Kaget juga ketika aku bertemu dengan tukang perahu yang siangnya perahunya kami pakai untuk berwisata. Berlayar di teluk pantai Perigi Tulungagung. Ternyata, dia tinggal di depan wisma tempat kami menginap. Sampai kini masih bisa kuingat jelas bentk tubuh, gaya bicara dan optimismenya. Jarang, jarang sekali ada orang yang bisa meninggalkan kesan begitu dalam bagiku. Sampai saat ini, hanya ada beberapa orang yang bisa meninggalkan kesan mendalam dalam hidupku—anak-anak, istri dan keluargaku. Ada sebab mereka begitu meninggalkan kesan mendalam dalam hidupku.
Tukang perahu, ya tukang perahu sederhana itu, yang akhirnya kuketahui lewat obrolan panjang kami di teras wisma ketika hujan mengguyur lebat bagai dicurahkan dari langit, usianya tak beda jauh dariku. Kesan dan pelajaran mendalam ditinggalkannya di dalam hati dan pikiranku sampai saat ini yang akan selalu kuingat dan kupakai dalam hidupku—tidak egois dan mementingkan diri sendiri.
“Ndak wes, luwih becik ora oleh duit tinimbang ciloko. Lek nyawaku dewe ora opo-opo. La kuwi, aku ora tegel ndelok bocah-bocah semono akehe. Lek ono opo-opo aku getun tenan. Ora wes. Bene ora duwe duwit ritek”. Sebuah ungkapan bijak dari orang sederhana. Terjemahan bebasnya sepeti ini,”Tidak, lebih baik aku tidak dapat uang daripada celaka. Kalau nyawaku sendiri (yang hilang) tidak masalah. Aku tidak tega melihat anak-anak sebanyak itu. Kalau terjadi apa-apa, aku akan sangat menyesal dan tidak bisa memaafkan diriku sendiri (karena anak-anak itu). Enggak mau. Tidak apa-apa tidak punya uang. Gak masalah”. Ungkapan itu dikatakannya ketika kami “menantangnya” untuk berlayar lagi besok. Beberapa kali kami “tantang”, bahkan dengan mengatakan dia kecil nyali (kalau orang salah memahami, ini bisa mengakibatkan pertengkaran karena dianggap menghina), jawabannya tetap sama “Ora” dan “Ben ora duwe duwit ritek”. Keukeh.
Sungguh orang yang dewasa dan tak mementingkan dirinya sendiri. penolakan ini bukan tanpa sebab. Siangnya kami sewa perahunya untuk berlayar di teluk pantai Prigi. Dan… kami terjebak badai. Angin dan gelombang menghempas perahu. Hujan mengguyur dengan lebat walau tak lama. Perahu tak bisa “diparkir” karena diseret angin sakal. Tak karam perahu dan penumpangnya sudah sangat bagus dan anugerah teramat besar.
Seandainya tukang perahu sederhana itu adalah orang yang egois dan “pandai melihat peluang”, maka dia akan menerima tawaran kami. Jumlah yang cukup lumayan bagi nelayan yang sudah lebih dari satu bulan tak bisa melaut karena hantaman cuaca ekstrim. Tak perlu berlayar sampai jauh ke tengah samudra. Hanya mengantar dan menunggu kami berenang beberapa jam. Selesai. Dapat uang pula. Tak perlu keluar biaya solar besar (saya tanyakan ke dia berapa habis solarnya untuk berlayar seukuran itu—tak lebih dari 10 liter). Seandainya dia orang tamak, dia akan memakai logika matematikanya. Ukuran kapal dan jumlah penumpang sangat berimbang. Perahu ini biasanya diawaki oleh 22 orang dewasa. Bisa memuat ikan tangkapan lebih dari 10 ton. Jumlah kami waktu itu, termasuk anak-anak, kurang lebih 30 orang. Tak lebih dari 10 ton. Apanya yang ditakutkan? Tak ada bukan? Itu kalau dia orang tamak dan terlalu ”pandai melihat dan memanfaatkan peluang”.
Ketika lebih jauh saya bertanya kepadanya, apa yang membuatnya “takut” (selain penumpangnya banyak anak kecil), angin yang dia takuti. “Nek ombak iso dihindari mas, tapi lek angin, ampun, ora ono sing iso. Iku kuasane “sing dhuwur”. “kalau ombak bisa dihindari (dia mengatakan bisa melihat ombak dan ke mana arahnya), kalau angin, tidak bisa. Itu kuasa Tuhan”. Memang, kondisinya pada waktu itu, kami diombang-ambingkan oleh angin. Beberapa kali aku mendengar derit dan gertakan suara kayu bergeseran dengan sesuatu. Sempat aku berpikir, tak mungkin dasar perahu ini menggesek batu karang karena dasar laut sangat dalam. Kami sudah ada di tengah teluk. Jawabannya adalah, derit dan gertakan ini timbul karena lambung kapal di hantam ombak. Baru aku menyadarinya. Kepikir juga, bagaimana kalau perahu ini pecah. Ngeri.
Dua kesan mendalam yang ditanamkan sang tukang perahu sederhana ini. Tidak tamak, peduli kepada keselamatan orang lain terutama anak-anak dan tahu siapa dirinya di hadapan Tuhan. Ada yang lebih besar dan maha besar yang mengatasi kemampuan manusia. Dia, Dia yang Maha Besar dan Pencipta segala sesuatu yang berkuasa dan berdaulat penuh atas ciptaanNya. Yang berhak menentukan hidup dan matinya ciptaanNya.
Pelajaran yang bisa kita ambil dari perspektif tukang perahu ini adalah, uang bukan segala-galanya. Keselamatan orang lain terutama anak-anak yang adalah penyambung generasi jauh lebih penting daripada uang, money, geld atau apapun namanya. Tidak terlalu mengandalkan rasio dan logika matematis adalah hal kedua yang bisa kita pelajari. Secermat-cermatnya logika matematika, tetap ada peluang untuk “meleset” apalagi ketika diperhadapkan dengan kekuatan alam, apalagi kekuatan Tuhan sang Maha Pencipta yang Maha Besar.
Tahu bahaya adalah hal ketiga yang bisa kita pelajari. Seringkali, ketika kita dalam kondisi dan keadaan senang, kita lupa dan tidak bisa melihat adanya potensi bahaya dalam berbagai bentuknya. Kesenangan dan kenikmatan yang sedang kita rasakan menutup mata bahkan mata batin kita sehingga kita tidak bisa bahkan (celakanya) tidak mau melihat adanya potensi bahaya bahkan di dalam kesenangan yang sedang kita nikmati. Lebih celakanya lagi, ketika ada “orang luar” yang memeringatkan kita sedang terancam bahaya, kita bersikap tidak senang kepada yang memeringatkan kita dengan mengatakan,”Kamu tahu apa. Jangan iri dong!” “Everything is ok”, “Ini duniaku sehari-hari dan akulah yang paling tahu duniaku, bukan kamu!” ya, kesenangan seringkali menutup mata batin kita untuk melihat dan mengetahui ada bahaya mengancam dari dan dalam kesenangan itu. Kita mabuk di dalamnya.
Tak selamanya, orang pinggiran dan sangat sederhana tak memiliki nilai-nilai dan kapasitas serta kapabilitas untuk memberikan pelajaran yang mengasah batin kita. Kalau yang mengasah akal, mungkin, kita yang “orang kota” jauh lebih memilikinya. Akan jauh lebih bijak kalau kita yang “orang kota” mau menerima perspektif “orang sederhana”. Tak selamanya yang sederhana tak berguna. Tak selamanya juga yang “kota” selalu berjaya dan membuat orang bisa berjaya secara batin. Kita dengan kamampuan akal kita bisa menjadi orang yang tahu, tetapi tak selamanya kita bisa menjadi orang yang mengerti. Kearifan seringkali muncul dari hati dan memberdayakan akal. Masihkan keukeh untuk berpegang tak perlu belajar dari “orang luar nan sederhana”? semoga bermanfaat.

“MANDIKAN AKU MAMA”

Posted: March 1, 2011 in psikologi anak

Kisah ini sungguh terjadi. Ada seorang wanita brilian, sebut saja namanya Rani. Dia sangat brilian. Ketika kuliah, dia membuktikan dirinya sebagai orang yang brilian dalam bidang akademis. Alhasil, dia mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah S-2 di luar negeri. Semua bisa dilaluinya dengan “sempurna”. Rani menjadi kebanggaan bagi keluargnya.
Akhirnya, Rani mendapatkan seorang suami yang berposisi sangat baik. Lengkaplah kebahagiaan dan “kesempurnaannya” sebagai lambang kebanggaan bagi keluarganya. Rani dan suaminya dikaruniai seorang anak yang mereka beri nama Alifiya. Sungguh nama yang indah. Alifiya tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga yang super sibuk. Mama papanya jarang sekali berada di rumah karena ada sangat banyak kegiatan dan tugas yang harus mereka lakukan. Rani, menjadi ibu yang super mobile. Sebentar di provinsi ini, sebentar lagi di luar negeri. Begitu seterusnya. Mobile. Very mobile.
Sautu ketika si kecil Alifiya meminta adik. Namun karena kesibukan Rani dan suaminya yang sangat sangta luar biasa, permintaan itu belum bisa dipenuhi. Kehidupan kembali seperti semula. Si kecil diasuh oleh kakek dan neneknya serta seorang suster. Mereka selalu menanamkan kepada si kecil untuk mencontoh ayah dan ibunya yang bisa menjadi kebanggan bagi orangtuanya. Alifiya tumbuh menjadi seorang anak yang “sangat pengertian”. Tidak pernah menuntut dan rewel. A good and super good daughter.
Suatu pagi, Alifia merajuk minta dimandikan mamanya. Karena setiap detik waktunya sangat berharga, Rani menolak memandikan anaknya dan menyerahkannya kepada suster. Seperti biasanya. Si kecil nan manis dan sangat pengertian ini merajuk sampai satu minggu. Namun selama itu pula harapannya untuk bisa dimandikan oleh mamanya hanya tinggal harapan. Gayung tak bersambut.
Suatu hari, ketika Rani berada di luar kota menjalankan tugasnya, dia menerima telepon dari bu Mien—suster yang mengabarkan bahwa si kecil berada di rumah sakit karena sedang sakit. Rani segera pulang. Apa lacur, Rani terlambat. Alifiya kecil sudah lebih dulu pulang ke Penciptanya. Terlambat. Sangat terlambat.
Ketika jenasah si kecil yang manis ini dimasukkan liang lahat dan ditimbun, Rani menangis dan mengatakan,”Ini sudah takdir. Seandainya pun aku di sini, dia akan tetap meninggal karena itu takdir. Tak ada bedanya, aku di sini atau di mana saja.” Rani meratap dengan duka sangat mendalam. Menyesal. Dan sesal itu tiada gunanya. Tak bisa lagi dia memandikan anaknya yang manis dan pengertian. Terlambat.
Kisah semacam ini bisa saja dihadapai oleh semua orang. Termasuk saya sendiri. Dengan berbagai alasan kesibukan dan prestasi serta penilaian baik dari atasan, seringkali, tanpa kita sadari, kita menuntut anak-anak kita memahami kebutuhan kita tetapi kita mengabaikan kebutuhan mereka. Seringkali, dengan mengatasnamakan demi kebahagiaan keluarga, kita menyerahkan pemenuhan kebutuhan kecil anak kita kepada “suster”. Berapa kali pula kita menganggap permintaan anak kita sebagai hal yang sepele yang tidak harus kita penuhi karena sudah ada “suster”. Memandikan dan menemani anak bermain seringkali kita kalahkan dengan upaya untuk meraih prestasi kerja dan mendapatkan penilaian baik dari atasan kita. Anak kita yang harus mengerti kebutuhan kita. Dia harus menjadi “anak yang manis” karena orangtuanya bekerja banting tulang untuk membahagiakan buah hati dan keluarga.
Mungkin tak harus se-ektrim yang dialami Rani yang super berhasil dengan segala pencapaian dan kehormatan yang diraihnya dari pencapaiannya itu. Terlalu besar dan menyakitkan memang kalau harus kehilangan buah hati yang kita kasihi yang kehidupan dan kebahagiaannya kita upayakan sedemikian rupa. Satu hal yang bisa kita pelajari dari kisah nyata ini adalah bahwa tak selamanya apa yang kita kejar benar-benar bisa memenuhi kebutuhan anak kita dalam arti yang sesungguhnya. Kebutuhan lahir dan batinnya.
Ketika buah hati kecil kita terpaksa harus “pergi” dari pelukan kita, hanya sesal yang maha dalam yang akan kita temui. Mungkin, kita hanya bisa “memandikannya” sekali untuk selamanya. One for good. Memandikan yang harus kita iringi dengan derai air mata dan duka serta penyesalan yang dalam. Bahkan maha dalam. Semoga kita bisa belajar menjadi orangtua yang (boleh) sibuk atau super sibuk dan setiap detik waktu kita menghasilkan uang. Pertanyaannya adalah, apakah uang yang kita hasil dan dapatkan itu jauh lebih berharga daripada anak kita dan kebutuhan batinnya? Lalu untuk siapa sebenarnya kita berjerih lelah bekerja? Mungkin kita bisa punya sangat banyak uang sampai-sampai kita sendiri tak tahu ke mana harus menyimpan dan membuangnya. But, apakah yang kita punya itu bisa membeli kebahagiaan?
Kisah ini disadur dari buku tulisan Jarot Widjanarko “Kumpulan Ilustarsi Khotbah”. Renungan kecil ini saya tulis dengan harapan kita—Anda dan saya, bisa belajar menghargai kebahagiaan anak-anak kita. Semoga bermanfaat.

Seperti yang saya janjikan di tulisan saya sebelumnya mengenai obrolan para laki-laki di dunia tanpa sinyal, kali ini saya tampilkan topik kedua dari seri bincang-bincang hangat di dunia tanpa sinyal. MAIN DI LUAR VS MAIN DI DALAM. Sejak awal, dalam tulisan pertama, sudah saya paparkan bahwa topik pembicaraan kali ini adalah fenomena bos yang suka “main di dalam”. Sekali lagi, karena pelaku perbincangan semuanya adalah laki-laki, maka “obyek” pembicaraanya adalah wanita. Pun demikian, sebenarnya, perbincangan ini isinya juga berlaku untuk wanita. Tidak ada maksud merendahkan perempuan. Sama sekali tidak. Ini hanya sebuah tulisan, walaupun reportase, yang mengetengahkan opini-opini pribadi tentang sebuah permasalahan. Itu saja.
Setelah menyelesaikan sesi untuk menjawab pertanyaan,”Hebat mana, aku atau dia?”, sesi ikutannya adalah,”Mana yang lebih terhormat, MAIN DI DALAM atau MAIN DI LUAR. Konteksnya jelas-jelas perselingkuhan dan uang atau materi sebagai tujuan pihak inferior dan hegemoni dari sisi sang superior. Tak selamnya orientasinya seksual. Namun sangat terbuka kemungkinan untuknya. Kata MAIN disini tidak serta merta bisa diasumsikan sebagai hubungan seksual tidak sah antara seseorang dengan lawan jenis yang bukan pasangan resminya.
Nah sekarang, menurut teman-teman, manakah yang lebih terhormat, MAIN DI LUAR ATAU MAIN DI DALAM? Sebenarnya yang lebih tepat adalah, “main” dengan orang di luar atau dengan orang dalam. Seandainya saja, kita “aminkan” dulu opini banyak orang bahwa selingkuh itu indah, dalam konteks ini, mana yang teman-teman pilih, apakah “main” dengan orang luar ataukah dengan orang luar. Yang paling bagus adalah tidak dua-duanya.
Kembali ke pilihan dalam perbincangan. Hanya ada dua pilihan. Kalau kita jadi bos dan dikelilingi “dayang-dayang”, tapi ingat, tidak semua dayang bisa diajak berbuat tidak benar dan tidak semua dayang memiliki keinginan untuk berbuat tidak benar, apakah kita memilih bermain dengan orang dalam dari antara salah satu “dayang” ataukah kita memilih untuk mencari “dayang” diluar dengan pertimbangan kehormatan. Ingat pilihannya hanya dua.
Dalam perbincangan itu muncul perkataan,”Lebih baik main diluar. Itu lebih terhormat. Daripada main di dalam (baca: dengan orang dalam) yang menyolok sehingga menjadi rahasia umum yang menganggu kinerja perusahaan dan jadi bahan tertawaan dan caci maki di belakang lebih baik main sama orang di luar perusahaan. Kagak ada yang tahu dan tidak menganggu kinerja karena terjadinya tumpang tindih antara kepentingan pribadi dengan kepentingan pekerjaan. It’s seems so wise.
Bermain di luar, menurut opini seseorang dalam percakapan di dunia tanpa sinyal, jauh lebih terhormat. Bermain di dalam dengan orang dalam lebih membahayakan karena mudah teridentifikasi dan dari segi prestise sebenarnya membuat seorang juragan lebih kelihatan sebagai orang yang tidak prestisius.Benarkah seperti ini?
Opini yang mengemuka dalam obrolan ini menurut saya kok kurang pas. Bermain di dalam (dengan orang dalam) dan bermain di luar (dengan orang luar) sama-sama tidak prestisius. Mungkin, ketika opini ini dilontarkan, yang satu tampak lebih baik dari yang lain. Untuk konteks yang negatif, mungkin bisa jadi demikian. Kurang pas juga, karena pilihannya negatif semua. Tidak ada yang posistif. Ya, tapi namanya opini dan yang diomongkan juga hal yang negatif (tidak ada selingkuh dan menyelingkuhi yang indah) maka opini ini menjadi sah dalam konteks, konsep dan waktu itu.
Bukan tanpa alasan opini ini muncul. Yang jelas, sebuah opini muncul atas dasar fakta. Dan, fakta itu ada di sekitar kita. Tinggal sejauh mana kita peka untuk mengendus dan mengidentifikasinya. Fakta ini juga muncul bukan tanpa dasar dan kepentingan sebagai motif yang menggerakkan pelakunya.
Ada berbagai motif yang mendasari “main di dalam” baik dari sisi si inferior dan sang superior. Terlalu naif kalau dikatakan bahwa dari pihak yang inferior ekonomi adalah alasan utama untuk bermain apa dengan atasan. Walaupun faktanya hal seperti itu tidak pernah tertutup kemungkinannya. Kesenangan dan kepuasan yang tak hanya berhenti pada asumsi kepuasan dan kesenangan di tempat tidur. Walaupun faktanya, dalam permainan di dalam maupun di luar, urusan tempat tidur bukan hal yang bisa dilepaskan begitu saja. The power of sex tidak bisa dimungkiri. Dia masih tetap memiliki power. Short cut bisa juga mengilhami seseorang untuk terlibat permainan atas bawah dengan orang di dalam. Ketika orang merasa “tetangganya” yang selevel dengannya di tempat yang sama sehari-harinya lebih jaya dan “bersinar” sementara dia merasa, sekali lagi merasa, lebih “berkeringat” sementara tetangganya yang santai dan leha-leha saja bisa “dapat banyak”, dalam kefrustasiannya karena salah memandang, job performance bukanlagi sebagai patokan utama, apalagi kalau diketahui bahwa sang juragan adalah tipe yang suka “dielus” dan larut dalam buaian dan elusan sehingga tidak bisa melihat dengan benar kinerja anak buahnya, celah inilah yang dimanfaatkan. But, sangat jarang, namun ada dan terjadi hal seperti ini.
Thirst of prestige juga merupakan alasan yang seringkali dijadikan alasan untuk terlibat dan melibatkan diri dalam permainan atas-bawah baik di dalam maupun di luar. Si inferior merasa memiliki kebanggan tersendiri kalau bisa menjadi “tangan kanan” si bos. Walaupun sembunyi-sembunyi. Ni loh gue, bisa dapat bos kan? Mungkin seperti itu yang dipikirkan. Pada fase ini, yang dibutuhkan si inferior bukan sepenuhnya materi melainkan recognition atau pengakuan. Dalam hal yang tidak benar sekalipun. Mungkin ini adalah bentuk dari pemenuhan akan kebutuhan akan aktualisasi diri yang dalam hirarki kebutuhan Maslow menempati urutan tertinggi di puncak piramida kebutuhan dasar manusia.
Jika dipihak si inferior ada kebutuhan akan aktualisasi diri dengan melakukan hal seperti ini, dipihak superior permnainan atas-bawah dijadikan media untuk menunjukkan dominasi dan hegemoninya atas orang lain. Macam-macam caranya. Ibaratnya di sebuah kerajaan antah berantah, si superior memosisikan dirinya sebagai raja yang memiliki otoritas penuh atas orang-orang yang ada di sekitarnya. Company atau lembaga adalah dunia kekuasaannya tempat dia merasa bebas bermain dan berbuat karena dia adalah raja. Dia yang punya uang dan menentukan. Bagus kalau tipikal seperti ini tidak merasa diri menjadi tuhan.
Seperti hal kerajaan pada tempo dulu-dulu sekali, pada zaman kuno, raja selalu diposisikan sebagai the center of everything. Dia yang menentukan. Di dunianya pun hanya ada satu otoritas yang boleh bermain—otoritasnya saja, walaupun sebenarnya sudah ada sistem baku untuk mengatur kehidupan keseharian. Ini adalah tipikal raja dan kerajaan di dunia yang tidak pernah ada. Salah satu kebahagiaan sang raja adalah dan karena dia dikelilingi oleh banyak dayang, selir (?) yang semuanya tidak memiliki keberanian untuk mengutarakan pendapatnya, apalgi menolak keinginan sang raja. Haram hukumnya (walaupun ini salah sebenarnya). Raja yang harus bahagia dan dibahagiakan karena dialah yang menentukan hitam putihnya nasib warga kerajaannya (?)
Pada dan dalam kondisi seperti ini, sang raja menunjukkan dominasi dan hegemoninya dengan menjadikan dayang-dayang sebagai selir (bukan permaisuri; karena sebenarnya sudah ada permaisuri). Muncul kebangaan (walaupun bagi yang bermazhab bermain di luar lebih terhormat menganggapnya sebagai kebodohan) ketika raja berhasil menjadikan salah satu, salah dua atau salah semua dari dayangnya menjadi parttime sparring partner. Gak pusing apa kata orang. Kebahagiaan diperoleh ketika dia bisa mendominasi dan menghegemoni orang-orang yang ada di sekitarnya yang ada di dunianya untuk sementara waktu (karena orang-orang yang ada di sekitarnya juga memiliki habitatnya sendiri—rumah dan keluarga).
Orang seperti ini cenderung berpikir dirinya adalah problem solver yang mengatasi masalah (dengan) tanpa masalah. Ketika dia merasa bahwa permasalahan yang ada di habitat dayang-dayangnya sudah diatasinya (?) saat itulah hegemoni dan dominasi dijalankannya. “Gak ada alasan. Masalahnya kan sudah selesai. Gue gak mau tahu!” dominasi dan hegemoni inilah yang tidak berani dilawan oleh dayang-dayangnya karena ewuh pekewuh. Rasa pekewuh itu mengalahkan perasaan jujur yang ada jauh di lubuk batinnya yang paling dalam. Bahkan penolakan dari habitat asalnya pun kalah oleh rasa pekewuh ini. Dominasi dan hegemoni adalah puncak kebutuhan sang juragan. I have power and money that can control my world.
Pertanyaan yang mungkin muncul adalah, apakah dalam permainan atas-bawah semacam ini urusan bed enjoyment tidak mengemuka dan menjadi alasan. Pastinya ya. Tempat tidur juga menjadi salah satu bentuk dari pencapaian dan hegemoni tertinggi bagi tipikal seperti ini. Bergesernya medan permainan atas-bawah ke bilik dan tempat tidur juga menjadi salah satu bentuk dari hegemoni dan dominasi “penguasa yang sakit” karena dalam kultur kerajaan tak berbentuk dan bernama tempat dan suasana ini bisa dijadikan sebagai senjata pamungkas dengan menggunakan ajian “aku senang kau ku pegang, ku tak senang kau ku tendang”.
Yang jelas, sebenarnya, ada ketidakpercayaan diri baik dari pihak si inferior maupun si superior. Tak percaya bahwa segala sesuatunya bisa diraih dengan cara-cara yang benar karena kultur bobrok yang ada di sekelilingnya sedangkan dari sisi si superior tidak merasa percaya diri kalau dia bisa “mengendalikan” pihak lain tidak dengan hegemoni, dominasi dan kekuasaannya.
Ah, ini hanya opini pribadi untuk menanggapi opini yang dilontarkan dalam percakapan di dunia tanpa sinyal. Pasti ada yang kurang dan layak dikritisi. Kesalahan yang paling fatal dan mengerikan adalah, ketika pembaca mengamini semua opini ini dan menelannya bulat-bulat. Tak pernah ada selingkuh yang indah. Dan tak lebih terhormat bermain di luar daripada bermain di dalam. Yang jauh lebih terhormat adalah ketika bermain dan melakukan permaian dengan orang yang memang adalah pasangan sah kita. Tak masalah mainnya di luar atau di dalam. Pertanyaan saya adalah, apakah kerajaan, kultur dan perilaku ini memang sungguh-sungguh ada sehingga opini ini muncul ataukah ini hanya gagasan yang muncul secara spontan ketika manusia-manusia yang sudah terbiasa hidup di dunia penuh sinyal tiba-tiba mengalami culture shock karena harus ada di dunia tanpa sinyal? Menurut Anda, manakah yang lebih terhormat, MAIN DI DALAM atau MAIN DI LUAR ketika Anda berkesempatan menjadi raja? Atau, adakah opsi ketiga yang ingin Anda lontarkan. Mari… lontarkan saja.

Terbiasa dengan dunia digital dan maya yang dipenuhi dengan banjir dan luapan arus informasi yang sampai-sampai membuat kita kesulitan untuk menyaring dan mencernanya untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak, membuat kita seringkali mengahadapi “culture shock” katika berada di dunia tanpa sinyal.
Sinyal yang saya maksud di sini adalah koneksi internet dan sinyal telepon seluler secara sempit, yang membuat kita tidak telat informasi. At least, informasi mengenai orang-orang dekat, pekerjaan, keluarga dan keseharian kita. Culture shock itu saya alami ketika saya tiba-tiba, karena sebuah keperluan, harus berada di dunia tanpa sinyal. Terasing rasanya. Tidak bisa menerima dan mengirim pesan singkat (SMS) dan berkomunikasi dengan “dunia luar” juga ditambah tidak adanya penjual koran atau bahan bacaan bahkan setelah berjalan lebih dari 1 KM membuat “penderitaan” semakin lengkap dan sempurna.
Untungnya, bukan aku seorang yang mengalami “penderitaan” ini. Banyak juga yang senasib sepenanggungan. Reaksinya pun bermacam-macam. Perasaan senasib sepenanggungan ini melahirkan sebuah wahana baru untuk melakukan interaksi dan komunikasi dalam arti tradisionalnya namun justru yang sangat hakiki yang kadang tak terpikirkan ketika kita berada di dunia yang dipenuhi dengan sinyal yang sangat kuat. Bercakap-cakap dengan gayeng dengan berbagai materi pembicaraan.
Dunia baru kecil kami dimulai dengan percakapan empat orang, termasuk saya, yang paling muda dan menjadi pendengar yang baik. Mendengarkan para senior sharing berbagai hal. Kisah masa muda, pekerjaan, klenik dan petualangan sampai satu yang paling seru—cinta dan asmara. Yang ini yang paling asyik. Kisah cinta dan lika-liku laki-laki zadul (zaman dulu) yang mloka-mlaku dan laku-laku.
Dalam pembicaraan tentang lika-liku laki-laki yang mloka-mlaku mriko-mriki yang membuat para senior itu bisa laku-laku muncul satu pertanyaan yang membuat saya sangat tertarik untuk mendengar dan menggalinya lebih jauh dan dalam,”Hebat mana, saya atau dia?” Sekali lagi, konteks pembicaraan kami adalah lika-liku laki-laki dan cinta asmara tetapi di dalamnya tidak ada hal yang porno ataupun tidak pantas. Hanya sebuah penegasan tentang sejauh mana uang atau materi bisa dipakai untuk “membeli cinta” dan kelanggengannya. Sekali lagi, di sini saya tidak mengatakan membeli wanita atau perempuan karena secara pribadi saya bermazhab wanita BUKAN barang dagangan dan cinta memang TIDAK BISA diperjual belikan (meskipun secara praktis hal semacam itu terjadi dengan alasannya sendiri). Hanya mempertegas dan menginformasikan bahwa pelaku percakapan ini adalah all male. Teman-teman bisa memahami esensi pembicaraan ini dengan membaca keseluruhan tulisan ini secara utuh dan tidak meloncat-loncat.
Pertanyaan di atas diikuti dengan “narasi” pendek,”Dia bisa mendapatkan yang dia mau (wanita) karena dia banyak uang. Saya bisa mendapatkannya tanpa uang”. Pertanyaan dan narasi pendek lanjutannya menggelitik hati saya. Saya bertanya,”Maksudnya bagaimana oom?” Begini,”Jawab si oom. “Kalau kita berpikir semua wanita bisa dibeli itu SALAH BESAR.” Memang ada, wanita-wanita tertentu, yang pemikirannya pendek dan sempit, menjadikan uang dan harta sebagai tujuan dan menjadikan dirinya sendiri sebagai “barang dagangan”. Tetapi TIDAK SEMUA seperti itu. Masih banyak yang tulus mencari dan memberikan cinta dan hatinya untuk laki-laki dan atau wanita yang tidak punya uang sekalipun. Karena dia dan laki-laki itu memang saling mencintai. “Sekarang coba perhatikan orang-orang berduit yang menganggap uang bisa membeli cinta wanita, itu kesalahan besar. Bukan cinta yang dia dapat, hanya nafsu dan pemenuhan hasrat seksual. Tidak lebih dari itu. Singkatnya,”Interaksi ini adalah transaksi yang motonya abang ada uang aku datang, abang tak ada uang ku tak sayang. Dipihak laki-laki berduit yang sesat pikiran dia mengatakan,”Kau datang ku bayar, setelah ku tak suka kau kubuang.” Apa itu cinta?”
Mana yang lebih hebat diantara keduanya? Apakah yang berduit dan berpikiran uang bisa membeli segalanya? Ataukah yang tak ber-uang (bukan beruang)? Yang kedua tentunya yang dipilih banyak orang. Tapi, kondisinya tentu bukan tak punya uang. Akan jauh lebih baik kalau ada uang (cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup) dan mendapatkan dan memberikan cinta dan kasih kepada pasangan dengan jujur, tulus dan ikhlas tanpa dinilai dan menilai dengan uang sebagai patokan utamanya. Cukup ada cinta, makanan, pakaian dan tempat tinggal untuk dinikmati dan dirasakan bersama. Tak benar kalau dikatakan tak punya uang adalah sumber kejahatan. Sumber kejahatannya adalah cinta uang dan mengejar “cinta” yang tidak dan bukan pada tempatnya baik secara halus maupun kasar dengan menggunakan uang.
Pelajaran dari obrolan di dunia tanpa sinyal ini adalah ketika kita mengangungkan uang dan melakukan berbagai cara (yang tidak sewajarnya) untuk mendapatkan uang dan kesenangan apalagi dengan mengatasnamakan demi kebahagiaan keluarga merupakan kesalahan dan kesesatan berpikir yang sangat dalam. Yang bisa dibeli uang hanya ranjang bukan ketenangan dan kenyamanan tidur. Money can buy a house but can not afford a home. Uang bisa membeli penjaga tapi tak berharga untuk membeli keselamatan. Uang bisa dijadikan alat untuk membeli pemuas nafsu tetapi tak laku untuk membeli cinta (kecuali cinta-cintaan).
Masih ada dua pelajaran penting dari obrolan di dunia tanpa sinyal yang menurut penilaian saya masih sangat relevan dari sisi pelajaran moralnya untuk kehidupan masa kini. Yang pertama adalah MAIN DI LUAR VS MAIN DI DALAM. Topik ini membahas pandangan tentang fenomena habit oknum bos yang banyak uang dan gemar “bermain” dengan anak buahnya. Dasar pertanyaannya adalah selingkuh mana yang indah? Yang kedua yaitu DIJILAT-MENJILAT. Yang ini topiknya sebenarnya adalah siapa yang suka menjilat dan dijilati. Apa motivasi penjilat dan yang dijilati. Juga, bagaimana cara menjilat yang seksi dan memuaskan yang dijilati (jangan ngeres yach).
Apapun namanya, ini adalah hasil obrolan di dunia tanpa sinyal dan merupakan opini pribadi. Akan jauh lebih bermanfaat kalau teman-teman mau memberikan opini mengenai topik pertama ini. Menurut teman-teman, mana yang lebih hebat diantara keduanya? Semoga ada cukup waktu untuk menulis dan share-kan topik kedua dan ketiga kepada Anda.

Alkisah… (kayak OVJ aza) zaman masa kini, di sebuah negeri dongeng nun nyata berdiri sebuah “kerajaan” kecil tak bernama yang dipimpin oleh Prabu Hedon. Sang Prabu adalah seorang yang rupawan dan “dermawan”. Layaknya seorang Raja, sang prabu dikelilingi oleh dayang-dayang. Dayang Sumbi, Dayang Wastu, Dayang Gini, Dayang Gitu. Juga, tak lupa, ada beberapa mahapatih kesayangan, kusir dokar,, dan para cantrik.
Life is so colorful di negri tak bernama. Penuh dengan kesenangan. They can go anywhere anytime they want. Anywhere, anytime dan at other’s cost. Narasi wayangnya, mulai pakai sedikit bahasa Kulonan. Carpe Diem (Catch the Day, tomorrow u may be dead) adalah moto yang diagungkan. Persis ungkapan Romawi kuno. Reguk kesenangan sampai puas dan sampai mabuk. Enjoy till you don’t know yourself anymore and find yourself die in your pleasure. Nikmati sampai tetes terakhir seperti kata iklan di tipi-tipi. Hidup untuk dinikmati, dinikmati, dinikmati dan teruuuussss… terusss….terusss (sampai kau mati tanpa kau sadari). Walah… cerita apa tho ini sebenarnya.
Life is so beautiful (though I have to be a beast for others; homo homini lupus, bahasa Maduranya. Gak ada yang sulit di negeri tak bernama. Mau terbang, tinggal bilang. Mau jajan, tinggal pesan. No hard thing in this unnamed country. Kabeh gampang. Ora ono sing angel. Tinggal bilang, tinggal tunjuk dan tinggal pesan dan semua (?) pasti datang.
In the name of unity (kebersamaan) semuanya dilakukan. Untung satu untung semua (?), hatiku hatimu. All for one and one for all. Sang prabu, dayang, kusir dokar dan cantrik “menyatu” dan menjadi satu (?). Sungguh sangat ideal. Hidup yang diimpikan oleh “SEMUA” orang. Ada masalah, selalu bos kasih solusi. Very generous sang Prabu. Tak ada yang tak selesai. Semua bisa diatur (atur). Mengatasi masalah (dengan) tanpa masalah. Semua pasti beres. Kagak ada yang sulit.
Sementara itu, di negeri tetangga yang bernama simplicity, kehidupan jauh dari itu. Ada banyak masalah. Walaupun gak penuh-penuh amat. Took…toook… eek (keselek. Ngetok palu dalangnya terlalu semangat). Raja di negeri ini seneng tampil sorangan wae dan cenderung kurang peka terhadap kebutuhan dayang, sopir angkot dan cantrik-cantrik bawahannya. Boro-boro carpe diem, bisa diem sehari saja sudah bagus. Ya begitulah hidup dan kehidupan…. toookk…toookkk…tookk. lha memang dunia dua bertentangga ini berbeda. Di simplicity tidak ada akses kepada Parbu untuk leha-leha dan manja-manja. Kesenangan bisa didapat dari sesama dayang, sopir angkot dan cantrik. Curhat-curhatan kata anak muda. Yang ada budaya belajar mendengarkan sesama. Sesama buruh maksudnya. Muncul juga semangat kebersamaan dan tidak ada sikap membeda-bedakan. Yang kepala sopir angkot merasa sama dengan kepala dan anggota cantrik. Tak mau membedakan diri dari tampilan luar. Yang kepala sopir angkot, bajunya sama dengan bosnya cantrik dan cantriknya. Kagak tamak.
Kalau dinegeri tak bernama ada slogan sang Prabu mengatasi masalah (dengan) tanpa masalah (kagak tau apa, kalau dia justru menimbulkan masalah baru!!!), di negeri simplicity, slogannya, kalau ada masalah, coba atasi sendiri, nanti kalau kagak bisa solve baru lapor sang Prabu (bisa-bisa setelah lapor sang Prabu malah tambah banyak masalah. He….he..). nah, kontras kan… beda kan? Lalu apa kesamaan hidup di dua dunia yang sangat berbeda ini? Ada beberapa kesamaan walaupun keduanya sangat berbeda dan bertolak belakang. Yang pertama. Sama-sama sedang dijalani. Yang kedua, sama-sama bisa menilai (mau dinilai gak?). yang ketiga, hanya bisa memendam rasa.
Penjelasannya begini. Yang pertama. Hidup di dua dunia yang berbeda—hedon VS sederhana, sedang dijalani. Baik oleh anggota kerajaan hedon maupun kerajaan sederhana. Mau tidak mau, suka tidak suka, semua (faktanya) harus dan sedang dijalani. Bukan tak mungkin penduduk negri hedon sedang kawin mawin dengan penduduk negeri simplicity. Toh. Itu harus tetap dijalani walaupun sangat berbeda. Dan, kadang-kadang menyakitkan. Yang kedua. Bisa menilai atau berkaca diri. Kalau di sana sperti itu, haruskah di sini juga sperti itu? Bisakah disini menjadi seperti di sana dan sebaliknya? Kalau di sana orang dengan semangat carpe diem bersenang-senang sampai kelewat batas dan sedang menuju batas akhir kemampuan untuk menikmati kesenangan yang nantinya baru disadari ketika tidak ada lagi orang yang mau ikut apalagi menolong ketika mereka mati dalam kesenangannya harus dilakukan juga disini?
Yang ketiga, dan mungkin ini sangat penting. Memendam rasa. Ternyata ketika belum masuk lingkaran hedon dengan segala kesenangan dan kemunafikannya orang rajin mengritik dan mencela lingkaran hedon, ternyata setelah masuk di dalamnya, ya podo wae (dengan berbagai alasan dan dalih). Rasa ini harus dipendam dalam-dalam dan lebih dalam bahkan ke titik terdalam yang tak terselami oleh siapapun. Ketika perasaan sudah diungkapkan tapi bersambut sebelah tangan (apa daya tangannya hanya satu?) ya sebaiknya dipendam lebih dalam dan semakin dalam jauh direlung hati dan hanya dikatakan kepada Dia yang Mahamengerti. Tokh, ketika dipendam jauh sudah dikatakan kepada yang Mahamengerti. Ekspresi sederhana khas wayang plesetannya mungkin begini,”Duh Gusti Pangeran, kawulo sampun ngupoyo ning mboten pikantuk asil. Kawulo mboten saget nindakaken punapa-napa. Namung Panjenengan ingkang ngertos napa ingkang wonten manah kawula. Kawula nyuwun pitulungan Paduka sang Pangeran (“O.. my dear God, I have done all I Can but no good thing resulted from what I did. I can not do anything anymore. But, my dear God who knows the deepest of my heart, I do beg you to offer your mighty hand to help me”)
At least, dari dua kondisi kehidupan yang berbeda tetapi nyata dalam narasi wayang plesetan ini, kita bisa merenungkan beberapa hal. Yang pertama adalah hidup, di manapun Allah menempatkan kita, selayaknya kita syukuri. Bukan tanpa maksud dan rencana Allah meletakkan kita di dua bidang kehidupan yang berbeda. Apalagi, kalau diizinkan, kita yang dari dua “negeri” yang berbeda untuk menyatu sebagai pasangan dan keluarga, pastilah hikmah di dalamnya. Walaupun, dalam proses perjalanan untuk menyatukan keduanya kadang sangat menyakitkan dan kadang ada rasa tidak dihargai dan dilecehkan. Harus kita sadari, dunia hedon dan simplicity sangat bertolak belakang. Lingkungan membentuk perilaku orang-orang yang ada di dalamnya. Bahkan, kadang-kadang, lingkungan yang dibina berdua dan bersama di luar lingkungan hedon pun seringkali ingin diubah menjadi hedon juga. Hedon kadang lebih narsis.
Kedua, menguji diri dalam hal konsistensi sikap dan tindakan. Mungkin ketika kita belum meraskan enak dan kenikmatan yang didapat oleh orang lain, mungkin, sekali lagi mungkin, kita dengan mudah menunjuk-nunjuk kenikmatan, kesenangan dan budaya orang lain tidak baik dan tidak benar. Tapi setelah kita JUGA ada dio dalamnya, masihkah kita mampu mengatakan dan berani bersikap bahwa hal itu tidak benar. Or, gampangnya, kita berusaha mencari aman dengan menjadi bunglon dengan mengajukan berbagai dalih dan alasan. Ini bukan hal gampang. Kenikmatan, pesta pora dan hura-hura selalu bisa membutakan mata batin kita. Ketika kita belum menjadi Gayus yang koruptor, kita mudah berteriak-teriak di jalanan,”Ganyang koruptor, dst…dst..!” tapi ketika kita “kecipratan” hasilnya, atau ada di dalamnya, masihkah kita berani dengan lantang dan heroik berteriak,”Aku ini koruptor”!!!
Ketiga, berani bersikap. Narasi ttg negeri hedon mengisahkan bahwa sang Prabu, dalam kebaikan hatinya, gemar mengatasi masalah dayang dan cantrik2nya (dengan) tanpa masalah. Ukuran mengatasi masalah tanpa masalah adalah ketika solusi yang ditawarkan tidak kemudian dijadikan jerat untuk mengatur-atur “dapur” orang lain. Justru merupakan penyebab masalah kalau solusi yang diberikan justru menimbulkan ketegangan dan masalah baru yang sebenarnya dampak ikutannya lebih membahayakan “dapur” dayang dan cantrik. Ketika yang solusi serampangan macam ini tidak disikapi dengan tegas, it means, we risk our own “kitchen” yang dengan segala susah payah dibangun bertahun bahkan berpuluh tahun. “Dapur” yang tidak hanya memberi kenikmatan dan kekenyangan tapi kehangatan. Penganut budaya hedon, apalagi kalau dia berada di posisi puncak, cenderung bersikap semau guwe, kalau belum bersikap menjadi tuhan. Guwe yang atur. You are not more than my robots.
Ya, apapun namanya, menurut saya, inilah hidup dan kehidupan. Ada hitam dan putih. Ada suka tidak suka. Ada airmata. Ada sukacita dan kebahagiaan. Ada kemunafikan. Selalu dua sisi. Baik dan tidak baik. Yang baik belum tentu benar. Kalau yang benar, apakah sudah tentu dan pasti baik? Segala sesuatu ada masa dan musimnya. Kesenangan dan kemampuan menikmati kesenangan ada batasnya. Kalaupun memang hidup seperti putaran roda pedati yang bisa diatas dan dibawah, itu artinya tidak ada yang mutlak. Kalau hari ini bisa jadi tuhan, lain kali pasti ada peluang untuk jadi setan. Kalau sekarang tertawa-tawa bahagia dalam kesenangan, bukan berarti besok tak ada hari yang membuat kita tak bisa menikmati kesenangan karena kita sudah benar2 mati di dalamnya baik secara jasmani dan rasa kita. Kalau sekarang kita bisa menjadi orang yang melupakan orang lain dan orang2 di dekat kita, pintu untuk menjadi orang yang dilupakan dan ditinggalkan dalam kesunyian dan nista selalu terbuka lebar. Masalahnya, kita hanya sedang tidak (mau) tahu bahwa jalan itu mengarahkan ke pintu itu. Kalau sekarang banyak orang mengumpat-umpat karena haknya dilanggar untuk membayar kesenangan kita, jangan yakin kalau detik ini atau detik-detik berikutnya mereka menjadi yang bersorak karena kejatuhan kita. Itupun kalau memang hidup memang seperti roda pedati dan karma memang terjemahannya lurus dan “kasar” seperti ini.
Ah, ini kan hanya perenungan pribadi menyikapi narasi tentang dua gaya kehidupan di dua kehidupan yang memang nyata. Ya, semua mengalami dan menjalaninya. Mungkin Anda sedang mengalami kedongkolan karena, mungkin, Anda merasa masalah yang ada di narasi ini sedang Anda alami, percayalah bahwa Anda tidak sendiri. Saya pun mengalaminya juga. Teman-teman yang lain pun sama. Masalahnya sekarang adalah, bagaimana kita menyikapinya. Menjadi manusia yang eling (ingat) dan ngelingi (mengingat) bukan nglinglingi (mengalangi) orang lain jauh lebih baik daripada kita tidak eling. Bagaimana menurut Anda? Ada baiknya kita saling berbagi. BEAT HEDONISM AND SAFE OUR “KITCHEN”. Saya tunggu responnya.

The real winner and champion is he,she or they who can master he/him/themselves and recognizing other(s) is better than he/herself. Paling tidak, inilah yang bisa kita teladani dari seorang JP Millenix, seorang peserta Indonesia Mencari Bakat yang notabene adalah dan masih seorang ana kecil dan “hijau”.
Dalam kekecilan dan “kehijauannya” seorang JP Millenix sanggup menguasai dirinya ketika dinyatakan (oleh SMS) tereleminasi dari pentas IMB. Sedih dan menitikkan airmata memang. Namun, ditengah kesedihannya karena “kekalahan” yang dialaminya dia tidak mengumpat, memaki, dan melakukan hal dan tindakan negatif diatas pentas dan di hadapan pendukung dan fansnya. Sebaliknya, yang dilakukan JP, yang seorang bocah dan “hijau” justru sebaliknya. “kekalahan” diterimanya dengan lapang dada dan sebuah tekad untuk menjadi lebih pada masa yang akan datang. Bukan hanya itu, dia dengan tidak canggung-canggung memeluk ‘rival-rival”nya yang dinyatakan lolos ke babak berikutnya. Sebuah ketulusan dari seorang bocah yang masih “hijau” dan “bau kencur”!!
Lain JP Millenix, beda pemilu kada di negeri ini. Mental juara sang JP kecil tidak dimiliki oleh sebagian besar kontestan pemilu kada-pasangan kepala daerah TK I dan TK II. Hampir selalu, setiap pemilihan kepala daerah diwarnai dengan berbagai “kegaduhan”. Macam-macam bentuknya. Mulai dari yang hanya tidak mau menandatangani berita acara, mengerahkan massa pendukung untuk memrotes dan yang lebih parah, mengotaki dan mendalangi massa pendukung untuk melakukan tindakan anarkis. Sebuah tontonan mengerikan yang tak selayaknya dan sepatutnya dipertontonkan oleh orang-orang yang mengklaim diri sebagai calon pemimin yang potensial untuk memimpin dan mengayomi masyarakat.
Jika kita hitung kembali, apapun acara pemilu langsung, bukan hanya kepala daerah, tetapi juga RI-1, bukankah yang sering dipertontonkan adalah sikap yang mencerminkan kekerdilan dalam menyikapi “kekalahan”. Dalam sebuah pertandingan dan permainan, hanya ada satu juara. Juara pertama selalu didambakan dengan berbagai motivasi dibaliknya. Tentunya tidak ada juara bersama. Hanya ada satu juara. Juara kedua dan ketiga bukan orang-orang kalah sebetulnya. Namun sayangnya, yang menjadi yang kedua dan ketiga, tidak semua, sebagian selalu sulit menerima kekalahan. Sayang. Yang lebih disayangkan juga adalah tindakan-tindakan pada masa mendatang yang dilakukan oleh oknum2 yang kedua dan yang ketiga.
Kalau saja, kita semua mau (bukan mampu) belajar dari “anak-anak bau kencur” dalam hal ketulusan dan kebesaran hati, tentunya tidak terlalu banyak kegaduhan dan saur manuk di negeri ini. Kemauan itulah kuncinya. Mau mengakui kemenangan orang atau kelompok lain dalam “pertandingan” pesta demokrasi seperti pilpres, atau pilkada. Mau memberikan selamat dan bekerjasama untuk bersama-sama membangun negeri dan kemakmuran rakyat. Bukankah semua calon maju membaw misi untuk menyejahterakan rakyat (?). kalau memang rakyat lebih memilih yang lain, itu adalah hak rakyat. Pilihan rakyat bukan bencana dan seharusnya tidak ditafsirkan seperti itu oleh pasangan calon pemimpin. Klaim sebagai orang yang mampu membawa rakyat kepada perubahan yang lebih baik seharusnya jadi satu paket dengan kemampuan dan kemauan untuk mengakui pihak lain lebih unggul serta mau bekerjasama mengupayakan kesejahteraan rakyat. Kalau JP Millenix yang “bau kencur” dan “ijo” saja bisa, kenapa yang dewasa tidak menirunya? Bukankah belajar bisa dari dan kepada siapa saja? JP, you are the real winner

Amal yang Membangkrutkan (?)

Posted: July 26, 2010 in Kritik sosial

“Kata teman kantor saya, saya kebanyakan amal mas. Itulah yang menyebabkan kondisi saya seperti sekarang ini”. Percakapan ini sunggh terjadi antara kakak dan adik yang sudah berusia paruh baya dan sedang menikmati masa pensiun. Mendengar yang dikatakan oleh si adik, sang kakak singkat menjawab,”Kalau orang banyak beramal, pasti banyak rejekinya dik.” Sungguh, ini adalah sebuah cerita nyata dan bukan rekaan. Saya juga kaget ketika mendengar cerita ini dari istri saya. “Amal bikin orang bangkrut?” saya bertanya pada diri sendiri. “Sejak kapan amal bisa bikin orang bangkrut dan sengsara hidup pada masa tuanya?”
Amal bikin orang bangkrut? Saya tidak percaya. Bagaimana pendapat Anda? Apakah memang amal yang dulu diajarkan kepada saya, tidak pernah dan tidak akan pernah membuat orang bangkrut apalgi jatuh miskin, sekarang berubah menjadi sebaliknya? Seandaninya memang benar begitu, berarti perlu ada revisi ajaran dan pengajaran atau teologi tentang amal (yang menurut saya tidak perlu dan memang tidak perlu). Apapun kepercayaan yang kita anut, tentunya kita masih tetap yakin bahwa amal tidak pernah membuat orang jatuh miskin atau sengsara bukan. Apakah memang ada ajaran yang membatasi kita beramal dan menyantuni orang-orang miskin supaya kita tidak ikutan jadi miskin. Bukankah yang diajarkan agama dan kepercayaan kita melalui pendeta, ustad, kiai, bedande dsb adalah, semakin kita beramal, semakin sejahtera lahir batin kita. Bukankah semakin banyak menabur kita akan semakin banyak menuai? Atau “hokum” ini sudah berubah dan dipaksa berubah oleh zaman?
Kembali ke “amal” yang membangkrutkan. Pertanyaan sederhana yang muncul dalam pikiran saya mendengar cerita ini adalah,”benarkah yang dilakukan oleh paman saya ini adalah amal? Ataukah yang dilakukannya adalah “amil”? Masih segar dalam benak saya adalah sebuah hokum yang diajarkan:”Kalau tangan kananmu memberi, yang kiri jangan sampai tahu.” Hukumnya adalah selalu,”Lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah.” Keyakinan terdalam saya adalah hokum ini tentu ada “ikutannya”. Tak pernah Tuhan membuat orang yang dermawan menjadi miskin karena member dan beramal (beramal dalam arti yang sesungguhnya).
Dalam kasus ini, menurut saya yang terjadi adalah amil. Dan orang yang memberti nasihat dan mengatakan bahwa amal yang terlalu banyak membuat orang menjadi miskin (miskin lahir atau miskin batin?). Teman seperti ini, menurut saya, perlu dipertanyakan kebijaksanaan dan pemahamannya tentang hukum Tuhan terutaa yang berkaitan dengan amal dan member. Bukan penasihat dan teman yang baik menurut saya. Pelu diwaspadai misinya dibalik statementnya.
Bagi saya, cerita ini sebenarnya, kalau mau jujur sejujur-jujurnya, sangat lucu. Ungkapan aneh dan nyleneh. Amil bukan amal itulah yang membuat sesorang menjadi bangkrut. Saya benar-benar tahu bagaimana orang ini mempergunakan uangnya ketika masih bekerja. Seperti apa gaya hidupnya ketika masih Berjaya. Saya akui, banyak yang diberikan kepada oranng-orang tertentu sebagai santunan. But, terlalu banyak juga yang diberikan kepada bandar arisan Rabu-an (Togel) setiap ada penarikan. Ketika uang 300 s/d 500 ribu dengan enteng “dibelanjakan” untuk membeli kupon putih setiap minggunya, apakah ini amal? Amil bukan?
Amal selamanya, menurut saya, tidak akan pernah membuat orang bangkrut. Amillah yang membuat orang bangkrut. Gesak-gesek kartu kredit secara serampangan. Bela-beli barang yang tak dibutuhkan secara tak terkendali tentunya bukan amal. Kalau diukur dan ditimbang, berat mana kira-kira, amal atau amilnya? Apakah bijak ketika sudah hidup dalam kesulitan keuangan masih saja tetap larut dalam impian muluk meraih uang dengan cara sangat mudah dengan mengotak-atik angka-angka (baca: meramal Togel)? Yang ini mah.. amil bukan amal. Amal selalu produktif. Amil yang kontraproduktif.
Amal sebagai sesuatu yang sangat mulia tidak seharusnya dan selayaknya dijadikan sebagai tameng untuk menutupi kekonyolan kita. Amal tak seharusnya dikambinghitamkan sebagai penyebab kesulitan yang kita alami. Perlu keberanian untuk bisa mengatakan dengan jujur bahwa yang menyebabkan kita mengalami kesulitan adalah amil yang kita lakukan. Bukan amal yangkita berikan kepada orang lain.
Amal dan amil memang dua hal yang berbeda. Bahkan jauh berbeda. Ada garis batas pembatas tebal antara keduanya. Sebatas opini, saya cenderung mengatakan bahwa orang tidak akan menjadi miskin karena beramal. Mungkin, opini ini salah. Menurut Anda, amal atau amil yang membuat orang sengsara?