Archive for the ‘psikologi anak’ Category

KECIL TAPI TAK KERDIL

Posted: April 2, 2011 in psikologi anak

Kecil dan kerdil adalah kata yang arti dan maknanya sebenarnya berbeda. Akan tetapi, secara praktis, karena alasan adanya beberapa kesamaan karakteristik, orang cenderung menganggap keduanya sama. Ilustrasi yang sebenarnya adalah kisah nyata berikut ini mungkin bisa membantu untuk mengetahui perbadaan di antara keduanya.

Ada sepasang sahabat. Yang satu katakanlah namanya Dariono. Satunya lagi Dewa Bradjamusti. Dari namanya saja, kita bisa menebak kalau keduanya berasal dari latar belakang yang sangat berbeda. Mereka tinggal di sebuah rumah kos sederhana. Bukan hanya itu, selama bertahun-tahun mereka tidur di satu tempat tidur yang sama. Bertahun-tahun.

Perbedaan nasib membuat “takdir” keduanya berbeda. Dewa yang dulu pernah bekerja satu tempat dengan Dariono karena kecerdasan dan kepintarannya bisa mendapatkan tempat kerja dan posisi terhormat di kantornya. Sangat terhormat dan berada di ring satu (istilah petugas keamanan). Banyak fasilitas didapatkan. Banyak kesenangan diperoleh dari sang majikan. Dunia dewa saat ini adalah dunia orang-orang besar dengan segala kemewahan, kebesaran, keagungan, gemerlap serta kejayaannya sendiri. Tak ada cacat cela di dalamnya. Semua sempurna. Semua manis. Semua bermartabat tinggi. Beretika amat sangat tinggi sehingga tak ada yang bisa menandingi. Semua adalah orang-orang pintar berotak cemerlang. Sempurna, sempurna dan sempurna. Dari yang pegawai kecil dan rendahan bersyukur orang yang dulu pernah susah payah kerja bersamanya kini bisa menjadi orang besar dan diperhitungkan. Punya banyak anak buah dan apapun bisa diaturnya dengan hanya tinggal bilang. Kebanggan Dariono tulus adanya. Tak ada rasa cemburu sedikitpun karena keberhasilan Dewa.

Lain Dewa, beda Dari. Dariono tetap menjadi seorang pegawai rendahan—seorang tukang sapu di sebuah sekolah kecil. Jauh dari kemewahan apalagi taburan pujian dan kemuliaan. Meskipun hanya menjadi seorang tukang sapu kecil di sebuah sekolah kecil, Dari bersyukur atas apa yang diterima dan dialaminya saat ini.

Bertahun-tahun si Dari bekerja, tetapi dia tidak pernah bisa naik pangkat. Karena memang tak pernah ada jenjang karir untuk tukang sapu. Setia. Dariono kecil yang buta huruf, lugu dan polos tak pernah menyesali kondisinya. Sebaliknya, dia bisa bersyukur atas apa yang diterimanya walaupun orang selalu mengidentikkan diri dan profesinya sebagai sesuatu yang amat sangat rendah, tidak berkelas dan identik dengan kebodohan, ketidakberetikaan dan hal-hal miring lainnya. Jauh berbeda dari yang dimiliki Dewa, teman satu kos dan setempat tidurnya.

Bekerja di lingkungan sekolah, walaupun kecil, Dari terbiasa menyaksikan orang bisa dan boleh berpendapat. Mengutarakan apa yang ada di hatinya dengan bebas. Bahkan ketika pendapat itu berbeda dengan orang lain atau pengajar sekalipun. Bisa bebas. Bisa spontan berpendapat. Tak ada protokoler rumit dan konvensi dimana Dari harus berlaku menyimpang hanya demi mengamankan posisinya atau menyenangkan orang lain. Tetap sederhana, lugu dan polos. Orang lain cenderung menganggapnya bodoh.

Dewa, sebagai salah satu orang besar yang berpikiran cemerlang memiliki kultur yang sangat berbeda. Ada banyak protokoler. Ada banyak kepentingan yang harus dijaga. Ada tuntutan moral tinggi yang harus dilakukan sebagai seorang besar yang ada di lingkungan orang-orang besar. Ada kebutuhan untuk menjaga wibawa di mata anak buahnya. Protokoler panjang dan berliku serta budaya dan penilaian komunal yang dijalankan rutin sehari-hari selama bertahun-tahun membentuk Dewa menjadi orang yang menilai orang lain dengan bahasa logika komunal dan tak bisa tulus karena berbagai kepentingan besar orang-orang mulia. Celakanya, penilaian komunal protokoler seperti inilah yang dipakai untuk mengukur orang lain ketika dia berada di luar lingkungan terhormat dan mulianya yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang. Dariono, teman se-kos dan setempat tidurnya pun dinilai dan diukur dengan cara pandang dan penilaian komunal di tempat kerjanya. Kacang lupa kulitnya.

Akhirnya, terjadi sebuah benturan antara keduanya. Benturan nilai-nilai hidup yang diyakini antara keduanya. Suatu ketika, Dari si pegawai rendahan memeringatkan temannya akan adanya “ancaman bahaya” yang mendekati si Dewa. Satu hal lain yang diperingatkan adalah kemungkinan Dewa menyakiti orang lain melalui pola-pola hubungan yang kurang pada tempatnya dengan rekan kerjanya. Tak mempan. Nasihat dari hanya menjadi seperti angin lalu. Dari tak kuasa dan tak mampu berargumen. Dari kalah karena memang pada dasarnya bukan pekerjaannya beragumen dan berasalan demi berbagai kepentingan. Dewa “berhasil” memberikan argumen yang baginya logis, masuk akal dan tak menganggu orang lain. Mengalah. Dari memilih mengalah untuk menjaga utuhnya persahabatan walaupun jauh di dalam hatinya dia merasakan perbedaan maha luar biasa pada diri temannya ketika sama-sama bekerja dengannya sebagai tukang sapu di sekolah dengan temannya saat ini. Tak ingin menyakiti Dewa yang sudah larut dalam keberhasilan, kebesaran dan kehebatannya, Dari memilih mengalah. Ya sudahlah.

Suatu kali Dewa sang brilian yang dibanggakan banyak orang mengajak (dengan paksa) Dari si pegawai rendahan yang tak beretika, bodoh dan tak bisa menguasai diri ke kantornya untuk suatu keperluan. Demi menjaga persahabatan, walaupun sangat tak nyaman, Dari terpaksa ikut pergi untuk menyenangkan hati dan menjaga martabat Dewa di depan banyak orang di kantornya. Celakanya, ada satu titik ketika dengan polos dan lugu, karena terbiasa melihat dan hidup di lingkungan dimana orang bisa dan boleh berpendapat dengan bebas dengan beragam ekspresi sejauh dalam batas kewajaran, Dari menanggapi pendapat yang dilontarkan oleh tamu terhormat yang diundang oleh bos Dewa. Dari berkomentar secara spontan karena yang dibicarakan memang ada kaitan dengan dirinya. Lupa, Dari lupa bahwa dia tidak berada di lingkungannya sehari-hari. Dia saat ini sedang berada di lingkugan orang-orang hebat yang dipenuhi dengan protokoler dan tata susila tinggi. Akibatnya, cap negatif diberikan sepeninggal Dari tempat itu. Dewa merasa malu atas sikap temannya yang mengusik dan menurunkan martabatnya sebagai orang penting.

Cap negatif ini disimpan Dewa dan baru dimunculkan ketika terjadi gesekan dengan Dari. Gesekan terjadi karena Dari menemukan hal tak pantas dilakukan Dewa di muka umum tetapi tak diakuinya di tempat kos. Hal menyimpang yang ditutup-tutupi untuk sebuah kepentingan dan demi melindungi seseorang dan orang itu adalah orang besar di atas Dewa. Si Dari yang polos dan lugu menjadi sangat kaget karena Dewa menilainya sebagai orang yang tak tahu etika dan tak bisa mengendalikan diri hanya karena semua orang di lingkungann Dewa mengatakan seperti itu ketika Dari hadir dan berkomentar pada satu sesi. Tak ada jaminan memang ketika kita bergaul dan bersama bertahun-tahun dengan seseorang kita bisa sepenuhnya memahami orang itu.

Dari semakin menyadari bahwa Dewa yang sekarang bukan Dewa yang dulu. Dewa yang bisa melihat segala sesuatuya dengan obyektif dan terbuka untuk kritik. Dewa berubah menjadi sosok aristokrat. Menjadi orang yang beretika sangat tinggi tapi tumpul nurani. Dewa menjadi orang yang menilai sahabatnya hanya atas dasar kata banyak orang. Dia berubah menjadi orang yang egosentris. Ketika dia merasa apa yang dilakukan dan dirinya baik-baik saja, maka dia akan tetap melakukan sesuatu walaupun itu menyimpang dan berpotensi menganggu orang lain. Nilai hidupnya bergeser dari “kita” menjadi “aku”. Tata susila yang dianutnya pun menjadi bergeser dari “layak, boleh dan pantas” menjadi “kalau tuan senang”.

Daya defensif dengan segala dalih dan pembenaran Dewa pun meningkat tajam. Dia bisa dan berani memberikan argumen-argumen logis (sayangnya hanya berhenti di situ) untuk sesuatu yang disampaikan Dari sang tukang sapu kecil, miskin dan dekil. Defensif. Bahkan, Dewa berani dan bisa menuntut orang lain untuk jujur sementara dirinya sendiri lain di bibir beda di hati. Dari yang harus mengerti dan memahami dirinya yang adalah orang besar yang bermartabat dan beretika serta bertata susila tinggi. Banyak ungkapan-ungkapan retoris dilontarkan untuk membuat Dari yang dianggapnya bodoh, tak ber-etika dan tak bisa mengendalikan diri bisa dan mau memahami dirinya sementara dia sendiri merasa tak punya kewajiban untuk memahami sahabat kecilnya.

Dari ilustrasi kisah nyata ini, menurut Anda, manakah yang layak disebut sebagai orang kerdil. Apakah si Dari yang seorang tukang sapu rendahan yang hanya bisa hidup lugu, polos, jujur serta apa adanya tetapi bernilai hidup kejujuran adalah mengatakan kebenaran dan apa yang ada di hati terbuka? Atau, orang kerdil itu adalah si Dewa yang mantan orang kecil tetapi dengan segala kepintarannya bisa duduk dan masuk di lingkaran dalam ring 1 dengan segala protokoler, tata susila, etika tinggi serta budaya komunalnya yang membuatnya menjadi sosok yang sangat logis dan egosentris serta “kompromi” demi menyenangkan pembesar di atasnya dan tak hirau perasaan orang lain? Apakah memang selamanya orang kecil selalu berhati dan berjiwa kerdil karena tampil sebagaimana adanya dirinya? Atau, apakah untuk menjadi seorang besar kita harus berjiwa kerdil yang hanya mengandalkan logika dan mengesampingkan hati nurani dan nilai kejujuran?

“MANDIKAN AKU MAMA”

Posted: March 1, 2011 in psikologi anak

Kisah ini sungguh terjadi. Ada seorang wanita brilian, sebut saja namanya Rani. Dia sangat brilian. Ketika kuliah, dia membuktikan dirinya sebagai orang yang brilian dalam bidang akademis. Alhasil, dia mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah S-2 di luar negeri. Semua bisa dilaluinya dengan “sempurna”. Rani menjadi kebanggaan bagi keluargnya.
Akhirnya, Rani mendapatkan seorang suami yang berposisi sangat baik. Lengkaplah kebahagiaan dan “kesempurnaannya” sebagai lambang kebanggaan bagi keluarganya. Rani dan suaminya dikaruniai seorang anak yang mereka beri nama Alifiya. Sungguh nama yang indah. Alifiya tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga yang super sibuk. Mama papanya jarang sekali berada di rumah karena ada sangat banyak kegiatan dan tugas yang harus mereka lakukan. Rani, menjadi ibu yang super mobile. Sebentar di provinsi ini, sebentar lagi di luar negeri. Begitu seterusnya. Mobile. Very mobile.
Sautu ketika si kecil Alifiya meminta adik. Namun karena kesibukan Rani dan suaminya yang sangat sangta luar biasa, permintaan itu belum bisa dipenuhi. Kehidupan kembali seperti semula. Si kecil diasuh oleh kakek dan neneknya serta seorang suster. Mereka selalu menanamkan kepada si kecil untuk mencontoh ayah dan ibunya yang bisa menjadi kebanggan bagi orangtuanya. Alifiya tumbuh menjadi seorang anak yang “sangat pengertian”. Tidak pernah menuntut dan rewel. A good and super good daughter.
Suatu pagi, Alifia merajuk minta dimandikan mamanya. Karena setiap detik waktunya sangat berharga, Rani menolak memandikan anaknya dan menyerahkannya kepada suster. Seperti biasanya. Si kecil nan manis dan sangat pengertian ini merajuk sampai satu minggu. Namun selama itu pula harapannya untuk bisa dimandikan oleh mamanya hanya tinggal harapan. Gayung tak bersambut.
Suatu hari, ketika Rani berada di luar kota menjalankan tugasnya, dia menerima telepon dari bu Mien—suster yang mengabarkan bahwa si kecil berada di rumah sakit karena sedang sakit. Rani segera pulang. Apa lacur, Rani terlambat. Alifiya kecil sudah lebih dulu pulang ke Penciptanya. Terlambat. Sangat terlambat.
Ketika jenasah si kecil yang manis ini dimasukkan liang lahat dan ditimbun, Rani menangis dan mengatakan,”Ini sudah takdir. Seandainya pun aku di sini, dia akan tetap meninggal karena itu takdir. Tak ada bedanya, aku di sini atau di mana saja.” Rani meratap dengan duka sangat mendalam. Menyesal. Dan sesal itu tiada gunanya. Tak bisa lagi dia memandikan anaknya yang manis dan pengertian. Terlambat.
Kisah semacam ini bisa saja dihadapai oleh semua orang. Termasuk saya sendiri. Dengan berbagai alasan kesibukan dan prestasi serta penilaian baik dari atasan, seringkali, tanpa kita sadari, kita menuntut anak-anak kita memahami kebutuhan kita tetapi kita mengabaikan kebutuhan mereka. Seringkali, dengan mengatasnamakan demi kebahagiaan keluarga, kita menyerahkan pemenuhan kebutuhan kecil anak kita kepada “suster”. Berapa kali pula kita menganggap permintaan anak kita sebagai hal yang sepele yang tidak harus kita penuhi karena sudah ada “suster”. Memandikan dan menemani anak bermain seringkali kita kalahkan dengan upaya untuk meraih prestasi kerja dan mendapatkan penilaian baik dari atasan kita. Anak kita yang harus mengerti kebutuhan kita. Dia harus menjadi “anak yang manis” karena orangtuanya bekerja banting tulang untuk membahagiakan buah hati dan keluarga.
Mungkin tak harus se-ektrim yang dialami Rani yang super berhasil dengan segala pencapaian dan kehormatan yang diraihnya dari pencapaiannya itu. Terlalu besar dan menyakitkan memang kalau harus kehilangan buah hati yang kita kasihi yang kehidupan dan kebahagiaannya kita upayakan sedemikian rupa. Satu hal yang bisa kita pelajari dari kisah nyata ini adalah bahwa tak selamanya apa yang kita kejar benar-benar bisa memenuhi kebutuhan anak kita dalam arti yang sesungguhnya. Kebutuhan lahir dan batinnya.
Ketika buah hati kecil kita terpaksa harus “pergi” dari pelukan kita, hanya sesal yang maha dalam yang akan kita temui. Mungkin, kita hanya bisa “memandikannya” sekali untuk selamanya. One for good. Memandikan yang harus kita iringi dengan derai air mata dan duka serta penyesalan yang dalam. Bahkan maha dalam. Semoga kita bisa belajar menjadi orangtua yang (boleh) sibuk atau super sibuk dan setiap detik waktu kita menghasilkan uang. Pertanyaannya adalah, apakah uang yang kita hasil dan dapatkan itu jauh lebih berharga daripada anak kita dan kebutuhan batinnya? Lalu untuk siapa sebenarnya kita berjerih lelah bekerja? Mungkin kita bisa punya sangat banyak uang sampai-sampai kita sendiri tak tahu ke mana harus menyimpan dan membuangnya. But, apakah yang kita punya itu bisa membeli kebahagiaan?
Kisah ini disadur dari buku tulisan Jarot Widjanarko “Kumpulan Ilustarsi Khotbah”. Renungan kecil ini saya tulis dengan harapan kita—Anda dan saya, bisa belajar menghargai kebahagiaan anak-anak kita. Semoga bermanfaat.