi apa-apa, aku akan sangat menyesal dan tidak bisa memaafkan diriku sendiri (karena anak-anak itu). Enggak mau. Tidak apa-apa tidak punya uang. Gak masalah”. Ungkapan itu dikatakannya ketika kami “menantangnya” untuk berlayar lagi besok. Beberapa kali kami “tantang”, bahkan dengan mengatakan dia kecil nyali (kalau orang salah memahami, ini bisa mengakibatkan pertengkaran karena dianggap menghina), jawabannya tetap sama “Ora” dan “Ben ora duwe duwit ritek”. Keukeh.
Sungguh orang yang dewasa dan tak mementingkan dirinya sendiri. penolakan ini bukan tanpa sebab. Siangnya kami sewa perahunya untuk berlayar di teluk pantai Prigi. Dan… kami terjebak badai. Angin dan gelombang menghempas perahu. Hujan mengguyur dengan lebat walau tak lama. Perahu tak bisa “diparkir” karena diseret angin sakal. Tak karam perahu dan penumpangnya sudah sangat bagus dan anugerah teramat besar.
Seandainya tukang perahu sederhana itu adalah orang yang egois dan “pandai melihat peluang”, maka dia akan menerima tawaran kami. Jumlah yang cukup lumayan bagi nelayan yang sudah lebih dari satu bulan tak bisa melaut karena hantaman cuaca ekstrim. Tak perlu berlayar sampai jauh ke tengah samudra. Hanya mengantar dan menunggu kami berenang beberapa jam. Selesai. Dapat uang pula. Tak perlu keluar biaya solar besar (saya tanyakan ke dia berapa habis solarnya untuk berlayar seukuran itu—tak lebih dari 10 liter). Seandainya dia orang tamak, dia akan memakai logika matematikanya. Ukuran kapal dan jumlah penumpang sangat berimbang. Perahu ini biasanya diawaki oleh 22 orang dewasa. Bisa memuat ikan tangkapan lebih dari 10 ton. Jumlah kami waktu itu, termasuk anak-anak, kurang lebih 30 orang. Tak lebih dari 10 ton. Apanya yang ditakutkan? Tak ada bukan? Itu kalau dia orang tamak dan terlalu ”pandai melihat dan memanfaatkan peluang”.
Ketika lebih jauh saya bertanya kepadanya, apa yang membuatnya “takut” (selain penumpangnya banyak anak kecil), angin yang dia takuti. “Nek ombak iso dihindari mas, tapi lek angin, ampun, ora ono sing iso. Iku kuasane “sing dhuwur”. “kalau ombak bisa dihindari (dia mengatakan bisa melihat ombak dan ke mana arahnya), kalau angin, tidak bisa. Itu kuasa Tuhan”. Memang, kondisinya pada waktu itu, kami diombang-ambingkan oleh angin. Beberapa kali aku mendengar derit dan gertakan suara kayu bergeseran dengan sesuatu. Sempat aku berpikir, tak mungkin dasar perahu ini menggesek batu karang karena dasar laut sangat dalam. Kami sudah ada di tengah teluk. Jawabannya adalah, derit dan gertakan ini timbul karena lambung kapal di hantam ombak. Baru aku menyadarinya. Kepikir juga, bagaimana kalau perahu ini pecah. Ngeri.
Dua kesan mendalam yang ditanamkan sang tukang perahu sederhana ini. Tidak tamak, peduli kepada keselamatan orang lain terutama anak-anak dan tahu siapa dirinya di hadapan Tuhan. Ada yang lebih besar dan maha besar yang mengatasi kemampuan manusia. Dia, Dia yang Maha Besar dan Pencipta segala sesuatu yang berkuasa dan berdaulat penuh atas ciptaanNya. Yang berhak menentukan hidup dan matinya ciptaanNya.
Pelajaran yang bisa kita ambil dari perspektif tukang perahu ini adalah, uang bukan segala-galanya. Keselamatan orang lain terutama anak-anak yang adalah penyambung generasi jauh lebih penting daripada uang, money, geld atau apapun namanya. Tidak terlalu mengandalkan rasio dan logika matematis adalah hal kedua yang bisa kita pelajari. Secermat-cermatnya logika matematika, tetap ada peluang untuk “meleset” apalagi ketika diperhadapkan dengan kekuatan alam, apalagi kekuatan Tuhan sang Maha Pencipta yang Maha Besar.
Tahu bahaya adalah hal ketiga yang bisa kita pelajari. Seringkali, ketika kita dalam kondisi dan keadaan senang, kita lupa dan tidak bisa melihat adanya potensi bahaya dalam berbagai bentuknya. Kesenangan dan kenikmatan yang sedang kita rasakan menutup mata bahkan mata batin kita sehingga kita tidak bisa bahkan (celakanya) tidak mau melihat adanya potensi bahaya bahkan di dalam kesenangan yang sedang kita nikmati. Lebih celakanya lagi, ketika ada “orang luar” yang memeringatkan kita sedang terancam bahaya, kita bersikap tidak senang kepada yang memeringatkan kita dengan mengatakan,”Kamu tahu apa. Jangan iri dong!” “Everything is ok”, “Ini duniaku sehari-hari dan akulah yang paling tahu duniaku, bukan kamu!” ya, kesenangan seringkali menutup mata batin kita untuk melihat dan mengetahui ada bahaya mengancam dari dan dalam kesenangan itu. Kita mabuk di dalamnya.
Tak selamanya, orang pinggiran dan sangat sederhana tak memiliki nilai-nilai dan kapasitas serta kapabilitas untuk memberikan pelajaran yang mengasah batin kita. Kalau yang mengasah akal, mungkin, kita yang “orang kota” jauh lebih memilikinya. Akan jauh lebih bijak kalau kita yang “orang kota” mau menerima perspektif “orang sederhana”. Tak selamanya yang sederhana tak berguna. Tak selamanya juga yang “kota” selalu berjaya dan membuat orang bisa berjaya secara batin. Kita dengan kamampuan akal kita bisa menjadi orang yang tahu, tetapi tak selamanya kita bisa menjadi orang yang mengerti. Kearifan seringkali muncul dari hati dan memberdayakan akal. Masihkan keukeh untuk berpegang tak perlu belajar dari “orang luar nan sederhana”? semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s