Archive for the ‘Kritik sosial’ Category

Sometimes, and often, it hard, even so hard to tell the truth. even we already know that telling the truth is a must. in fact, and factually, almost too hard to tell the truth since we are afraid of loosing. loosing friend(s), loosing popularity, loosing job that make us have chance to make money. afraid, always afraid of loosing something we love and “shoulder” to which we rely. instead of telling the truth (because of our fear and interest), it easy even so easy for us telling the lie (white lie?)

Me, Adam Malik and Shaun the Wedus is a real story of that kind. my position in the story is enmity target. Adam Malik, I finally know, he is a kind of an opportunist. and, Shaun the Wedus is a kind of person that always trying to be a good man. there is always a chance for us for being another. there is always a chance we have nno other choice but performing very tragic “drama”. there always a chance, in some cases, to be a traitor. is that bad?

not always so easy for us giving right answer for this question. our interest(s) make us, sometimes, prefer being another than ourselves.keeping situation and work atmosphere (seems) nice and harmonious is one factor that can make us not being ourselves. maybe, we already know that something is ethically wrong, but for that reason we are performing tragic drama by practically considered the wrong thing(s) right (how long we can pretending?).

we, humankind, having capacity for telling the truth. our conscience always lead to tell the truth. truth which can be identified with black or white. no grey. but, sometimes, our fear of loosing something suppress deeply our conscience and in some cases, we got no conscience anymore. it is so situational. question that may be rise is “Is by telling lie and being another we can save our “world”?. “Can lie(s) save the world?”

the figures in this story-me, Adam Malik and Shaun the Wedus, as human, ordinary human, like other person, have capacity to tell the truth. but, in the other side, we, also have tendency to tell lie(s) and being another for the sake of saving our “world”. I don’t mean that we hafta tell lies to save the world. all I want is telling that sometimes we are facing difficult situation. at one side we hafta tell the truth as commanded by our conscience. but, at the other side, hafta compromise for the “better” of other(s). I am not telling that we must have “grey area”. no. always positioning ourselves is not way out and wise way for solving problems. always positioning ourselves in grey area is gradually killing our conscience. the simple, truth hafta be told with its any cost. but, it takes time to be wise person. what about you? are you Adam Malik, Shaun the Wedus or me? cheer…

Advertisements

BELAJAR KAYA DARI SI MISKIN

Posted: April 11, 2011 in Kritik sosial

Majalah bulanan Intisari edisi April 2011 di kolom MANCANEGARA hal 83 memuat sebuah cerita pendek tentang seorang gelandangan yang mengembalikan amplop berisi uang yang, jika dirupiahkan, isinya sebanyak sekitar Rp 13 Juta karena dia merasa amplop itu, bagaimana pun, adalah tetap milik seseorang dan yang pasti, dalam keyakinannya, sang gelandangan itu mengatakan bahwa pemilik amplop itu pasti sangat membutuhkan isi amplop tersebut.
Kavanaugh, seorang gelandangan yang “mangkal” di jalanan West Chester, Pennsylvania, AS pada akhir Februari 2011 menemukan sebuah amplop yang akhirnya diketahui adalah milik Robert Stauffer, seorang pengacara di Pottstown. Kavanaugh merapikan amplop yang ditemukannya dan menyerahkan amplop itu berikut isinya kepada polisi secara utuh. Sang polisi terheran bagaimana mungkin seorang gelandangan seperti Kavanaugh mau mengembalikan uang sebanyak itu yang ditemukannya terbungkus dalam sebuah amplop yang tercecer di jalanan. Aneh?
Mungkin, sepintas memandang sang gelandangan sebagai “orang aneh”. Karena dia mengembalikan, walaupun tidak secara langsung, kepada pemiliknya tetapi melalui seorang polisi, apa yang oleh kebanyakan orang bisa dianggap sebagai windfall atau “durian runtuh” bin rejeki nomplok yang turun dari langit. Inilah nilai lebih dari seorang Kavanaugh sang gelandangan miskin tetapi dalam kemiskinannya itu dia sebanarnya adalah seorang yang “sangat kaya”. Kavanaugh memiliki nilai-nilai besar walaupun dia adalah seorang kecil yang bahkan oleh banyak orang dianggap tidak pernah ada dan bukan bagian dari masyarakat. Nilai kejujuran dan ketidaktamakan.
Memang, hal dan nilai-nilai seperti ini bukan hanya ada “di luar” sana. Di negara maju dan besar saja. Di negeri ini pun ada banyak orang yang memiliki nilai-nilai luhur dan besar yang membuatnya menjadi orang besar walaupun dia adalah orang kecil di mata banyak orang. Ada sangat banyak nilai-nilai luhur di negeri ini tentang kejujuran, harga diri, martabat, dan kemuliaan. Sangat banyak! Masalahnya adalah, nilai-nilai semacam itu biasanya tidak bisa muncul karena berbagai hal. Dan parahnya, tidak dimunculkan atau dihalangi untuk muncul karena berbagai sebab. Komunalitas misalnya. Orang cenderung menganut nilai-nilai komunal. Yang banyak dikatakan orang, itulah yang (dianggap) benar.
Mungkin, sudah saatnya kita mau belajar dari orang-orang yang kita anggap kecil. Bahkan yang seringkali kita anggap tidak ada dan tidak pantas ada hanya karena keberadaannya secara ekonomi. Kavanaugh yang kecil ini ternyata bisa menjadi seorang yang besar karena dia memiliki nilai-nilai dan kepercayaan uniknya sendiri. Bisa, saja, kalau dia adalah saeorang yang tidak jujur, dia akan menganggap segepok uang yang jatuh di jalanan adalah “hadiah” dari Tuhan. Atau, kalau mau dibungkus secara rohani, uang itu adalah “jawaban” atas doa kita karena kita memiliki kebutuhan yang sudah lama kita doakan. But, money does not grow on the street.
Tidak tamak adalah nilai unik lain yang dimiliki oleh seorang gelandangan. Ada kalanya, orang-orang yang merasa dan mengaku diri sebagai orang besar, hanya karena memiliki posisi di tempat kerja, prsetise di mata masyarakat, kekayaan dsb berubah menjadi yang lebih rendah dari gelandangan yang hidup mengembara di jalanan. Ukuran yang paling mudah adalah, sejauh mana kita nmau berbagi dengan orang lain ketika mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan adalah parameter yang paling mudah dilihat dan diaplikasikan untuk mengetahui apakah kita benar-benar orang besar dengan hati besar. Atau sebaliknya, orang besar dengan hati dan jiwa kerdil. Sikap terhadap orang lain yang mendapatkan kebahagiaan yang dulu pernah kita dapat tetapi sekarang orang lain yang mendapatkannya, apakah ketika orang lain merasakan dan mendapatkan kebahagiaan yang dulu pernah kita dapat dan rasakan kita menjadi marah atau jealous karenanya. Atau parahnya, kita berusaha dengan segala cara untuk menghalangi supaya kebahagiaan itu tidak bisa dirasakan oleh orang lain, saat itulah kita terbukti menjadi seorang besar dengan jiwa dan hati kerdil.
Kavanaugh, sekali lagi, hanya sebuah contoh dari betapa seorang miskin papa yang dimata umum dipandang hina ternyata bisa menjadi seorang besar dengan hati besar dalam keterbatasan dan kekecilannya. Bukankah ini seharusnya menjadi kaca cermin atau bahkan pukulan telak bagi kita yang selalu mengidentikkan orang miskin dan kemiskinan dengan ketidakjujuran. Kemapanan materi dan kedudukan sebagai penanda bahwa seseorang adalah orang yang berhasil dan selalu layak untuk dijadikan acuan dan rujukan dalam berperilaku (?). Tak selamanya, paling tidak menurut saya, si miskin dan papa selalu tak memiliki nilai-nilai untuk menjadi seorang besar dengan hati besar. Tak egois dan mengakui serta menyadari hak orang lain adalah salah satu nilai besar yang bisa dimiliki oleh semua orang. Dan, pada dasarnya, semua orang memilikinya. Hanya saja, seringkali nilai-nilai semacam itu hilang atau dengan sengaja dihilangkan hanya karena kepentingan sesaat yang, dalam pikiran sebagian orang, adalah kepentingan futuristis (tapi sebenarnya salah).
Tak perlu jadi gelandangan memang untuk memiliki nilai-nilai yang seharusnya dimiliki oleh orang besar yang berhati besar. Akan tetapi, kalau orang kecil saja bisa memilikinya, bukankah seharusnya kita (yang sering kali menganggap diri) orang besar bisa memilikinya juga. Bahkan dalam tingkat dan derajat yang jauh lebih besar. Tak ada salahnya belajar dari yang kecil. Karena yang kecil itu selalu memiliki nilai-nilai besar. Tak selamanya salah ketika kita belajar melihat dan memandang ke bawah karena di bawah sana ada banyak hal yang perlu kita ketahui. Kalau tak ada yang bawah, dengan apa kita bisa mengatakan ada yang atas. Keterbukaan hati sangat diperlukan untuk bisa belajar dari yang kecil guna menjadi yang besar. Masihkah kita memiliki nilai-nilai “kecil” kita seperti Kavanaugh? Mari merenung.

“Mama kok umbah-umbah (Mama kok masih cuci-cuci)…?” Menggelikan memang. Tapi, inilah yang saya dengar dari seorang ibu dalam kumpulan ibu-ibu yang sedang menunggu anaknya sekolah. Sayapun sedang menunggu anak saya yang kecil pulang sekolah. Satu kali seminggu, saya bisa melakukan hal membahagiakan ini karena saya shift siang. Kebahagiaan yang tak tergantikan oleh apapun.

Memang tak ada yang serius dari ungkapan diatas, tapi paling tidak membuat saya berpikir ulang, apakah sebuah sebuatan seperti mama memang nilai dan kehormatannya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan si mbok, biyung, umi, bunda, mimi dsb yang kedengarannya bernuansa “lokal” (tapi ingat umi asalnya dari Arab, kalau mimi…?). Benarkah mama selalu dan identik dan boleh diidentikkan dengan yag serba canggih dan serba wah sehingga mama tak boleh dan tak berhak umabh-umbah dan korah-korah (bahasa Jawa untuk cuci baju dan cuci piring). Bolehkah dengan sekenanya kita mengidentikkan ibu, umi, si mbok, bunda dan biyung dengan kerja kasar dan pekerjaan-pekerjaan yang tak terhormat (adakah pekerjaan yang tak terhormat, dalam konteks yang positif, kalau kita melihat tujuannya?). Apakah selamanya mama harus diposisikan sebagai yang hanya duduk manis, main perintah dan tunjuk sana-sini, arisan ke mana-mana karena papa jarang di rumah, apalagi ketika papa pulang tak bawa uang?

Kalau kita belajar bahasa, kita akan menjumpai pergeseran makna dan rasa. Yang dulunya dirasa nilainya biasa-biasa saja sekarang menjadi “tak biasa”. Contoh mudahnya adalah kata babu atau jongos. Dulu pada zaman kolonial, sebuatan ini dipakai untuk menyebut pembantu rumah tangga. Dan pada saat itu fine-fine aja. Coba lakukan sekarang. Dulu, ketika masih muda, saya pernah sangat tersinggung ketika seorang teman dari etnis lain menyebut pembantunya sebagai genduk. Kemarahan itu timbul ketika mengetahui bahwa yang disebut dengan sebutan seperti itu adalah orang yang usianya seusia ibu saya dan dia memang seorang ibu. Marah. Bagaimana mungkin seorang tua disebut sebagai genduk. Apalagi ketika penyebutan seperti itu disertai dengan sikap dan polah tak sopan dan merendahkan. Kutegurlah dia.
Bagi saya, apapun sebutannya, apakah ibu, umi, mama, si mbok, biyung itu hanyalah sebutan dan bentuk sapaan untuk menyatakan kasih dan cinta antar anggota keluarga. Yang salah adalah, ketika kita memanggil istri atau suami orang lain dengan sebutan mama. Itu adalah kavling yang salah bin tidak benar. Mama, umi, bunda adalah sebuah bentuk sapaan yang tak selalu dan selamanya menghilangkan hak istimewa untuk umbah-umbah dan korah-korah. Bukankah jauh lebih baik jika seorang mama masih mau dan mampu umbah-umbah dan korah-korah daripada mama harus pergi ke laundry tapi uang belanja tak sampai tengah bulan karena sebagian besar tersedot untuk mambayari jasa binatu. Bukankah umbah-umbah dan korah-korah bukan sesuatu yang memalukan? Tahukah kita bahwa keduanya bisa dijadikan sarana komunikasi keluarga. Juga, dengan umbah-umbah mama bisa dapat penghasilan tambahan (buka jasa laundry maksudnya).
Memikirkan ungkapan seorang ibu di tengah kerumunan ibu-ibu itu, saya jadi teringat akan sebutan Ratu. Masih untung mama hanya dikatakan tak layak umbah-umbah, lha … kalau Ratu… ratunya lebah maksudnya, apa pekerjaannya? Berbahagialah mama yang masih mau umbah-umbah demi kasihnya kepada keluarga. Berbahagialah anak-anak dan papa kalau mama masih mau umbah-umbah dan korah-korah sehingga uang belanja bisa cukup sampai awal bulan berikutnya. Akan tetapi, bantulah mama supaya tak kehabisan waktu dan tenaga hanya untuk umbah-umbah dan korah-korah. Karena apapun namanya, mama bukan pembantu. Dia adalah ibu. Pembantu pun bukan babu yang bisa kita hisap dan kita pekerjakan tanpa perasaan manusiawi. Bagaimana mama, apakah kau masih berbahagia ketika harus umbah-umbah dan korah-korah? Semoga bermanfaat.

Ledakan bom di markas Jaringan Islam Liberal, yang sejatinya dikirim untuk Ulil Abshar Abdalla, pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL), tetapi meledak ketika “ditangani” oleh polisi yang mengakibatkan tiga personil baju coklat terluka, bahkan salah satunya harus kehilangan “sebagian” tangannya menyisakan pertanyaan,”Masih adakah ruang bagi perbedaan?” Perbedaan pandangan dan keyakinan dalam memahami agama, iman dan keimanan.
Agama, iman dan keimanan pada hakikatnya, harus diakui, sebagai hak mendasar setiap individu. Pada hakikatnya, semua orang berhak memiliki dan menganut paham dan pandangannya sendiri dalam menafsirkan agama dan iman. Semua bebas. Memang, tak bisa dipungkiri bahwa dalam “menafsirkan” dan “menghayati” sebuah ajaran iman, oarang tidak bisa lepas dari pedoman dan panduan—kitab suci.
Proses “menafsirkan” sebuah ajaran bukanlah proses yang bebas konflik maupun potensi konflik. Konflik itu bisa terjadi melawan diri sendiri bahkan melawan orang dan pihak lain. Ketika seseorang tidak memiliki cukup pengetahuan (?) untuk menafsirkan sebuah ajaran, dia bisa berputar-putar dalam pusaran yang bisa membuatnya semakin bingung. Parahnya, dalam kebingungan semacam ini, orang bisa memunculkan sebuah ajaran atau pemahaman baru mengenai dan dari sebuah ajaran. Potensi konflik juga sangat besar meletup menjadi konflik nyata secara fisik ketika di dalamnya ada kepentingan-kepentingan yang diusung. Kepentingan untuk menjadi yang superior di tataran sempit atau bahkan hegemoni dan dominasi terhadap kelompok lain dengan memperalat konteks mainstream sebagai single majority.
Harus diakui bahwa proses pemaknaan terhadap ajaran iman tidak bisa dilepaskan dari pengalaman walaupun harus disadari pula bahwa tidak sepenuhnya kalau kita menimbang ajaran iman berdasarkan pengalaman empiris. Ini adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa disangkali begitu saja. Orang bisa merasa Tuhan dekat ketika merasakan kebaikan langsung dari Tuhan. Tetapi sebaliknya. Pemaknaan seperti ini ada dalam semua penganut agama ataupun kepercayaan. Akan tetapi, tak selamanya dan semua umat melakukannya.
Bom Utan Kayu paling tidak, diantara sekian banyak kekerasan dengan mengatasnamakan (baca: memperalat) agama yang tidak hanya terjadi di negeri ini dan dilakukan oleh kelompok dari agama tertentu, adalah cerminan dari masih adanya ketidakarifan dalam menyikapi perbedaan. Tak bijak kalau peristiwa Utan Kayu kita jadikan sebagai dasar untuk menunjuk agama tertentu sebagai agama yang anti perbedaan dan anti toleransi. Bukan agamanya yang tidak dan anti toleransi. Bukan. Sang pelakunya. Semua agama selalu mengajarkan umatnya untuk menjadi rahmat bagi alam semesta dalam arti yang sesungguhnya yang di dalamnya juga mengakui adanya perbedaan dan toleran terhadap orang yang berpikiran dan berpandangan berbeda bahkan ketika orang atau sekelompok orang itu laksana sebuah kerikil kecil di dunia bebatuan.
Banyak sikap dan opini dinyatakan menyikapi peristiwa ini, mulai dari mengutuk dan bahkan menyalahkan pihak-pihak tertentu. Masalahnya adalah, cukupkah hanya dengan mengutuk dan menyalahkan pihak lain atas terjadinya peristiwa ini? Cukupkah kutukan, makian dan cercaan bisa menyelesaikan dan menjamin masalah ini tidak akan terulang kemudian hari? Atau, apakah kita memang sudah menjadi orang yang hanya bisa mengutuk dan menyalahkan orang atau pihak lain atas apa yang telah terjadi? Tak pernah cukup dan mencukupi hanya dengan menebar kutuk dan caci maki. Tidak!
Mungkin, akan lebih baik kalau kita tidak hanya bisa mengutuk dan menyalahkan tetapi bersimpati dan berempati sembari melakukan tindakan nyata—membina kerukunan dan toleransi bahkan menyikapi dengan arif perbedaan yang ada tanpa menggunakan kekuatan senjata. Memang, disadari sepenuhnya, tidak ada jaminan ketika kita melakukan tindakan nyata dalam bentuk simpati, empati dan toleransi, peristiwa semacam ini tidak akan terjadi lagi. Tidak ada jaminan! Paling tidak, dengan tidak mengutuk dan menyalahkan akan membantu menjaga suasana tetap bisa kondusif. Sekali lagi, tak ada jaminan bahwa peristiwa semacam ini tidak akan terjadi lagi dengan sasaran, alasan, pelaku, dan tempat yang berbeda.
Masih adakah ruang bagi perbedaan dalam hal yang sangat hakiki dan mendasar yang bisa mengakomodasi perbedaan yang ada dengan tanpa mengintimidasi dan membinasakan. Atau, apakah sudah sedemikian jauhnya kita melenceng dari jalan Tuhan ketika kita memaknai ajaran Tuhan sehingga membuat kita, dalam keangkuhan kita berani mengatakan bahwa orang atau pihak lain yang berbeda dengan kita memang harus dilenyapkan. Siapakah sebenarnya yang berhak menentukan bahwa kita adalah yang paling benar dan paling “lurus” sehingga yang tidak sepaham dengan kita adalah yang bengkok, menyimpang dan layak dilaknat?

“Jangan pilih yang itu. Itu tidak cocok buat kamu,” kami berkata kepada anak perempuan kami ketika mengantarkan dia membeli sepatu pada tahun ajaran baru. “Yang ini saja. Aku suka yang ini. Teman-temanku semua (?) pakai model seperti ini,”katanya menimpali saran kami. Ketika kami menunjukkan sepatu lain yang kualitasnya lebih bagus dan sesuai untuk dia serta harganya lebih mahal (kami tahu tipe apa anak kami dan ketahan sepatu yang selama ini dipakainya), dia tetap menolak. Keukeh. Akhirnya, mau tidak mau dan suka tidak suka, dengan sangat terpaksa, karena bisa memperkirakan umur sepatu semacam itu di kaki si kinestetik smart, kami memberikan uang dan memintanya membayar sendiri di kasir. Terpaksa.
Benar, tak sampai 3 bulan, sepatu itu rusak bagian “gesper”nya (sebenarnya kurang tepat kalau disebut gesper karena yang ada bukan pengait dari logam tetapi semacam kain dua sisi yang berperekat atau bahasa gampangnya kretekan. Fatal. Meskipun kondisi sol dan bagian lainnya masih bagus, tetap saja, karena pengaitnya yang rusak, sepatu itu menjadi tidak nyaman ketika dipakai. Kasihan.
Kubawa sepatu itu ke tukang sepatu di “desa” seberang. Kami minta bagian yang rusak itu diganti dengan yang baru. Diganti. Tapi, ya sama saja, umurnya tidak lebih dari 1 minggu. Rusak lagi. Tak nyaman lagi dipakai. Tak tega ketika melihat dia turun dari motor dan berjalan menuju gerbang sekolahnya dengan langkah kaki yang tak mantap seperti menahan sepatunya supaya tak terlepas. Aku tahu, bahwa dia merasa sangat tidak nyaman dengan hal itu. Aku tahu, tahu benar tentang hal itu. Kegelisahannya pun kutahu. Lagi, sekali lagi, iba melihatnya.
“ini saatnya memberi gadis kecilku pelajaran dengan menunjukkan fakta”, batinku berkata. Sepulang dia sekolah, segera kutanyakan kenapa dia tidak nyaman berjalan. Tak ada kata yang terucap. Aku tahu “ketakutannya” karena aku bapaknya dan yang membesarkannya. Segera kutunjukkan bahwa pilihannya (sepatu baru itu) baik tetapi tidak benar. Dia bisa menerima apa yang aku katakan tentang pilihannya. Aku hanya berpikir, orang dengan tipikal semacam ini harus diberi “kesempatan” untuk belajar dari pengalaman. Walaupun, kalau kita memakai logika dan hitung-hitungan matematika, tentunya rugi kalau membeli sepatu dengan harga yang tidak beda jauh dengan sepatu yang harganya sedikit lebih mahal tetapi dari sisi kualitas lebih baik dan sebenarnya cocok untuk kondisinya. Inilah yang oleh banyak orang dikatakan sebagai konsekuensi dari sebuah pilihan. Dia memilih sepatunya sendiri sesuai dengan keinginan hatinya. Salahkah? Tidak sama sekali. Tetap ada konsekuensi dari sebuah pilihan.
Akhirnya, aku mendapatkan momen yang tepat untuk mengajarkan sebuah nilai kepada gadis kecilku yang kinestetik smart itu. “Papa belikan kamu sepatu baru. Tapi kali ini papa yang memilih! Bagaimana?” Deal. Gadis kecil yang kinestetik smart itu setuju dengan kondisi yang aku ajukan. Kami mengatur waktu untuk membawa dia ke toko sepatu. Akhirnya, sepasang sepatu terbeli, tentunya sesuai dengan kondisi yang telah disepakati bersama.
Dari kasus sepatu baru ini ada beberapa hal yang saya pribadi bisa pelajari, terutama dalam kaitannya dengan menjadi diri sendiri dan menyikapi lingkungan di sekitar kita. Ketika kita harus memilih, memilih apapun juga, tentunya ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dan diperhitungkan. Ketika kita menentukan pilihan hanya karena semua orang melakukannya atau karena trend yang ada adalah seperti itu, kadang dan seringkali kita kehilangan satu sisi dari diri kita. Ketika kita menyikapi sesuatu hanya karena mengikuti “keinginan pasar” kita seringkali menjadi “salah jalan”. Mungkin, ketika mempertimbangkan untuk bertindak atas dasar “keinginan pasar”, kita sebenarnya hanya takut tidak diterima oleh “pasar”. Hanya itu. Hanya takut dianggap tidak solider, tidak CS, tidak loyal atau tidak-tidak lainnya yang orientasinya sangat sempit. Lalu apakah “keinginan pasar” tidak harus dipertimbangkan? HARUS. But, tentunya keinginan pasar tidak seharusnya membuat kita dengan sengaja membuang atau melupakan jati diri kita yang sebenarnya. “Keinginan pasar” sifatnya hanya temporer dan berubah dengan sangat cepat. “Keinginan pasar”, apalagi kalau orientasinya bukan profesionalisme tetapi individualisme dan perasaan tidak akan membuat kita menjadi manusia yang dewasa dalam arti sesungguhnya.
Mengetahui dan mencari tahu siapa sebenarnya diri kita dan apa yang kita butuhkan serta dapat kita berikan kepada lingkungan dan tempat kerja adalah hal lain yang bisa dipelajari. Pertanyaan yang bisa kita pakai untuk mengidentifikasi kebutuhan semacam itu salah satunya seperti ini,”Siapa aku sebenarnya di lingkungan ini? Betulkah aku memang membutuhkan (bukan hanya menginginkan) hal-hal seperti itu? Apa kontribusi yang harus dan bisa kuberikan untuk lingkungan ini? Apakah ukuran yang dipakai oleh komunitas di sini baik ataukah benar untuk menilai sesuatu? Pertanyaan lain yang bisa dipakai untuk membuat kita tetap bisa adaptif (bukan menjadi bunglon) adalah,”Siapa yang bisa dan layak diajak bertukar pendapat dan berdebat untuk mencari solusi atas masalah yang ada dan meningkatkan produktivitas kerja?”
Hal ketiga adalah menanamkan nilai-nilai yang benar melalui pendekatan yang tegas. Ketika mengatakan,”Papa belikan kamu sepatu baru. Tetapi kali ini papa yang memilih” sebenarnya saya sedang menanamkan sebuah nilai mengenai seringkali kita kurang menyadari adanya peluang untuk melakukan kesalahan. Ketika diingatkan pada fase-fase awal, kita cenderung menolak dengan berbagai dalih. Ada saja. Kita terpaksa harus menunggu orang-orang seperti itu “kejeduk” dulu baru kita bisa memasukkan dan menanamkan nilai-nilai lain selain nilai yang diyakininya benar. Buth pengorbanan, kesabaran, bahkan mungkin sedikit “luka”. Menunggu dan menentukan strategi adalah cara win-win untuk memenangkan “pertarungan” dengan orang-orang bertipe seperti ini. Belajar dari pengalaman, yang diperlukan.
Hal terakhir adalah, mengambil sebuah tindakan yang mungkin oleh banyak dianggap tidak populer dan otoriter. Dalam konteks-konteks tertentu, tindakan yang dikonotasikan semacam itu perlu diambil dan dilakukan. Apalagi ketika kita melihat dan mengetahui adanya potensi kerusakan yang lebih parah baik terhadap individu maupun lingkungan kerjanya. Tapi, memang seharusnya dan selayaknya, mengambil tindakan tidak harus menunggu datangnya musibah. Namun di sini konteksnya lain.
Ya, apapun namanya, ini hanya sebuah perenungan yang amat sangat sederhana dan jauh dari sempurna. Tentunya, kita memiliki nilai-nilai kita sendiri. Akan tetapi, nilai-nilai yang kita yakini dan kita anut selama ini kadang-kadang ada potensi salahnya juga. Saya pun menyadari hal itu sepenuhnya. Oleh sebab itu, akan jauh lebih indah kalau kita bisa saling bertukar nilai-nilai dan pandangan-pandangan kita yang konstruktif. Tak ada gading yang tak retak (kalau gajahnya memang masih hidup dan boleh diambil gadingnya), tak ada jalan yang tak berlubang dan berliku (tanyakan kepada DPU kenapa hal ini terjadi), tak pernah ada yang kaya seorang diri (karena monopoli bertentangan dengan undang-undang antimonopoli), dan tak ada superman (di Indonesia belum ada laki-laki yang cukup gila dengan berjalan-jalan di tempat umum sambil mengenakan CD di luar celananya), akan sangat bermanfaat kalau kita mau saling berbagi. Kita masing-masing memiliki “sepatu”. Mungkin tak perlu memberikan sepatu Anda kepada saya (takutnya kalau sepatu itu emang hanya satu-satunya), cukup ceritakan seperti apa (bentuk, ukuran dan baunya) “sepatumu” padaku supaya kutahu “rasa sepatumu”. Syukur-syukur, suatu hari kau merelakan “sepatumu” kupinjam sesaat (pasti ku kembalikan. Jangan takut!) supaya ku bisa belajar bagaimana rasanya ketika kau memakainya. Pinjam sepatunya dong. BOLEH?

Kaget juga ketika aku bertemu dengan tukang perahu yang siangnya perahunya kami pakai untuk berwisata. Berlayar di teluk pantai Perigi Tulungagung. Ternyata, dia tinggal di depan wisma tempat kami menginap. Sampai kini masih bisa kuingat jelas bentk tubuh, gaya bicara dan optimismenya. Jarang, jarang sekali ada orang yang bisa meninggalkan kesan begitu dalam bagiku. Sampai saat ini, hanya ada beberapa orang yang bisa meninggalkan kesan mendalam dalam hidupku—anak-anak, istri dan keluargaku. Ada sebab mereka begitu meninggalkan kesan mendalam dalam hidupku.
Tukang perahu, ya tukang perahu sederhana itu, yang akhirnya kuketahui lewat obrolan panjang kami di teras wisma ketika hujan mengguyur lebat bagai dicurahkan dari langit, usianya tak beda jauh dariku. Kesan dan pelajaran mendalam ditinggalkannya di dalam hati dan pikiranku sampai saat ini yang akan selalu kuingat dan kupakai dalam hidupku—tidak egois dan mementingkan diri sendiri.
“Ndak wes, luwih becik ora oleh duit tinimbang ciloko. Lek nyawaku dewe ora opo-opo. La kuwi, aku ora tegel ndelok bocah-bocah semono akehe. Lek ono opo-opo aku getun tenan. Ora wes. Bene ora duwe duwit ritek”. Sebuah ungkapan bijak dari orang sederhana. Terjemahan bebasnya sepeti ini,”Tidak, lebih baik aku tidak dapat uang daripada celaka. Kalau nyawaku sendiri (yang hilang) tidak masalah. Aku tidak tega melihat anak-anak sebanyak itu. Kalau terjadi apa-apa, aku akan sangat menyesal dan tidak bisa memaafkan diriku sendiri (karena anak-anak itu). Enggak mau. Tidak apa-apa tidak punya uang. Gak masalah”. Ungkapan itu dikatakannya ketika kami “menantangnya” untuk berlayar lagi besok. Beberapa kali kami “tantang”, bahkan dengan mengatakan dia kecil nyali (kalau orang salah memahami, ini bisa mengakibatkan pertengkaran karena dianggap menghina), jawabannya tetap sama “Ora” dan “Ben ora duwe duwit ritek”. Keukeh.
Sungguh orang yang dewasa dan tak mementingkan dirinya sendiri. penolakan ini bukan tanpa sebab. Siangnya kami sewa perahunya untuk berlayar di teluk pantai Prigi. Dan… kami terjebak badai. Angin dan gelombang menghempas perahu. Hujan mengguyur dengan lebat walau tak lama. Perahu tak bisa “diparkir” karena diseret angin sakal. Tak karam perahu dan penumpangnya sudah sangat bagus dan anugerah teramat besar.
Seandainya tukang perahu sederhana itu adalah orang yang egois dan “pandai melihat peluang”, maka dia akan menerima tawaran kami. Jumlah yang cukup lumayan bagi nelayan yang sudah lebih dari satu bulan tak bisa melaut karena hantaman cuaca ekstrim. Tak perlu berlayar sampai jauh ke tengah samudra. Hanya mengantar dan menunggu kami berenang beberapa jam. Selesai. Dapat uang pula. Tak perlu keluar biaya solar besar (saya tanyakan ke dia berapa habis solarnya untuk berlayar seukuran itu—tak lebih dari 10 liter). Seandainya dia orang tamak, dia akan memakai logika matematikanya. Ukuran kapal dan jumlah penumpang sangat berimbang. Perahu ini biasanya diawaki oleh 22 orang dewasa. Bisa memuat ikan tangkapan lebih dari 10 ton. Jumlah kami waktu itu, termasuk anak-anak, kurang lebih 30 orang. Tak lebih dari 10 ton. Apanya yang ditakutkan? Tak ada bukan? Itu kalau dia orang tamak dan terlalu ”pandai melihat dan memanfaatkan peluang”.
Ketika lebih jauh saya bertanya kepadanya, apa yang membuatnya “takut” (selain penumpangnya banyak anak kecil), angin yang dia takuti. “Nek ombak iso dihindari mas, tapi lek angin, ampun, ora ono sing iso. Iku kuasane “sing dhuwur”. “kalau ombak bisa dihindari (dia mengatakan bisa melihat ombak dan ke mana arahnya), kalau angin, tidak bisa. Itu kuasa Tuhan”. Memang, kondisinya pada waktu itu, kami diombang-ambingkan oleh angin. Beberapa kali aku mendengar derit dan gertakan suara kayu bergeseran dengan sesuatu. Sempat aku berpikir, tak mungkin dasar perahu ini menggesek batu karang karena dasar laut sangat dalam. Kami sudah ada di tengah teluk. Jawabannya adalah, derit dan gertakan ini timbul karena lambung kapal di hantam ombak. Baru aku menyadarinya. Kepikir juga, bagaimana kalau perahu ini pecah. Ngeri.
Dua kesan mendalam yang ditanamkan sang tukang perahu sederhana ini. Tidak tamak, peduli kepada keselamatan orang lain terutama anak-anak dan tahu siapa dirinya di hadapan Tuhan. Ada yang lebih besar dan maha besar yang mengatasi kemampuan manusia. Dia, Dia yang Maha Besar dan Pencipta segala sesuatu yang berkuasa dan berdaulat penuh atas ciptaanNya. Yang berhak menentukan hidup dan matinya ciptaanNya.
Pelajaran yang bisa kita ambil dari perspektif tukang perahu ini adalah, uang bukan segala-galanya. Keselamatan orang lain terutama anak-anak yang adalah penyambung generasi jauh lebih penting daripada uang, money, geld atau apapun namanya. Tidak terlalu mengandalkan rasio dan logika matematis adalah hal kedua yang bisa kita pelajari. Secermat-cermatnya logika matematika, tetap ada peluang untuk “meleset” apalagi ketika diperhadapkan dengan kekuatan alam, apalagi kekuatan Tuhan sang Maha Pencipta yang Maha Besar.
Tahu bahaya adalah hal ketiga yang bisa kita pelajari. Seringkali, ketika kita dalam kondisi dan keadaan senang, kita lupa dan tidak bisa melihat adanya potensi bahaya dalam berbagai bentuknya. Kesenangan dan kenikmatan yang sedang kita rasakan menutup mata bahkan mata batin kita sehingga kita tidak bisa bahkan (celakanya) tidak mau melihat adanya potensi bahaya bahkan di dalam kesenangan yang sedang kita nikmati. Lebih celakanya lagi, ketika ada “orang luar” yang memeringatkan kita sedang terancam bahaya, kita bersikap tidak senang kepada yang memeringatkan kita dengan mengatakan,”Kamu tahu apa. Jangan iri dong!” “Everything is ok”, “Ini duniaku sehari-hari dan akulah yang paling tahu duniaku, bukan kamu!” ya, kesenangan seringkali menutup mata batin kita untuk melihat dan mengetahui ada bahaya mengancam dari dan dalam kesenangan itu. Kita mabuk di dalamnya.
Tak selamanya, orang pinggiran dan sangat sederhana tak memiliki nilai-nilai dan kapasitas serta kapabilitas untuk memberikan pelajaran yang mengasah batin kita. Kalau yang mengasah akal, mungkin, kita yang “orang kota” jauh lebih memilikinya. Akan jauh lebih bijak kalau kita yang “orang kota” mau menerima perspektif “orang sederhana”. Tak selamanya yang sederhana tak berguna. Tak selamanya juga yang “kota” selalu berjaya dan membuat orang bisa berjaya secara batin. Kita dengan kamampuan akal kita bisa menjadi orang yang tahu, tetapi tak selamanya kita bisa menjadi orang yang mengerti. Kearifan seringkali muncul dari hati dan memberdayakan akal. Masihkan keukeh untuk berpegang tak perlu belajar dari “orang luar nan sederhana”? semoga bermanfaat.

Seperti yang saya janjikan di tulisan saya sebelumnya mengenai obrolan para laki-laki di dunia tanpa sinyal, kali ini saya tampilkan topik kedua dari seri bincang-bincang hangat di dunia tanpa sinyal. MAIN DI LUAR VS MAIN DI DALAM. Sejak awal, dalam tulisan pertama, sudah saya paparkan bahwa topik pembicaraan kali ini adalah fenomena bos yang suka “main di dalam”. Sekali lagi, karena pelaku perbincangan semuanya adalah laki-laki, maka “obyek” pembicaraanya adalah wanita. Pun demikian, sebenarnya, perbincangan ini isinya juga berlaku untuk wanita. Tidak ada maksud merendahkan perempuan. Sama sekali tidak. Ini hanya sebuah tulisan, walaupun reportase, yang mengetengahkan opini-opini pribadi tentang sebuah permasalahan. Itu saja.
Setelah menyelesaikan sesi untuk menjawab pertanyaan,”Hebat mana, aku atau dia?”, sesi ikutannya adalah,”Mana yang lebih terhormat, MAIN DI DALAM atau MAIN DI LUAR. Konteksnya jelas-jelas perselingkuhan dan uang atau materi sebagai tujuan pihak inferior dan hegemoni dari sisi sang superior. Tak selamnya orientasinya seksual. Namun sangat terbuka kemungkinan untuknya. Kata MAIN disini tidak serta merta bisa diasumsikan sebagai hubungan seksual tidak sah antara seseorang dengan lawan jenis yang bukan pasangan resminya.
Nah sekarang, menurut teman-teman, manakah yang lebih terhormat, MAIN DI LUAR ATAU MAIN DI DALAM? Sebenarnya yang lebih tepat adalah, “main” dengan orang di luar atau dengan orang dalam. Seandainya saja, kita “aminkan” dulu opini banyak orang bahwa selingkuh itu indah, dalam konteks ini, mana yang teman-teman pilih, apakah “main” dengan orang luar ataukah dengan orang luar. Yang paling bagus adalah tidak dua-duanya.
Kembali ke pilihan dalam perbincangan. Hanya ada dua pilihan. Kalau kita jadi bos dan dikelilingi “dayang-dayang”, tapi ingat, tidak semua dayang bisa diajak berbuat tidak benar dan tidak semua dayang memiliki keinginan untuk berbuat tidak benar, apakah kita memilih bermain dengan orang dalam dari antara salah satu “dayang” ataukah kita memilih untuk mencari “dayang” diluar dengan pertimbangan kehormatan. Ingat pilihannya hanya dua.
Dalam perbincangan itu muncul perkataan,”Lebih baik main diluar. Itu lebih terhormat. Daripada main di dalam (baca: dengan orang dalam) yang menyolok sehingga menjadi rahasia umum yang menganggu kinerja perusahaan dan jadi bahan tertawaan dan caci maki di belakang lebih baik main sama orang di luar perusahaan. Kagak ada yang tahu dan tidak menganggu kinerja karena terjadinya tumpang tindih antara kepentingan pribadi dengan kepentingan pekerjaan. It’s seems so wise.
Bermain di luar, menurut opini seseorang dalam percakapan di dunia tanpa sinyal, jauh lebih terhormat. Bermain di dalam dengan orang dalam lebih membahayakan karena mudah teridentifikasi dan dari segi prestise sebenarnya membuat seorang juragan lebih kelihatan sebagai orang yang tidak prestisius.Benarkah seperti ini?
Opini yang mengemuka dalam obrolan ini menurut saya kok kurang pas. Bermain di dalam (dengan orang dalam) dan bermain di luar (dengan orang luar) sama-sama tidak prestisius. Mungkin, ketika opini ini dilontarkan, yang satu tampak lebih baik dari yang lain. Untuk konteks yang negatif, mungkin bisa jadi demikian. Kurang pas juga, karena pilihannya negatif semua. Tidak ada yang posistif. Ya, tapi namanya opini dan yang diomongkan juga hal yang negatif (tidak ada selingkuh dan menyelingkuhi yang indah) maka opini ini menjadi sah dalam konteks, konsep dan waktu itu.
Bukan tanpa alasan opini ini muncul. Yang jelas, sebuah opini muncul atas dasar fakta. Dan, fakta itu ada di sekitar kita. Tinggal sejauh mana kita peka untuk mengendus dan mengidentifikasinya. Fakta ini juga muncul bukan tanpa dasar dan kepentingan sebagai motif yang menggerakkan pelakunya.
Ada berbagai motif yang mendasari “main di dalam” baik dari sisi si inferior dan sang superior. Terlalu naif kalau dikatakan bahwa dari pihak yang inferior ekonomi adalah alasan utama untuk bermain apa dengan atasan. Walaupun faktanya hal seperti itu tidak pernah tertutup kemungkinannya. Kesenangan dan kepuasan yang tak hanya berhenti pada asumsi kepuasan dan kesenangan di tempat tidur. Walaupun faktanya, dalam permainan di dalam maupun di luar, urusan tempat tidur bukan hal yang bisa dilepaskan begitu saja. The power of sex tidak bisa dimungkiri. Dia masih tetap memiliki power. Short cut bisa juga mengilhami seseorang untuk terlibat permainan atas bawah dengan orang di dalam. Ketika orang merasa “tetangganya” yang selevel dengannya di tempat yang sama sehari-harinya lebih jaya dan “bersinar” sementara dia merasa, sekali lagi merasa, lebih “berkeringat” sementara tetangganya yang santai dan leha-leha saja bisa “dapat banyak”, dalam kefrustasiannya karena salah memandang, job performance bukanlagi sebagai patokan utama, apalagi kalau diketahui bahwa sang juragan adalah tipe yang suka “dielus” dan larut dalam buaian dan elusan sehingga tidak bisa melihat dengan benar kinerja anak buahnya, celah inilah yang dimanfaatkan. But, sangat jarang, namun ada dan terjadi hal seperti ini.
Thirst of prestige juga merupakan alasan yang seringkali dijadikan alasan untuk terlibat dan melibatkan diri dalam permainan atas-bawah baik di dalam maupun di luar. Si inferior merasa memiliki kebanggan tersendiri kalau bisa menjadi “tangan kanan” si bos. Walaupun sembunyi-sembunyi. Ni loh gue, bisa dapat bos kan? Mungkin seperti itu yang dipikirkan. Pada fase ini, yang dibutuhkan si inferior bukan sepenuhnya materi melainkan recognition atau pengakuan. Dalam hal yang tidak benar sekalipun. Mungkin ini adalah bentuk dari pemenuhan akan kebutuhan akan aktualisasi diri yang dalam hirarki kebutuhan Maslow menempati urutan tertinggi di puncak piramida kebutuhan dasar manusia.
Jika dipihak si inferior ada kebutuhan akan aktualisasi diri dengan melakukan hal seperti ini, dipihak superior permnainan atas-bawah dijadikan media untuk menunjukkan dominasi dan hegemoninya atas orang lain. Macam-macam caranya. Ibaratnya di sebuah kerajaan antah berantah, si superior memosisikan dirinya sebagai raja yang memiliki otoritas penuh atas orang-orang yang ada di sekitarnya. Company atau lembaga adalah dunia kekuasaannya tempat dia merasa bebas bermain dan berbuat karena dia adalah raja. Dia yang punya uang dan menentukan. Bagus kalau tipikal seperti ini tidak merasa diri menjadi tuhan.
Seperti hal kerajaan pada tempo dulu-dulu sekali, pada zaman kuno, raja selalu diposisikan sebagai the center of everything. Dia yang menentukan. Di dunianya pun hanya ada satu otoritas yang boleh bermain—otoritasnya saja, walaupun sebenarnya sudah ada sistem baku untuk mengatur kehidupan keseharian. Ini adalah tipikal raja dan kerajaan di dunia yang tidak pernah ada. Salah satu kebahagiaan sang raja adalah dan karena dia dikelilingi oleh banyak dayang, selir (?) yang semuanya tidak memiliki keberanian untuk mengutarakan pendapatnya, apalgi menolak keinginan sang raja. Haram hukumnya (walaupun ini salah sebenarnya). Raja yang harus bahagia dan dibahagiakan karena dialah yang menentukan hitam putihnya nasib warga kerajaannya (?)
Pada dan dalam kondisi seperti ini, sang raja menunjukkan dominasi dan hegemoninya dengan menjadikan dayang-dayang sebagai selir (bukan permaisuri; karena sebenarnya sudah ada permaisuri). Muncul kebangaan (walaupun bagi yang bermazhab bermain di luar lebih terhormat menganggapnya sebagai kebodohan) ketika raja berhasil menjadikan salah satu, salah dua atau salah semua dari dayangnya menjadi parttime sparring partner. Gak pusing apa kata orang. Kebahagiaan diperoleh ketika dia bisa mendominasi dan menghegemoni orang-orang yang ada di sekitarnya yang ada di dunianya untuk sementara waktu (karena orang-orang yang ada di sekitarnya juga memiliki habitatnya sendiri—rumah dan keluarga).
Orang seperti ini cenderung berpikir dirinya adalah problem solver yang mengatasi masalah (dengan) tanpa masalah. Ketika dia merasa bahwa permasalahan yang ada di habitat dayang-dayangnya sudah diatasinya (?) saat itulah hegemoni dan dominasi dijalankannya. “Gak ada alasan. Masalahnya kan sudah selesai. Gue gak mau tahu!” dominasi dan hegemoni inilah yang tidak berani dilawan oleh dayang-dayangnya karena ewuh pekewuh. Rasa pekewuh itu mengalahkan perasaan jujur yang ada jauh di lubuk batinnya yang paling dalam. Bahkan penolakan dari habitat asalnya pun kalah oleh rasa pekewuh ini. Dominasi dan hegemoni adalah puncak kebutuhan sang juragan. I have power and money that can control my world.
Pertanyaan yang mungkin muncul adalah, apakah dalam permainan atas-bawah semacam ini urusan bed enjoyment tidak mengemuka dan menjadi alasan. Pastinya ya. Tempat tidur juga menjadi salah satu bentuk dari pencapaian dan hegemoni tertinggi bagi tipikal seperti ini. Bergesernya medan permainan atas-bawah ke bilik dan tempat tidur juga menjadi salah satu bentuk dari hegemoni dan dominasi “penguasa yang sakit” karena dalam kultur kerajaan tak berbentuk dan bernama tempat dan suasana ini bisa dijadikan sebagai senjata pamungkas dengan menggunakan ajian “aku senang kau ku pegang, ku tak senang kau ku tendang”.
Yang jelas, sebenarnya, ada ketidakpercayaan diri baik dari pihak si inferior maupun si superior. Tak percaya bahwa segala sesuatunya bisa diraih dengan cara-cara yang benar karena kultur bobrok yang ada di sekelilingnya sedangkan dari sisi si superior tidak merasa percaya diri kalau dia bisa “mengendalikan” pihak lain tidak dengan hegemoni, dominasi dan kekuasaannya.
Ah, ini hanya opini pribadi untuk menanggapi opini yang dilontarkan dalam percakapan di dunia tanpa sinyal. Pasti ada yang kurang dan layak dikritisi. Kesalahan yang paling fatal dan mengerikan adalah, ketika pembaca mengamini semua opini ini dan menelannya bulat-bulat. Tak pernah ada selingkuh yang indah. Dan tak lebih terhormat bermain di luar daripada bermain di dalam. Yang jauh lebih terhormat adalah ketika bermain dan melakukan permaian dengan orang yang memang adalah pasangan sah kita. Tak masalah mainnya di luar atau di dalam. Pertanyaan saya adalah, apakah kerajaan, kultur dan perilaku ini memang sungguh-sungguh ada sehingga opini ini muncul ataukah ini hanya gagasan yang muncul secara spontan ketika manusia-manusia yang sudah terbiasa hidup di dunia penuh sinyal tiba-tiba mengalami culture shock karena harus ada di dunia tanpa sinyal? Menurut Anda, manakah yang lebih terhormat, MAIN DI DALAM atau MAIN DI LUAR ketika Anda berkesempatan menjadi raja? Atau, adakah opsi ketiga yang ingin Anda lontarkan. Mari… lontarkan saja.