“Mama Kok Umbah-Umbah…?”

Posted: April 7, 2011 in Kritik sosial

“Mama kok umbah-umbah (Mama kok masih cuci-cuci)…?” Menggelikan memang. Tapi, inilah yang saya dengar dari seorang ibu dalam kumpulan ibu-ibu yang sedang menunggu anaknya sekolah. Sayapun sedang menunggu anak saya yang kecil pulang sekolah. Satu kali seminggu, saya bisa melakukan hal membahagiakan ini karena saya shift siang. Kebahagiaan yang tak tergantikan oleh apapun.

Memang tak ada yang serius dari ungkapan diatas, tapi paling tidak membuat saya berpikir ulang, apakah sebuah sebuatan seperti mama memang nilai dan kehormatannya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan si mbok, biyung, umi, bunda, mimi dsb yang kedengarannya bernuansa “lokal” (tapi ingat umi asalnya dari Arab, kalau mimi…?). Benarkah mama selalu dan identik dan boleh diidentikkan dengan yag serba canggih dan serba wah sehingga mama tak boleh dan tak berhak umabh-umbah dan korah-korah (bahasa Jawa untuk cuci baju dan cuci piring). Bolehkah dengan sekenanya kita mengidentikkan ibu, umi, si mbok, bunda dan biyung dengan kerja kasar dan pekerjaan-pekerjaan yang tak terhormat (adakah pekerjaan yang tak terhormat, dalam konteks yang positif, kalau kita melihat tujuannya?). Apakah selamanya mama harus diposisikan sebagai yang hanya duduk manis, main perintah dan tunjuk sana-sini, arisan ke mana-mana karena papa jarang di rumah, apalagi ketika papa pulang tak bawa uang?

Kalau kita belajar bahasa, kita akan menjumpai pergeseran makna dan rasa. Yang dulunya dirasa nilainya biasa-biasa saja sekarang menjadi “tak biasa”. Contoh mudahnya adalah kata babu atau jongos. Dulu pada zaman kolonial, sebuatan ini dipakai untuk menyebut pembantu rumah tangga. Dan pada saat itu fine-fine aja. Coba lakukan sekarang. Dulu, ketika masih muda, saya pernah sangat tersinggung ketika seorang teman dari etnis lain menyebut pembantunya sebagai genduk. Kemarahan itu timbul ketika mengetahui bahwa yang disebut dengan sebutan seperti itu adalah orang yang usianya seusia ibu saya dan dia memang seorang ibu. Marah. Bagaimana mungkin seorang tua disebut sebagai genduk. Apalagi ketika penyebutan seperti itu disertai dengan sikap dan polah tak sopan dan merendahkan. Kutegurlah dia.
Bagi saya, apapun sebutannya, apakah ibu, umi, mama, si mbok, biyung itu hanyalah sebutan dan bentuk sapaan untuk menyatakan kasih dan cinta antar anggota keluarga. Yang salah adalah, ketika kita memanggil istri atau suami orang lain dengan sebutan mama. Itu adalah kavling yang salah bin tidak benar. Mama, umi, bunda adalah sebuah bentuk sapaan yang tak selalu dan selamanya menghilangkan hak istimewa untuk umbah-umbah dan korah-korah. Bukankah jauh lebih baik jika seorang mama masih mau dan mampu umbah-umbah dan korah-korah daripada mama harus pergi ke laundry tapi uang belanja tak sampai tengah bulan karena sebagian besar tersedot untuk mambayari jasa binatu. Bukankah umbah-umbah dan korah-korah bukan sesuatu yang memalukan? Tahukah kita bahwa keduanya bisa dijadikan sarana komunikasi keluarga. Juga, dengan umbah-umbah mama bisa dapat penghasilan tambahan (buka jasa laundry maksudnya).
Memikirkan ungkapan seorang ibu di tengah kerumunan ibu-ibu itu, saya jadi teringat akan sebutan Ratu. Masih untung mama hanya dikatakan tak layak umbah-umbah, lha … kalau Ratu… ratunya lebah maksudnya, apa pekerjaannya? Berbahagialah mama yang masih mau umbah-umbah demi kasihnya kepada keluarga. Berbahagialah anak-anak dan papa kalau mama masih mau umbah-umbah dan korah-korah sehingga uang belanja bisa cukup sampai awal bulan berikutnya. Akan tetapi, bantulah mama supaya tak kehabisan waktu dan tenaga hanya untuk umbah-umbah dan korah-korah. Karena apapun namanya, mama bukan pembantu. Dia adalah ibu. Pembantu pun bukan babu yang bisa kita hisap dan kita pekerjakan tanpa perasaan manusiawi. Bagaimana mama, apakah kau masih berbahagia ketika harus umbah-umbah dan korah-korah? Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s