Archive for the ‘kepemimpinan’ Category

Sometimes, and often, it hard, even so hard to tell the truth. even we already know that telling the truth is a must. in fact, and factually, almost too hard to tell the truth since we are afraid of loosing. loosing friend(s), loosing popularity, loosing job that make us have chance to make money. afraid, always afraid of loosing something we love and “shoulder” to which we rely. instead of telling the truth (because of our fear and interest), it easy even so easy for us telling the lie (white lie?)

Me, Adam Malik and Shaun the Wedus is a real story of that kind. my position in the story is enmity target. Adam Malik, I finally know, he is a kind of an opportunist. and, Shaun the Wedus is a kind of person that always trying to be a good man. there is always a chance for us for being another. there is always a chance we have nno other choice but performing very tragic “drama”. there always a chance, in some cases, to be a traitor. is that bad?

not always so easy for us giving right answer for this question. our interest(s) make us, sometimes, prefer being another than ourselves.keeping situation and work atmosphere (seems) nice and harmonious is one factor that can make us not being ourselves. maybe, we already know that something is ethically wrong, but for that reason we are performing tragic drama by practically considered the wrong thing(s) right (how long we can pretending?).

we, humankind, having capacity for telling the truth. our conscience always lead to tell the truth. truth which can be identified with black or white. no grey. but, sometimes, our fear of loosing something suppress deeply our conscience and in some cases, we got no conscience anymore. it is so situational. question that may be rise is “Is by telling lie and being another we can save our “world”?. “Can lie(s) save the world?”

the figures in this story-me, Adam Malik and Shaun the Wedus, as human, ordinary human, like other person, have capacity to tell the truth. but, in the other side, we, also have tendency to tell lie(s) and being another for the sake of saving our “world”. I don’t mean that we hafta tell lies to save the world. all I want is telling that sometimes we are facing difficult situation. at one side we hafta tell the truth as commanded by our conscience. but, at the other side, hafta compromise for the “better” of other(s). I am not telling that we must have “grey area”. no. always positioning ourselves is not way out and wise way for solving problems. always positioning ourselves in grey area is gradually killing our conscience. the simple, truth hafta be told with its any cost. but, it takes time to be wise person. what about you? are you Adam Malik, Shaun the Wedus or me? cheer…

Advertisements

Satu hal menarik dalam acara sidang paripurna MPR dengan agenda tunggal pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih hasil Pemilu 2009 adalah “slip of the tongue” Mr. TK (Taufik Kiemas). Selip atau tergelincir lidah ini jauh lebih “menarik” dibandingkan dengan ketidakhadiran mantan Presiden Megawati Soekarno Putri yang memang sudah (entah) ditradisikan(nya) setelah beliau tidak mlagi menjadi orang nomor satu di negeri ini. Apalgi setelah SBY, sang mantan anak buah menggantikannya menduduki kursi RI-1 pada 2004-2009 dan mengalahkannya dengan telak pada Pemilu 2009. Banyak versi memang tentang sikap Ibu ini. But, yang ganjil adalah kenapa Ibu tidak pernah datang dalam acara kenegaraan semacam ini dan 17 Agustus. Ibu, apakah Ibu tidak diundang sehingga memilih stay dan mengamati jalannya acara dari rumah saja?

Kembali ke Mr. TK. Entah karena gugup, entah kurang persiapan, atau karena sebab yang lain, pagi ini, Mr. TK yang politisi kawakan dan sudah lama “ngendon” di Senayan bolak-balik harus meminta maaf karena salah baca atau lupa membaca urutan teks. However, mungkin ini adalah kali pertama dalam sejarahpolitik modern Indonesia, ketua MPR tampak tidak menguasai materi dan menguasai medan sehingga mantan Presiden Habibie pun tertawa ngakak. Ngakak inipun tertangkap kamera dan disiarkan live.

Slip of the tongue, bisa dikatakan seperti itu, kalau terjadi hanya sekali atau dua kali. Tetapi ini, lebih dari itu. apakah ini indikasi kurang siap, kurang menguasai medan atau “demam panggung Mr. TK? Emang, tidak ada satupun substansi yang berubah dari isi acara dan jalannya acarapun tidak terganggu. Hanya “aneh” saja. Terlalu dini juga kalau kita menerjamahkan slip, slip, slip of the tongue Pak TK ini sebagai reaksi sontak karena menerima kedudukan yang saat ini diembannya. Tak pantas pula kalau keseleo lidah ini dihubung-hubungkan dengan sidrom kaget mantan oposan menjadi bagian dari pemerintahan walaupun ybs tidak duduk di bangku kabinet.

Memang, tak bisa dimungkiri bahwa duduknya Pak Tk ini adalah salah satu/sebagian adalah hasil samping dari koalisi panjang dan melelahkan dengan incumbent. Yang jelas, barisan koalisi dan bargaining-bargaining politik antar partai, paling tidak, sudah kelihatan hasilnya. Hasil selanjutnya akan lebih jelas dalam susunan kabinet Indonesia Bersatu jilid 2 yang akan segera diumumkan.

Apapun yang terjadi hari ini dengan Mr. TK dan slip of the tonguenya tidak menghilangkan apresisasi saya secara pribadi kepada beliau dan partai yang sudah dibesarkan bersama Ibu Mega. Pak TK adalah politisi senior dan kenyang makan asam garam (nano-nano kali ya rasanya?) kehidupan dunia politik. Bukan bermaksud merendahkan, menghina atau hal-hal negatif lainnya, tulisan ini saya buat sebagai intermeso reflektif ringan. Ternyata, politisi senior pun bisa slip of the tongue. Singkatnya, politisi, sesenior apapun tetap manusia. Semoga Pak TK tidak kepleset-pleset nanti ketika harus mengritisi pemerintah. Selamat bertugas Pak TK. Kami menunggu gebrakan dan kekritisan Anda untuk mengusung aspirasi rakyat.

Indonesia Tanah Cairku…:Jangan Buru-Buru

“Indonesia tanah Cairku, tanah tumpah muntahku….”
Kutipan di atas adalah kutipan lirik lagu Indonesia Raya, lagu kebangsaan kita, yang diplesetkan dan mengarah kepada penghinaan terhadap sebuah bangsa (contempt of the nation). Bukan hanya itu, masih ada beberapa kata dan frase menyakitkan seperti negeri miskin, Indon, dsb yang secara emosi berusaha mengacak-acak dan menginjak-injak harga diri kita sebagai sebuah bangsa. Plesetan yang mengarah kepada pelecehan ini untuk sementara ini, tuduhannya diarahkan kepada oknum dari negara tetangga—Malaysia sebagai pelakunya. Entah apa dasarnya? Apakah hanya karena vocabulary yang dipakai memang bernada Melayu tetapi bukan dangdut. Dan, beberapa fakta yang dikemukakan untuk memlesetkan lagu itu adalah fakta yang ada di negeri Jiran—TKI dan nasibnya yang terkatung-katung tidak jelas.
Wajar kalau banyak orang protes dan kesal atas pa yang terjadi. Saya pun protes keras!yang jelas, pelecehan dan penistaan semacam ini tidak boleh dibiarkan—siapapun dan dari kelompok manapun pelakunya. Tindak tegas! Pun begitu, dalam kepanasan hati kita, kepala harus tetap dingin. Harus diusut tuntas, dan itu perlu waktu, siapa pelaku yang sebenarnya mengingat dunia maya—internet yang dijadikan media untuk menyebarkan pelecehan ini adalah dunia mahaluas tanpa batas yang bisa dimasuki oleh semua orang dengan membawa kepentingannya sendiri-sendiri. Ada yang berdagang, ada yang membual, juga ada yang telanjang. Sungguh dunia maya maha luas dan (hampir) tanpa batas. Kita harus ekstra hati-hati.
Salah satu protes yang ditayangkan oleh Metro TV kemarin petang 27 Agustus 2009 adalah dari anggota dewan Permadi. Walaupun sangat keras, beberapa poin dari yang disampaikannya benar, menurut saya. Pemerintah kurang keberanian untuk menghadapi Malaysia. Dengan menyebutkan nama negeri tetangga itu bukan berarti saya secara definitif mengatakan bahwa pelaku pemlesetan lagu kebangsaan kita adalah negeri tetangga itu. Bukan! Yang ingin saya katakan adalah, mengacu kepada beberapa kasus besar seperti penyikasaan TKI dan kasus Ambalat, pemerintah terlalu lunak menghadapi tetangga sebelah rumah kita. intinya, dalam banyak hal pemerintah cenderung kurang tegas dalam upaya untuk menegakkan harga diri kita sebagai sebuah bangsa.
Pertanyaannya sekarang adalah, mengacu kepada pernyataan Permadi, kita harus siap berperang dengan tetangga kalau memang diperlukan, apakah hal itu benar-benar harus dilakukan dan kenapa muncul statement semacam itu? menurut Anda bagaimana? Perlukah kita menggebuk tetangga yang kurang ajar secara frontal? Berikan tanggapan Anda. Apakah statement perang dan siap perang adalah bukti bahwa sebenarnya kita sudah tidak percaya lagi kepada kemampuan pemerintah untuk mengatasi hal-hal semacam ini? Bagaimana pula tanggapan Anda untuk pertanyaan ini.
Layakkah Malaysia yang akhirnya diplesetkan sebagai maling… yang gambar benderanya dijadikan background dalam acara dialog dengan Permadi dengan tambahan gambar lambang bajak laut dikatakan sebagai malxxx? denganbanyaknya bualan mereka mulai dari klaim sepihak dan cenderung bodoh atas Reog Ponorogo, Lagu Rasa Sayange, dan yang terbaru adalah Tari Pendet?
Kalau kita waras, dilecehkan seperti itu, paling tidak kita pasti tersinggung. Akan tetapi, dalam ketersinggungan kita, kita juga harus tetap bisa berpikir proporsional. Perang adalah pilihan terakhir yang paling akhir. But, kita juga harus siap berperang jika kedaulatan dan harga diri kita sebagai bangsa menuntutnya. Jika rakyat sudah siap, pemerintah tidak boleh memble dalam menyikapi hal-hal seperti ini. Tidak cukup rasanya berbagga diri dengan mengatakan,”Kami (pemerintah) sudah mengirimkan surat atau nota protes kepada pemerintah negera tetangga. Dalam ketersinggungan kita, kita tetap harus waspada supaya tidak salah bertindak. Selalu ada kemungkinan untuk adanya pihak ketiga yang sengaja memancing di air keruh!
Tidak ada pilihan lain yang lebih baik dan terbaik untuk menjaga kedaulatan dan harga diri kita sebagai bangsa. Bersatu! Bersatu dengan saling mempercayai satu sama lain. Pemerintah mengayomi rakyatnya dengan mengambil tindakan tegas dan konkret manakala ada ancaman, tantangan atau gangguan terhadap kedaulatan dan harga diri bangsa. Elit politik, para penganut aliran atau mazhab (yang biasanya disebut dengan …is dibelakangnya misalnya Sukarnois, futuris, tetapi dan asal bukan teroris) harus membiasakan dir untuk mengeluarkan pernyataan yang menyejukkan tetapi bukan kebohongan. Kalaupun kita harus berperang untuk menegakkan kedaulatan dan harga diri sebagai bangsa, jangan mengambil keputusan dengan tergesa-gesa dan dalam kondisi panas hati. Toh seandainya perang terpaksa terjadi, yang kita perangi adalah sesama kita—manusia bukan kambing atau ayam. Sesama makhluk Tuhan yang diciptkan mulia dan dilarang keras untuk dirampas kehidupannya dengan alsan apapun. War…? Yes! But….

Eskalasi euforia politik menjelang pilpres semakin meningkat. Semakin banyak iklan muncul diberabgai media massa baik elektronik maupun cetak. Entah berapa banyak versi iklan yang dibuat dengan biaya besar untuk memikat hati rakyat supaya memilih pasangan capres-cawapres tertentu. Namun satu hal yang bisa kita cermati adalah, walaupun banyak versi, namun ada hal yang bisa kita amati dan temukan—keseragaman. Semua kontestan menampilkan hal-hal yang positif dan baik dengan mengajak tokoh-tokoh masyarakat (tentunya yang sehaluan dengan partai) untuk memberikan “testimoni produk”. Mudahnya, semua kontestan melalui tim suksesnya menjual kecap no.1 (karena belum pernah ada kecap no.2). Salahkah? Tidak! Sah-sah saja. Masalahnya, kitalah, yang diposisikan sebagai potential and prospective customer, yang harus pintar dan jeli memilih supaya tidak salah pilih dan menyesal. Dalam skala makro, saya menganalogikan situasi politik kita hari-hari ini dengan pertandingan sepak bola yang di dalamnya ada kebelasan (parpol), bintang lapangan (pasangan capres-cawapres), bola (visi-misi parpol/kandidat), Panitia pertandingan (KPU), Inspektur pertandingan (komdis dan panwaslu), suporter (massa partai), dan penonton (rakyat). (more…)