BELAJAR KAYA DARI SI MISKIN

Posted: April 11, 2011 in Kritik sosial

Majalah bulanan Intisari edisi April 2011 di kolom MANCANEGARA hal 83 memuat sebuah cerita pendek tentang seorang gelandangan yang mengembalikan amplop berisi uang yang, jika dirupiahkan, isinya sebanyak sekitar Rp 13 Juta karena dia merasa amplop itu, bagaimana pun, adalah tetap milik seseorang dan yang pasti, dalam keyakinannya, sang gelandangan itu mengatakan bahwa pemilik amplop itu pasti sangat membutuhkan isi amplop tersebut.
Kavanaugh, seorang gelandangan yang “mangkal” di jalanan West Chester, Pennsylvania, AS pada akhir Februari 2011 menemukan sebuah amplop yang akhirnya diketahui adalah milik Robert Stauffer, seorang pengacara di Pottstown. Kavanaugh merapikan amplop yang ditemukannya dan menyerahkan amplop itu berikut isinya kepada polisi secara utuh. Sang polisi terheran bagaimana mungkin seorang gelandangan seperti Kavanaugh mau mengembalikan uang sebanyak itu yang ditemukannya terbungkus dalam sebuah amplop yang tercecer di jalanan. Aneh?
Mungkin, sepintas memandang sang gelandangan sebagai “orang aneh”. Karena dia mengembalikan, walaupun tidak secara langsung, kepada pemiliknya tetapi melalui seorang polisi, apa yang oleh kebanyakan orang bisa dianggap sebagai windfall atau “durian runtuh” bin rejeki nomplok yang turun dari langit. Inilah nilai lebih dari seorang Kavanaugh sang gelandangan miskin tetapi dalam kemiskinannya itu dia sebanarnya adalah seorang yang “sangat kaya”. Kavanaugh memiliki nilai-nilai besar walaupun dia adalah seorang kecil yang bahkan oleh banyak orang dianggap tidak pernah ada dan bukan bagian dari masyarakat. Nilai kejujuran dan ketidaktamakan.
Memang, hal dan nilai-nilai seperti ini bukan hanya ada “di luar” sana. Di negara maju dan besar saja. Di negeri ini pun ada banyak orang yang memiliki nilai-nilai luhur dan besar yang membuatnya menjadi orang besar walaupun dia adalah orang kecil di mata banyak orang. Ada sangat banyak nilai-nilai luhur di negeri ini tentang kejujuran, harga diri, martabat, dan kemuliaan. Sangat banyak! Masalahnya adalah, nilai-nilai semacam itu biasanya tidak bisa muncul karena berbagai hal. Dan parahnya, tidak dimunculkan atau dihalangi untuk muncul karena berbagai sebab. Komunalitas misalnya. Orang cenderung menganut nilai-nilai komunal. Yang banyak dikatakan orang, itulah yang (dianggap) benar.
Mungkin, sudah saatnya kita mau belajar dari orang-orang yang kita anggap kecil. Bahkan yang seringkali kita anggap tidak ada dan tidak pantas ada hanya karena keberadaannya secara ekonomi. Kavanaugh yang kecil ini ternyata bisa menjadi seorang yang besar karena dia memiliki nilai-nilai dan kepercayaan uniknya sendiri. Bisa, saja, kalau dia adalah saeorang yang tidak jujur, dia akan menganggap segepok uang yang jatuh di jalanan adalah “hadiah” dari Tuhan. Atau, kalau mau dibungkus secara rohani, uang itu adalah “jawaban” atas doa kita karena kita memiliki kebutuhan yang sudah lama kita doakan. But, money does not grow on the street.
Tidak tamak adalah nilai unik lain yang dimiliki oleh seorang gelandangan. Ada kalanya, orang-orang yang merasa dan mengaku diri sebagai orang besar, hanya karena memiliki posisi di tempat kerja, prsetise di mata masyarakat, kekayaan dsb berubah menjadi yang lebih rendah dari gelandangan yang hidup mengembara di jalanan. Ukuran yang paling mudah adalah, sejauh mana kita nmau berbagi dengan orang lain ketika mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan adalah parameter yang paling mudah dilihat dan diaplikasikan untuk mengetahui apakah kita benar-benar orang besar dengan hati besar. Atau sebaliknya, orang besar dengan hati dan jiwa kerdil. Sikap terhadap orang lain yang mendapatkan kebahagiaan yang dulu pernah kita dapat tetapi sekarang orang lain yang mendapatkannya, apakah ketika orang lain merasakan dan mendapatkan kebahagiaan yang dulu pernah kita dapat dan rasakan kita menjadi marah atau jealous karenanya. Atau parahnya, kita berusaha dengan segala cara untuk menghalangi supaya kebahagiaan itu tidak bisa dirasakan oleh orang lain, saat itulah kita terbukti menjadi seorang besar dengan jiwa dan hati kerdil.
Kavanaugh, sekali lagi, hanya sebuah contoh dari betapa seorang miskin papa yang dimata umum dipandang hina ternyata bisa menjadi seorang besar dengan hati besar dalam keterbatasan dan kekecilannya. Bukankah ini seharusnya menjadi kaca cermin atau bahkan pukulan telak bagi kita yang selalu mengidentikkan orang miskin dan kemiskinan dengan ketidakjujuran. Kemapanan materi dan kedudukan sebagai penanda bahwa seseorang adalah orang yang berhasil dan selalu layak untuk dijadikan acuan dan rujukan dalam berperilaku (?). Tak selamanya, paling tidak menurut saya, si miskin dan papa selalu tak memiliki nilai-nilai untuk menjadi seorang besar dengan hati besar. Tak egois dan mengakui serta menyadari hak orang lain adalah salah satu nilai besar yang bisa dimiliki oleh semua orang. Dan, pada dasarnya, semua orang memilikinya. Hanya saja, seringkali nilai-nilai semacam itu hilang atau dengan sengaja dihilangkan hanya karena kepentingan sesaat yang, dalam pikiran sebagian orang, adalah kepentingan futuristis (tapi sebenarnya salah).
Tak perlu jadi gelandangan memang untuk memiliki nilai-nilai yang seharusnya dimiliki oleh orang besar yang berhati besar. Akan tetapi, kalau orang kecil saja bisa memilikinya, bukankah seharusnya kita (yang sering kali menganggap diri) orang besar bisa memilikinya juga. Bahkan dalam tingkat dan derajat yang jauh lebih besar. Tak ada salahnya belajar dari yang kecil. Karena yang kecil itu selalu memiliki nilai-nilai besar. Tak selamanya salah ketika kita belajar melihat dan memandang ke bawah karena di bawah sana ada banyak hal yang perlu kita ketahui. Kalau tak ada yang bawah, dengan apa kita bisa mengatakan ada yang atas. Keterbukaan hati sangat diperlukan untuk bisa belajar dari yang kecil guna menjadi yang besar. Masihkah kita memiliki nilai-nilai “kecil” kita seperti Kavanaugh? Mari merenung.

Comments
  1. belajar melarat dari si miskin

  2. Herbal Alami says:

    mengertilah jadi miskin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s