MEREKA HARUS DIBUNUH: MASIH ADAKAH RUANG UNTUK PERBEDAAN?

Posted: March 17, 2011 in Kritik sosial

Ledakan bom di markas Jaringan Islam Liberal, yang sejatinya dikirim untuk Ulil Abshar Abdalla, pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL), tetapi meledak ketika “ditangani” oleh polisi yang mengakibatkan tiga personil baju coklat terluka, bahkan salah satunya harus kehilangan “sebagian” tangannya menyisakan pertanyaan,”Masih adakah ruang bagi perbedaan?” Perbedaan pandangan dan keyakinan dalam memahami agama, iman dan keimanan.
Agama, iman dan keimanan pada hakikatnya, harus diakui, sebagai hak mendasar setiap individu. Pada hakikatnya, semua orang berhak memiliki dan menganut paham dan pandangannya sendiri dalam menafsirkan agama dan iman. Semua bebas. Memang, tak bisa dipungkiri bahwa dalam “menafsirkan” dan “menghayati” sebuah ajaran iman, oarang tidak bisa lepas dari pedoman dan panduan—kitab suci.
Proses “menafsirkan” sebuah ajaran bukanlah proses yang bebas konflik maupun potensi konflik. Konflik itu bisa terjadi melawan diri sendiri bahkan melawan orang dan pihak lain. Ketika seseorang tidak memiliki cukup pengetahuan (?) untuk menafsirkan sebuah ajaran, dia bisa berputar-putar dalam pusaran yang bisa membuatnya semakin bingung. Parahnya, dalam kebingungan semacam ini, orang bisa memunculkan sebuah ajaran atau pemahaman baru mengenai dan dari sebuah ajaran. Potensi konflik juga sangat besar meletup menjadi konflik nyata secara fisik ketika di dalamnya ada kepentingan-kepentingan yang diusung. Kepentingan untuk menjadi yang superior di tataran sempit atau bahkan hegemoni dan dominasi terhadap kelompok lain dengan memperalat konteks mainstream sebagai single majority.
Harus diakui bahwa proses pemaknaan terhadap ajaran iman tidak bisa dilepaskan dari pengalaman walaupun harus disadari pula bahwa tidak sepenuhnya kalau kita menimbang ajaran iman berdasarkan pengalaman empiris. Ini adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa disangkali begitu saja. Orang bisa merasa Tuhan dekat ketika merasakan kebaikan langsung dari Tuhan. Tetapi sebaliknya. Pemaknaan seperti ini ada dalam semua penganut agama ataupun kepercayaan. Akan tetapi, tak selamanya dan semua umat melakukannya.
Bom Utan Kayu paling tidak, diantara sekian banyak kekerasan dengan mengatasnamakan (baca: memperalat) agama yang tidak hanya terjadi di negeri ini dan dilakukan oleh kelompok dari agama tertentu, adalah cerminan dari masih adanya ketidakarifan dalam menyikapi perbedaan. Tak bijak kalau peristiwa Utan Kayu kita jadikan sebagai dasar untuk menunjuk agama tertentu sebagai agama yang anti perbedaan dan anti toleransi. Bukan agamanya yang tidak dan anti toleransi. Bukan. Sang pelakunya. Semua agama selalu mengajarkan umatnya untuk menjadi rahmat bagi alam semesta dalam arti yang sesungguhnya yang di dalamnya juga mengakui adanya perbedaan dan toleran terhadap orang yang berpikiran dan berpandangan berbeda bahkan ketika orang atau sekelompok orang itu laksana sebuah kerikil kecil di dunia bebatuan.
Banyak sikap dan opini dinyatakan menyikapi peristiwa ini, mulai dari mengutuk dan bahkan menyalahkan pihak-pihak tertentu. Masalahnya adalah, cukupkah hanya dengan mengutuk dan menyalahkan pihak lain atas terjadinya peristiwa ini? Cukupkah kutukan, makian dan cercaan bisa menyelesaikan dan menjamin masalah ini tidak akan terulang kemudian hari? Atau, apakah kita memang sudah menjadi orang yang hanya bisa mengutuk dan menyalahkan orang atau pihak lain atas apa yang telah terjadi? Tak pernah cukup dan mencukupi hanya dengan menebar kutuk dan caci maki. Tidak!
Mungkin, akan lebih baik kalau kita tidak hanya bisa mengutuk dan menyalahkan tetapi bersimpati dan berempati sembari melakukan tindakan nyata—membina kerukunan dan toleransi bahkan menyikapi dengan arif perbedaan yang ada tanpa menggunakan kekuatan senjata. Memang, disadari sepenuhnya, tidak ada jaminan ketika kita melakukan tindakan nyata dalam bentuk simpati, empati dan toleransi, peristiwa semacam ini tidak akan terjadi lagi. Tidak ada jaminan! Paling tidak, dengan tidak mengutuk dan menyalahkan akan membantu menjaga suasana tetap bisa kondusif. Sekali lagi, tak ada jaminan bahwa peristiwa semacam ini tidak akan terjadi lagi dengan sasaran, alasan, pelaku, dan tempat yang berbeda.
Masih adakah ruang bagi perbedaan dalam hal yang sangat hakiki dan mendasar yang bisa mengakomodasi perbedaan yang ada dengan tanpa mengintimidasi dan membinasakan. Atau, apakah sudah sedemikian jauhnya kita melenceng dari jalan Tuhan ketika kita memaknai ajaran Tuhan sehingga membuat kita, dalam keangkuhan kita berani mengatakan bahwa orang atau pihak lain yang berbeda dengan kita memang harus dilenyapkan. Siapakah sebenarnya yang berhak menentukan bahwa kita adalah yang paling benar dan paling “lurus” sehingga yang tidak sepaham dengan kita adalah yang bengkok, menyimpang dan layak dilaknat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s