Healthy Male-Female Boss-Staff Relationship

Posted: September 6, 2011 in working psychology

KALAU MAU DIPERHATIKAN BOS, TUNJUKKAN PRESTASI KERJAMU

Topik terakhir dari 3 tema dalam pembicaraan di dunia tanpa sinyal adalah DIJILAT VS MENJILATI. Topik ini berkaitan dengan topik sebelumnya, MAIN DI DALAM VS MAIN DI LUAR yang berkaiatan dengan “kehormatan dan harga diri” pelakunya. Ada baiknya, sebelum membaca lebih lanjut tulisan ini, teman-teman sempatkan membaca tulisan sebelumnya secara utuh dan runtut untuk mendapatkan gambaran latar belakang peristiwa secara utuh.
Perilaku menjilat ada di semua tempat. Perilaku semacam ini bisa berkembang karena kondisi dan lingkungan kerja yang tidak sehat yang kulturnya adalah bos (bukan pemimpin) adalah the one and only yang dianggap sebagai yang menentukan hitam-putihnya nasib bawahannya. Atau, si bos yang memang memerankan dirinya seperti itu. Dalam kultur semacam ini, manajemen dan aturan main manajerial untuk menilai kinerja bawahan tidak ada. Atau, kalaupun ada, seringkali standar baku mutu kinerja bisa dikalahkan oleh perasaan si bos. Kalau aku senang secara otomatis apapun yang ada di dirimu baik. Tetapi sebaliknya.
Celah inilah yang membuka peluang untuk terjadinya kompetisi yang tidak sehat. Bukan lagi kinerja yang diutamakan. Bukan pencapaian dan prestasi kerja serta dampaknya bagi lembaga dan orang-orang yang ada di dalamnya yang diutamakan melainkan kemampuan untuk “berbisik” dan “membisikkan” sesuatu ke telinga si bos (sekali lagi, dia bukan pemimpin). Muncullah budaya menjilat dalam diri oknum karyawan dan senang dijilati di pihak bos.
Dalam kehidupan budaya seperti ini pusat dan sekaligus tujuan karyawan adalah mendapatkan perhatian dan “madu” majikan. Kinerja, prestasi atau pemberdayaan diri untuk bersama-sama menjadi lebih baik dan lebih sejahtera (hampir) tidak ada. Yang ada hanya keinginan untuk mencari dan mendapatkan perhatian juragan dengan berbagai cara. Sikut- menyikut dan iri dengki menjadi bagian dalam kehidupan keseharian di tempat kerja. Orang-orang “lurus” dan benar akan merasa muak bahkan kadang-kadang frustasi. Dia merasa kerja kerasnya sia-sai karena tidak ada reward yang diberikan oleh sang majikan. Berbeda dengan “tetangga”nya.
Ada dua kemungkinan bagi orang “lurus” dalam menghadapi situasi dan kondisi seperti ini. Pertama, kinerjanya tidak menjadi lebih baik atau stagnan karena merasa apa yang dilakukannya tidak ada gunanya. Yang kedua, dan yang paling berbahaya adalah mulai pelan tetapi pasti masuk ke dalam lingkaran setan kemunafikan budaya menjilat yang berupaya untuk menyenangkan majikan dengan menjilatinya. Menjadi orang yang sendika dawuh.
Lingkungan kerajaan yang dipenuhi budaya jilat menjilat seperti ini menjadikan lingkungan kerja tidak kondusif. Bahkan jauh dari itu. Menyedihkannya lagi, orang menjadi kurang peka dengan dan terhadap kebutuhan orang lain. Hal ini timbul karena yang dikejar adalah perhatian majikan dan “rajanya”. Reward atas dasar prestasi kerja adalah sebuah impin yang maha jauh dan mahatinggi yang hampir mustahil dicapai. Jauh panggang dari api. Hal berbahaya lainnya adalah hilangnya kepekaan terhadap kebutuhan akan rasa keadilan orang lain. Memang, adil dan keadilan tidak bisa selalu diidentikkan dengan sama rata dan sama rasa.
Ilustrasinya seperti ini. Ibaratnya sebuah rangkaian kereta api, ada badan/gerbong, ada lokomotif, ada kipas angin (kita ngomong kereta ekonomi aja), dan ada roda. Mana diantara mereka yang paling penting, setengah penting dan tidak penting sama sekali? Menurut saya, semuanya penting sesuai dengan perannya masing-masing. Tak mungkin disebut rangkaian kereta kalau tak ada gerbong. Tak nyaman rasanya kalau tak ada kipas angin. Tak mungkin juga disebut kereta api kalau tak memiliki roda yang membuatnya menggelinding. Aneh rasanya kalau sebuah rangkaian kereta tak berlokomotif. Semua penting. Semua melakukan tugas dan fungsinya. Tapi sayangnya, ketika membagi hasil kerja, hanya kipas angin saja yang mendapat bagian berlebihan. Sementara roda, yang menopang dan membuat gerbong bisa ditarik dan melaju kencang hanya menjadi penonton menyaksikan kemewahan kipas angin. Inikah keadilan? Ini yang tidak (mau) dirasakan oleh orang-orang yang terbiasa menjilat karena adanya kultur.
Menjilat dan menjilati bos juga dilakukan, sebenarnya, karena ketakutan. Takut tidak kebagian dan takut tersaingi. Rivalitas tak sehat yang muncul. Tidak ingin dan tidak mau orang lain mendapatkan kebahagiaan yang sama seperti yang pernah dirasakan dan dinikmati. Selain takut tidak kebagian, menjilat juga dilakukan karena takut kehilangan karena ketidakmampuan. Karena tidak mampu melakukan tugas dan pekerjaan sesuai standar, orang menjadi takut kehilangan “pegangan” apalagi kalau di dekatnya ada orang (baru apalagi) yang dirasa lebih mampu orang menjadi mulai kehilangan “keseimbangan”. Cara mengamankan diri adalah dengan cara berlindung di “ketiak” majikan. Cara mendapatkan perlindungan? Pertama, menarik perhatian majikan dengan berbagai cara (tetapi bukan kinerja) dan selanjutnya menjadi orang yang sendika dawuh.
Mendapatkan perhatian, menurut teori kebutuhan Maslow, merupakan kebutuhan SEMUA manusia. Akan tetapi, cara mendapatkannya yang tidak sama. Dalam dunia kerja yang proses manajerialnya sudah dewasa dan matang, walaupun tetap ada peluang untuk menjadi penjilat, reward diberikan berdasarkan prestasi kerja. “Reward yang lain” urusannya tentu lain juga. Seandainyapun dunia kerja kita adalah dunia yang sangat “kekeluargaan”, tidak serta merta membuat kita menjadi seorang penjilat yang suka menjilati majikan kalau kita memiliki pemahaman bahwa nilai diri kita jauh lebih penting dari “reward” yang diberikan majikan ketika kita bisa menyenangkannya dengan cara menjilatinya. Yang kedua adalah, mau peduli kepada orang lain yang ada di lingkungan kerja. Pemikiran yang mendasari harusnya adalah “kalau aku bisa seperti ini, pasti ada orang lain yang berkontribusi membuat aku seperti ini”. Kalaupun aku saat ini adalah orang besar, pastilah aku berdiri dan bertumpu di atas bahu para raksasa yang menopangku. Pemikirannya selayaknya diarahkan ke “apa yang bisa kulakukan supaya bahu-bahu raksasa (yang sebenarnya adalah sangat banyak orang “kecil”) bisa merasakan yang kurasakan. Orang sulit atau bahkan tidak mau mengingat hal ini ketika merasa diri sudah mapan dan sukses. “Raksasa-raksasa” itu tetap diperlakukan tak lebih sebagai “gurem” dan tak lebih dari sekedar alat produksi dan bukan aset.
Yang ketiga adalah, mau menyadari bahwa segala sesuatu ada masanya. Menyadari bahwa dunia ini berputar dengan sangat cepat dan tidak ada yang mutlak di dalamnya. Tidak ada yang kekal dan abadi. Selain itu, rasa malu bisa menghidarkan orang dari menjadi penjilat. Malu dengan dirinya sendiri paling tidak. Berani merasa malu ketika hasil dan pencapaian yang dibangga-banggakan tak lebih dari sekedar sebuah kepalsuan. Berkaca dengan menggunakan cermin bersih untuk mengetahui kondisi kita sebenarnya.
Aah, ini hanya opini dari dunia tanpa sinyal yang terinspirasi oleh pernyataan di atas. Ini sifatnya hanya opini pribadi yang bisa diterima atau bahkan sebaliknya oleh orang lain. Disadari sepenuhnya bahwa akan dan selalu ada opini-opini yang jauh lebih baik dari opini ini. Oleh karena itu, opini teman-teman sekalian sangat diharapkan supaya kita bisa sama-sama belajar menjadi lebih baik. Kalau dengan kinerja dan prestasi kerja perhatian majikan dapat kita dapat, kenapa harus menjilat??

Comments
  1. Bahasanya tingkat tinggi bro kaya enak dijilati atau menjilati

  2. Banyak yang suka Njilat yak ?😄
    bukan teman gwe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s